Emiten Indonesia Cenderung Rapuh, Ini Penyebabnya
JAKARTA, investortrust.id – Perusahaan jasa konsultansi strategi global, Alvarez & Marsal (A&M), mengungkapkan, kondisi emiten atau perusahaan yang sahamnya tercatat di bursa (listed company) di Indonesia secara umum cenderung terlihat rapuh.
“Sebanyak 44% emiten berpeluang besarmelakukan perbaikan, 19% membutuhkan peningkatan kinerja keuangan, 9% perlu mengatasi kinerja operasional, dan 14% membutuhkan perbaikan secara simultan pada kedua area tersebut,” kata Managing Director A&M Indonesia, Alessandro Gazzini pada peluncuram A&M Distress Alert (ADA) pertama untuk Indonesia di Jakarta, Kamis (18/01/2024).
Menurut Alessandro, laporan ADA berperan sebagai pengingat untuk mendorong tindakan segera guna meningkatkan kinerja keuangan dan meningkatkan efisiensi operasional. “A&M siap membantu perusahaan dalam menghadapi situasi sulit dan mencapai pertumbuhan berkelanjutan,” ujar dia.
Baca Juga
Alessandro Gazzini menjelaskan,44% lebih perusahaan mengalami kesulitan pada 2022, kondisi yang sesungguhnya dialami tiga tahun sebelumnya. Dari jumlah itu, hanya 32% yang kembali ke status semula.
Hal ini, kata Alessandro Gazzini, berbanding terbalik dengan negara yang ekonominya lebih maju, seperti Inggris. Di negara itu, hanya 24% perusahaan tertekan dalam kurun waktu tiga tahun, dan 65% di antaranya telah kembali ke status semula.
“Penyebab utama tekanan tampaknya adalah neraca keuangan dan struktur modal yang melemah, bukan karena kinerja operasional yang terganggu,” tutur dia.
Alessandro mengemukakan, sebesar 22% dari perusahaan mengalami tekanan pada 2022 memiliki skor ketahanan neraca yang rendah dalam tiga tahun sebelumnya.
Baca Juga
BEI Optimistis Capai 1.000 Emiten Tahun 2024, Apakah Realistis?
Tren yang mengkhawatirkan itu, menurut dia, diperparah oleh kondisi suku bunga yang tinggi saat ini. Hal itu menimbulkan tantangan serius bagi perusahaan untuk mencari pembiayaan baru.
“Analisis ADA juga mengidentifikasi adanya tekanan di tiga sektor yang paling terpapar, yakni sektor pertambangan logam dan nonbatubara, ritel dan transportasi, serta infrastruktur dan konstruksi,” papar dia.

