Catat NPL 4%, Bank Sampoerna Lakukan Ini Agar Kredit Bermasalah Tak Makin Bengkak
JAKARTA, investortrust.id - PT Bank Sahabat Sampoerna (Bank Sampoerna) mencatatkan rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) di kisaran level 4% pada 2024. Angka ini lebih tinggi dibandingkan NPL industri perbankan secara rata-rata di tahun lalu yang berada di level 2,08%.
Chief Digital Business Bank Sampoerna Ivan Giarto mengungkapkan, tingginya NPL tidak terlepas dari fokus bisnis dari pihaknya yang menyasar sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Dalam menyalurkan kredit di segmen ini, Bank Sampoerna menghadapi tantangan.
“Memang kalau UMKM itu high risk high return, NPL tinggi tapi juga rata-rata bunga yang dikenakan juga tinggi. Tidak bisa dibandingkan ke komersial, wholesale, SME (small medium enterprise), yang mungkin di kisaran 12%-an. Mungkin kalau kita main di 16%-an ke atas,” ujarnya, menjawab pertanyaan Investortrust, dalam acara Buka Puasa Bersama Sejumlah Media, yang digelar Bank Sampoerna, di Jakarta, Kamis (20/3/2025).
Baca Juga
Dorong Literasi dan Inklusi Keuangan, Bank Sampoerna Gelar Sampoerna Fest 2025
Untuk menjaga NPL agar tidak semakin membengkak, lanjut Ivan, Bank Sampoerna menerapkan sejumlah strategi. Mulai dari melakukan hal yang standar seperti peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) di internal bank, memperbaiki proses penagihan (collection), dan meningkatkan portofolio kredit.
“Mengingat CAR (capital adequacy ratio) kita itu masih tinggi karena kita baru meningkatkan modal ke Rp 3 triliun itu di 2020 akhir. Jadi secara tingkat kredit memang kita masih ada fokus untuk meningkatkan kredit sehingga perlahan NPL juga bisa turun,” katanya.
Baca Juga
Bank Sampoerna Kucurkan Kredit Rp 12,4 Triliun hingga September 2024
Selain itu, upaya lain yang dilakukan Bank Sampoerna adalah mendiversifikasi bisnisnya dengan memperluas segmen kredit. Jika sebelumnya mayoritas fokus ke UMKM, kini bank mulai merambah ke segmen komersial yang mereka sebut dengan premium SME.
“Jadi kita bilangnya premium SME, mungkin tidak di level corporate banking di level BCA, Mandiri, dan sebagainya. Tapi lebih di sisi komersial seperti di bank-bank tersebut,” ucap Ivan.
Terlepas dari itu, hingga akhir 2024 Bank Sampoerna berhasil menyalurkan kredit mencapai Rp 12 triliun (unaudited), dengan mayoritasnya atau sekitar 60% disalurkan ke sektor UMKM. Penyaluran tersebut dilakukan melalui cabang-cabang yang dimiliki serta sejumlah kemitraan yang sudah terjalin dengan pihak lain.
Corporate Communications and Investor Relations Head Bank Sampoerna Ridy Sudarma mengatakan, pertumbuhan total kredit yang ditorehkan pihaknya memang masih berada di bawah rata-rata industri yaitu 7,83% pada 2024. Namun begitu, untuk kredit di segmen UMKM pihaknya mampu melampaui pertumbuhan rata-rata industri perbankan yang berada di kisaran 4%.
“Kredit Bank Sampoerna ke sektor UMKM tumbuh 6%, tapi angkanya masih di audit,” ujar Ridy.

