Lewat Penyempurnaan Credit Scoring dan Pendekatan Aktif ke Nasabah, Amar Bank (AMAR) Tekan NPL Jadi 0,86% di Kuartal I 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Bank Amar Indonesia Tbk atau Amar Bank (AMAR) berhasil menekan rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) menjadi 0,86% pada kuartal I 2026, membaik dibanding periode yang sama tahun lalu yang mencapai 1,48%.
Special Project Retail Banking Function Head Amar Bank Benyamin Tampubolon mengungkapkan, penurunan NPL tersebut ditopang oleh penguatan proses underwriting berbasis teknologi, khususnya pada produk pinjaman digital Tunaiku.
“Salah satu bagian komponen krusial dari sistem tersebut adalah credit scoring yang senantiasa kami update atau kami lakukan refinement (perbaikan) secara berkala dengan mempertimbangkan tren perilaku yang paling baru-baru,” ujarnya, menjawab pertanyaan Investortrust, dalam Public Expose Amar Bank Kuartal I 2026, di Jakarta, Kamis (18/6/2026).
Baca Juga
Laba Bersih Amar Bank (AMAR) Tumbuh 5,37% Jadi Rp 71,12 Miliar di Kuartal I 2026
Menurut Benyamin, penyempurnaan model credit scoring menjadi faktor utama yang mendukung perbaikan kualitas aset perseroan. Dengan pembaruan yang dilakukan secara berkelanjutan, Amar Bank dapat lebih akurat dalam menilai profil risiko calon debitur.
Selain memperkuat sistem penilaian kredit, bank berkode saham AMAR ini juga menerapkan pendekatan komunikasi yang aktif kepada nasabah. Langkah tersebut dilakukan untuk membangun hubungan yang lebih baik sekaligus membantu nasabah menjaga kualitas pembayaran pinjaman.
Benyamin menambahkan, capaian NPL sebesar 0,86% juga diperoleh dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian. Perseroan tetap membentuk cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) secara konservatif guna mengantisipasi berbagai risiko yang mungkin muncul.
“Menunjukkan tingkat kepercayaan kami yang sangat tinggi atas profitabilitas kami ke depannya,” katanya.
Baca Juga
Tumbuh 5,37%, Amar Bank (AMAR) Cetak Laba Rp 71 Miliar di Kuartal I 2026
Meski lebih dari 5% portofolio kredit Amar Bank disalurkan ke sektur usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), Benyamin menilai segmen tersebut memiliki daya tahan yang cukup baik di tengah tekanan ekonomi dan pelemahan daya beli masyarakat.
Ia mengakui, UMKM merupakan kelompok yang relatif cepat terdampak oleh inflasi maupun perlambatan ekonomi. Namun, pelaku usaha kecil pada umumnya memiliki fleksibilitas yang lebih tinggi dalam beradaptasi dibandingkan perusahaan berskala besar.
“UMKM, betul mereka juga sebagian dari mereka tergantung dari sektornya, mereka terpengaruh paling pertama terhadap inflasi. Kalau dia perusahaan yang besar, finance cost-nya besar, itu lumayan susah, berbeda dengan UMKM yang rata-rata itu solopreneur hanya diurus satu orang aja atau dengan keluarga,” ucapnya.
“Mereka punya metode bertahan yang berbeda dan kami cukup salut sih kalau ketemu mereka, mereka resilien di tengah kondisi ekonomi ini mereka resilien sekali,” sambung Benyamin.
