Bitcoin Masuk Fase Krusial di Akhir Kuartal II, Aksi Jual Ritel Berlanjut di Tengah Sikap Wait and See
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Harga Bitcoin (BTC) pada perdagangan Selasa (30/6/2026) pagi waktu Asia berada di fase krusial dengan diperdagangkan di kisaran US$ 60.300. Di tengah sentimen pasar yang masih lemah, investor ritel terus melakukan aksi jual, sementara investor institusi memilih mempertahankan kepemilikan aset kripto terbesar tersebut meski belum melakukan akumulasi secara agresif.
Sentimen pasar kripto juga masih dibayangi kehati-hatian di akhir kuartal II 2026. Indeks Crypto Fear & Greed tercatat di level 36 dari 100 atau berada pada kategori fear, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap arah pergerakan pasar dalam jangka pendek.
Sepanjang Juni 2026, investor menarik dana sekitar US$4,4 miliar dari ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat, menjadi arus keluar bulanan terbesar sepanjang tahun ini. Di sisi lain, perusahaan pemegang Bitcoin korporasi seperti Strategy tetap melakukan pembelian, meski dengan volume yang lebih kecil dibandingkan periode sebelumnya.
Baca Juga
Bitcoin Berpeluang Reli pada Juli Didukung Pola Historis dan Sinyal Teknikal
Di pasar derivatif, proses pelepasan posisi (deleveraging) berlangsung secara bertahap. Total open interest kontrak berjangka Bitcoin turun menjadi US$19,92 miliar dari sekitar US$20,1 miliar dua pekan sebelumnya. Penurunan tersebut dinilai lebih mencerminkan pengurangan risiko oleh pelaku pasar dibandingkan aksi jual panik.
Sementara itu, biaya pendanaan (funding rate) untuk mempertahankan posisi beli (long) juga turun dari 0,25% menjadi 0,12%, mengindikasikan tekanan likuidasi mulai mereda meski pelaku pasar masih berharap adanya pemulihan harga.
Baca Juga
Dipicu Sentimen Suku Bunga AS dan Tekanan Likuidasi, Bitcoin Kembali Terkoreksi di Bawah US$ 60.000
Dilansir dari Cointelegraph, Selasa (30/6/2026) analis menilai level US$58.800 menjadi area krusial bagi Bitcoin. Apabila harga turun menembus level tersebut, sekitar US$500 juta posisi long berpotensi mengalami likuidasi yang dapat mendorong harga turun menuju kisaran US$56.000.
Di sisi lain, peluang pemulihan masih terbuka apabila Bitcoin mampu kembali menembus level US$62.000. Namun, arah pergerakan harga dalam waktu dekat diperkirakan masih akan dipengaruhi sentimen makroekonomi global, termasuk rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat serta perkembangan geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi meningkatkan volatilitas pasar aset berisiko.
