Ketahanan Finansial Rapuh, 80% Masyarakat Tertekan Biaya Hidup
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Kenaikan biaya hidup masih menjadi tantangan terbesar bagi mayoritas masyarakat Indonesia. Survei Financial Resilience Index 2026 yang dirilis Sun Life Indonesia menunjukkan, delapan dari 10 masyarakat merasakan tekanan akibat meningkatnya biaya hidup, sementara ketahanan finansial rumah tangga dinilai masih belum merata.
President Director Sun Life Indonesia Albertus Wiroyo mengatakan, temuan tersebut menunjukkan bagaimana masyarakat berupaya menyeimbangkan kebutuhan finansial saat ini dengan tujuan keuangan jangka panjang.
“Di tengah perubahan kondisi ekonomi, kesiapan finansial menjadi kunci utama untuk membangun ketahanan finansial. Di sinilah peran mitra keuangan yang dapat dipercaya menjadi semakin penting untuk memberikan rasa tenang dalam menghadapi ketidakpastian saat ini sekaligus membantu merencanakan masa depan,” ujarnya, dalam keterangan pers, Rabu (10/6/2026).
Studi yang dilakukan Sun Life Indonesia bersama Genpop pada April 2026 terhadap 1.000 responden berusia 18 tahun ke atas di seluruh Indonesia menemukan sebanyak 80% responden mengaku terdampak oleh kenaikan biaya hidup. Kondisi itu turut mempengaruhi kemampuan masyarakat dalam merencanakan dan menjaga kesehatan keuangan mereka.
Hasil survei menunjukkan hanya 14% responden yang merasa sangat aman secara finansial. Sementara, hanya 45% yang menyatakan mampu bertahan lebih dari enam bulan jika kehilangan sumber pendapatan. Temuan ini mengindikasikan bahwa sebagian besar rumah tangga masih memiliki bantalan keuangan yang terbatas untuk menghadapi situasi darurat.
Walau terjadi peningkatan jumlah masyarakat yang masuk kategori sangat tangguh finansial dari 30% menjadi 34%, Sun Life menilai pemulihan kondisi keuangan belum berlangsung merata. Penurunan pada kelompok menengah justru menyebabkan proporsi rumah tangga yang tergolong rentan meningkat.
Tekanan ekonomi juga mendorong masyarakat lebih fokus pada kebutuhan jangka pendek. Sebanyak 48% responden mengaku belum memiliki perencanaan keuangan jangka panjang atau hanya merencanakan kondisi keuangan hingga satu tahun ke depan.
Bahkan, 56% responden menempatkan pengelolaan pengeluaran sehari-hari sebagai prioritas utama dalam 12 bulan mendatang, melampaui target menabung maupun investasi.
Survei juga menemukan, kenaikan biaya hidup menjadi hambatan terbesar dalam upaya memperbaiki kondisi keuangan bagi 30% responden. Angka ini lebih tinggi dibandingkan faktor pendapatan yang tidak stabil maupun keterbatasan pengetahuan keuangan.
Untuk menyesuaikan diri dengan tekanan biaya hidup, masyarakat mengambil berbagai langkah jangka pendek. Sebanyak 23% responden menggunakan tabungan yang dimiliki, 26% mengurangi atau menunda pengeluaran kebutuhan penting, sementara 5% memilih menunda kontribusi dana pensiun.
Langkah-langkah tersebut, kata Albertus, dapat membantu dalam kondisi jangka pendek, namun berpotensi mengganggu kesiapan finansial pada masa depan.
Baca Juga
Waspada Pelemahan Daya Beli, Outstanding Paylater Tembus Rp 56,3 Triliun
Literasi Kunci Ketahanan Finansial
Survei menyatakan, literasi keuangan menjadi faktor pembeda utama dalam membangun ketahanan finansial. Individu dengan tingkat literasi keuangan yang baik tercatat memiliki kepercayaan finansial lebih tinggi, lebih siap menghadapi kenaikan biaya hidup, serta lebih optimistis terhadap kondisi keuangan mereka di masa mendatang.
Manfaat perencanaan keuangan jangka panjang juga terlihat signifikan. Sebanyak 86% responden yang memiliki rencana keuangan jangka panjang merasa yakin dapat mencapai tujuan finansialnya, dibandingkan hanya 25% pada kelompok yang tidak memiliki perencanaan.
Selain itu, 78% dari kelompok tersebut mengaku siap menghadapi kondisi darurat keuangan, jauh lebih tinggi dibandingkan 13% pada kelompok tanpa perencanaan.
“Temuan ini menunjukkan bahwa literasi keuangan tidak hanya meningkatkan kepercayaan diri, tapi juga membentuk cara seseorang merespon tekanan ekonomi. Di tengah kenaikan biaya hidup, kemampuan untuk mengevaluasi plihan, memprioritaskan pengeluaran, dan merencanakan ke depan menjadi semakin penting,” kata Albertus.
Baca Juga
Kepercayaan Konsumen Melemah, Mirae Asset Soroti Pola Belanja Makin Defensif
Pemanfaatan AI Semakin Masif
Di lain sisi, studi juga mencatat semakin luasnya pemanfaatan teknologi berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam pengelolaan keuangan. Sebanyak 68% responden mengaku menggunakan generative AI untuk mencari informasi dan panduan keuangan, sementara 67% memperkirakan penggunaan teknologi tersebut meningkat dalam 12 bulan ke depan.
Meski begitu, Sun Life menilai literasi keuangan tetap menjadi fondasi utama dalam memanfaatkan teknologi secara optimal. Tingginya adopsi AI justru ditemukan pada kelompok masyarakat yang memiliki tingkat literasi keuangan lebih baik.
Albertus menyatakan, teknologi tak menggantikan peran penasihat keuangan profesional, melainkan menjadi pelengkap dalam membantu masyarakat mengambil keputusan yang lebih tepat.
“Penguatan fondasi ini tetap penting agar individu dapat mengevaluasi informasi secara kritis, mengambil keputusan yang tepat, serta menavigasi lanskap keuangan yang semakin kompleks menuju ketahanan finansial yang lebih baik,” katanya.
“Secara keseluruhan, tiga temuan utama ini menunjukkan gambaran yang konsisten bahwa masyarakat Indonesia tengah menghadapi tekanan finansial yang nyata, literasi keuangan menjadi kunci utama ketahanan, dan teknologi semakin mengubah cara masyarakat mencari bantuan dalam mengelola keuangan,” sambung Albertus.
