Manulife Sebut Naiknya Biaya Kesehatan Picu Tekanan Finansial di Masyarakat
JAKARTA, investortrust.id - Dalam survei terbaru dari Manulife bertajuk Manulife Asia Care Survey 2024 terkuak bahwa meningkatnya biaya perawatan kesehatan memberikan dampak terhadap tekanan finansial di masyarakat.
Menurut Presiden Direktur & CEO Manulife Indonesia Ryan Charland, meningkatnya kebutuhan perawatan dan permintaan layanan kesehatan berpotensi membuat harga-harga yang berkaitan dengan medis juga naik lebih cepat, bahkan mengungguli inflasi ekonomi secara keseluruhan.
“Menemukan solusi untuk mengurangi dampak inflasi merupakan salah satu fokus kami,” ujar dia, dalam keterangannya, Jumat (23/8/2024).
Baca Juga
BRI Gandeng Manulife Permudah Pembayaran Premi Nasabah Asuransi
Survei yang melibatkan 1.054 responden di Indonesia ini memakai MyFuture Readiness Index (indeks kesiapan masa depan) yang mengukur persepsi masyarakat terhadap kesejahteraan fisik, mental, dan finansial mereka saat ini dan di masa depan.
Ryan mengungkapkan, para responden khawatir prospek kesehatannya memburuk di usia tua, ditambah biaya medis yang makin meningkat. Dari semua responden, 67% diantaranya menyatakan kenaikan biaya perawatan kesehatan merupakan tantangan utama bagi kesejahteraan finansial mereka secara keseluruhan.
Baca Juga
Laba Komprehensif Melesat, Premi Manulife Justru Terkontraksi 5,24%
”Mereka mengakui bahwa kesehatan fisik merupakan faktor terpenting (37%) yang berdampak pada kesejahteraan finansial (33%) dan material (31%) saat mereka memandang 10 tahun ke depan,” katanya.
Kemudian, dari total responden yang di survei, 80% diantaranya memiliki asuransi. Dari persentase tersebut, 40% diantaranya mengaku memiliki asuransi kesehatan. Namun, mereka yang masih lajang memiliki lebih sedikit produk tabungan, lebih sedikit asuransi, dan tidak memiliki investasi dibanding sebanyak mereka yang telah menikah.
“Merupakan tanggung jawab kami untuk membantu masyarakat lebih memahami asuransi dan investasi lainnya, agar bisa melindungi dan mengembangkan tabungan mereka untuk masa depan,” ucap Ryan.
Survei juga mengungkapkan, persepsi responden terhadap inflasi biaya perawatan selama 12 bulan terakhir meningkat sebesar 26%, di atas rata-rata negara di Asia yang hanya naik 23%. Sebanyak 67% responden sangat khawatir dengan kenaikan harga pada resep obat, 42% khawatir perawatan kesehatan untuk pencegahan, dan 41% untuk rawat inap.
“Survei ini menunjukan adanya kebutuhan bagi masyarakat Indonesia untuk merencanakan perlindungan kesehatan yang lebih baik, dan perusahaan asuransi memiliki peran penting untuk membantu mereka,” ucap Ryan.

