Ketahanan Finansial Gen Z Paling Rapuh, Ini Penyebabnya
JAKARTA, investortrust.id - Sun Life Indonesia merilis edisi kedua Sun Life Asia Financial Resilience Index: Balancing Today’s Needs and Tomorrow’s Goals yang menjelaskan bagaimana masyarakat Indonesia mengelola keuangan. Dalam riset ini, Gen Z dikategorikan sebagai kelompok yang memiliki ketahanan finansial paling rapuh akibat tekanan biaya hidup.
Generasi Z atau Gen Z adalah generasi yang lahir pada 1997 hingga 2012. Sedangkan Milenial (Gen Y) lahir pada 1981 sampai 1996. Sementara itu, Baby Boomer lahir antara 1946 dan 1964, tepatnya setelah Perang Dunia II berakhir. Adapun Gen Alpha lahir pada 2010 hingga 2024.
Meski terjadi sedikit peningkatan dalam persepsi terhadap kemapanan finansial secara keseluruhan, laporan ini mengungkapkan adanya kesenjangan ketahanan finansial yang signifikan antargenerasi. Gen-Z tercatat sebagai kelompok paling rentan secara finansial dan memiliki ketahanan jangka panjang terendah.
Baca Juga
Pengguna Pay Later Didominasi Gen Z, OJK Soroti Pentingnya Mengelola Keuangan
Laporan itu menyebutkan, 63% responden Baby Boomer merasa aman secara finansial, jauh di atas Gen-Z (49%). Gen-Z menunjukkan tingkat kepercayaan diri dan kematangan perencanaan finansial yang paling rendah di antara seluruh kelompok usia, yakni hanya 49% dari mereka yang merasa aman secara finansial, dibandingkan 61% Milenial dan 63% Baby Boomer.
Selain itu, menurut Sun Life Indonesia, 58% Gen-Z menyebut diri mereka sebagai investor konservatif. Hal ini menunjukkan kecenderungan untuk menghindari risiko dan kemungkinan kurangnya pemahaman terhadap pentingnya menyeimbangkan risiko dan imbal hasil jangka panjang.
“Gen Z memiliki waktu yang panjang untuk merancang masa depan keuangan mereka, tetapi banyak dari mereka justru diliputi kekhawatiran dan keraguan,” ucap Chief Client and Distribution Officer Sun Life Indonesia, Kah jing Lee dalam keterangan tertulisnya, Jumat (27/6/2025).
Era Penuh Ketidakpastian
Lee menjelaskan, Gen Z tumbuh dalam era ekonomi yang penuh ketidakpastian dan tekanan biaya hidup yang tinggi. Meningkatkan literasi finansial serta memperluas akses terhadap informasi terpercaya dapat menjadi kunci membantu mereka membangun ketahanan finansial jangka panjang.
Berdasarkan laporan tersebut, dalam kondisi ekonomi yang tidak menentu, menabung untuk dana darurat kini menjadi prioritas kedua yang paling penting (42%). Namun, kesiapan masyarakat untuk membangun ketahanan finansial jangka panjang masih tergolong rendah.
Lebih dari separuh responden (55%), kata Lee, belum memiliki rencana keuangan lebih dari 12 bulan ke depan, dan hanya 9% yang mempersiapkan rencana keuangan hingga lebih dari 10 tahun ke depan. Angka ini menandakan masih minimnya perencanaan jangka panjang yang dibutuhkan untuk mencapai ketahanan finansial yang berkelanjutan.
Baca Juga
Jumlah Investor Pasar Modal Tembus 14,81 Juta, 79% Gen Z dan Milenial
Kah jing Lee mengemukakan, laporan ini memperlihatkan adanya kesenjangan yang semakin jelas antara mereka yang secara aktif merencanakan masa depan finansialnya dan mereka yang masih terjebak pemenuhi kebutuhan sehari-hari. Di tengah situasi ekonomi yang penuh tantangan, literasi dan perencanaan keuangan menjadi semakin penting.
“Karena itu, Sun Life hadir dan berkomitmen untuk menyediakan panduan serta solusi keuangan yang relevan agar masyarakat Indonesia dapat mengelola keuangan mereka dengan lebih percaya diri,” ujar dia.

