Konflik Timur Tengah Reda, BCA Syariah Optimis Indonesia Tetap Jadi Magnet Investor Asing
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Kabar baik dari kancah geopolitik global membawa angin segar bagi perekonomian dunia. Setelah lebih dari 100 hari dilanda kecamuk perang yang mengguncang kawasan Timur Tengah, Amerika Serikat (AS) dan Iran akhirnya menyepakati kerangka perdamaian.
Presiden AS Donald Trump resmi mengumumkan penghentian konflik serta pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran krusial yang mengalirkan sekitar 20% perdagangan minyak dunia. Redanya tensi global ini diharapkan mampu memicu stabilitas ekonomi yang lebih kuat, termasuk bagi pasar negara berkembang seperti Indonesia.
Merespons dinamika tersebut, Presiden Direktur BCA Syariah Yuli Melati Suryaningrum menyatakan optimisme besarnya terhadap daya tahan ekonomi domestik. Menurutnya, Indonesia tetap menjadi daya tarik utama bagi investor asing karena potensi pasarnya yang sangat besar di berbagai lapisan masyarakat.
"Tentu tantangannya banyak ya, terutama juga bagaimana untuk terus mencermati kondisi ekonomi ya. Khususnya menengah, kalau menengah, menengah bawah dan sebagainya. Tapi tetep kok kita optimis ya, karena bagaimanapun juga Indonesia masih, orang luar saja masih melihat kita sebagai pasar yang potensial ya. Tentu kita sendiri yang ada di dalam negeri lebih tahu apa-apa saja yang tepat, terutama untuk nasabah. Jadi prospek masih ada," ujar Yuli saat ditemui usai acara Media Gathering BCA Syariah – Sinergi Inklusivitas Bersama Masjid Istiqlal di Jakarta, Senin (15/6/2026).
Baca Juga
Meski demikian, Yuli mengingatkan agar pelaku industri keuangan tidak lengah dan tetap tanggap dalam mencermati setiap dinamika yang terjadi.
Selain faktor global, industri perbankan saat ini juga tengah diuji oleh tantangan dari dalam negeri, salah satunya adalah tren kenaikan suku bunga acuan atau BI Rate. Yuli tidak menampik bahwa kebijakan pengetatan moneter dari Bank Indonesia tersebut secara langsung memberikan tekanan terhadap pos biaya dana (cost of fund) perbankan.
"Pasti ada dong, pasti ada (dampaknya ke biaya dana)," ungkap Yuli.
Kendati demikian, BCA Syariah memandang kebijakan tersebut sebagai langkah yang diperlukan demi menjaga stabilitas makroekonomi nasional. Guna menyiasati lonjakan biaya dana, Yuli menekankan pentingnya kelincahan perbankan dalam memutar otak dan mencari alternatif pendanaan yang efisien.
Baca Juga
Perkuat Ekosistem Halal, BCA Syariah Resmikan UI Halal Training Center
Untuk mengantisipasi tantangan ini, BCA Syariah akan fokus pada dua strategi utama, yaitu menggenjot perolehan sumber dana murah (CASA) untuk menekan biaya dan meningkatkan inisiatif baru guna menjaring dan mempertahankan nasabah.
"Memang kita harus mengikuti ya. Apapun kan memang untuk kebaikan negara ini. Cuma bagi bank-bank ini, tentulah kita tetap mencari sumber-sumber dana yang murah, kemudian harus lebih banyak lagi inisiatifnya, kreativitasnya untuk menjaring nasabah-nasabah. Harus kreatif, kreatif, harus lebih kreatif," pungkasnya.
