Begini Upaya Bank Sampoerna Jaga NPL di Tengah Ketidakpastian Ekonomi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Di tengah kondisi ekonomi yang masih menantang, PT Bank Sahabat Sampoerna (Bank Sampoerna) terus berkomitmen menjaga kualitas kredit atau non performing loan (NPL).
Direktur Information Technology Bank Sampoerna Hendra Rahardja mengungkapkan, pihaknya terus memperkuat prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit guna menjaga kualitas aset di tengah kondisi ekonomi yang masih diliputi ketidakpastian.
“Kuartal I 2026 NPL net di 2,7%, masih terjaga sesuai koridor. (Pendorongnya) kehati-hatian pemberian loan (kredit) yang baru, terus kita ada pencadangan juga kan aman,” ujarnya, menjawab pertanyaan Investortrust, dalam Undangan Makan Siang Bersama dengan sejumlah media, di Jakarta, Rabu (17/6/2026).
Menurut Hendra, risiko kredit menjadi perhatian utama di tengah kondisi ekonomi yang menantang. Karena itu, Bank Sampoerna lebih selektif dalam menyalurkan kredit dan tidak serta-merta mengejar pertumbuhan pembiayaan.
“Situasi seram kan tiba-tiba lending (kredit) naik tapi kualitasnya tidak bagus, kan (akhirnya) kenda di NPL. Untungnya kita cukup prudent, makanya kita memang secara aset naik year on year (yoy), lending-nya agak turun,” katanya.
Baca Juga
Hendra menjelaskan, Bank Sampoerna juga secara aktif melakukan pengelolaan kredit bermasalah melalui pencadangan, restrukturisasi, hingga penghapusbukuan (write off) apabila debitur sudah tidak memiliki kemampuan untuk memenuhi kewajibannya.
Selain itu, lanjut dia, Bank Sampoerna juga menerapkan strategi diversifikasi portofolio kredit untuk menjaga kualitas aset. Langkah tersebut dilakukan dengan menyeimbangkan eksposur kredit pada segmen UMKM dan segmen wholesale.
“Kita juga lakukan diversifikasi segmen. Jadi waktu kapan itu kita RPIM (Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial)-nya sempat di 64%. Kalau memang UMKM (usaha mikro kecil dan menengah) lagi agak beresolusi dan berubah dinamis, ya kita coba balance dengan wholesales, dan lainnya,” ucap Hendra.
Ia menilai, karakteristik sektor usaha UMKM terus berubah mengikuti arah kebijakan pemerintah dan perkembangan ekonomi. Karena itu, bank harus mampu beradaptasi dalam menentukan sektor-sektor yang layak mendapatkan pembiayaan.
Baca Juga
Lebih lanjut, Hendra optimistis rasio NPL Bank Sampoerna hingga akhir tahun 2026 tetap dapat dijaga di kisaran level tahub sebelumnya, yaitu sekitar 3%.
“Tahun lalu (NPL di 2025) kita sekitar 3%. Kalau kita proper ada pencadangan, CKPN (cadangan kerugian penurunan nilai), begitu memang ada NPL kita tutup jadikan AYDA (aset yang diambil alih), kita write off,” ujarnya.
