BRI (BBRI) Perkuat Stress Testing dan Mitigasi Risiko di Tengah Ketidakpastian Ekonomi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI (BBRI) terus memperkuat langkah mitigasi risiko di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global dan domestik. Salah satu upaya yang dilakukan adalah meningkatkan frekuensi pelaksanaan stress testing guna mengantisipasi berbagai potensi risiko yang dapat mempengaruhi kinerja dan keberlanjutan usaha.
Group Head Enterprise & Market Risk BRI Wita Adriawati mengungkapkan, pihaknya secara rutin melakukan stress testing dengan berbagai skenario untuk mengukur ketahanan perusahaan dalam menghadapi perubahan kondisi ekonomi.
“Pastinya kita lakukan stress testing dengan multiple scenario. Terus dari multiple scenario itu, kita harus sudah menyediakan bagaimana langkah yang harus dilakukan agar kembali biasanya targetnya sesuai dengan RKAP (rencana kerja dan anggaran perusahaan) atau mendekati RKAP,” ujarnya, dalam iLearn Thematic Webinar bertajuk Risk Intelligence and Sovereignty: Building Resilient Financial Ecosystems in an Uncertain World, Rabu (10/6/2026).
Baca Juga
Pasca BI Rate Naik Jadi 5,50%, BRI (BBRI) Pastikan Fungsi Intermediasi Tetap Berjalan Optimal
Hasil stress testing tersebut, lanjut Wita, menjadi dasar dalam menentukan langkah mitigasi yang diperlukan. Sebagai contoh, apabila terjadi peningkatan rasio kredit macet atau non performing loan (NPL), maka BRI akan mempercepat langkah restrukturisasi maupun strategi pengelolaan portofolio kredit lainnya.
Ia menjelaskan, di tengah tingginya volatilitas ekonomi saat ini, frekuensi pelaksanaan stress testing juga ditingkatkan dibandingkan kondisi normal.
“Kita ada regular stress test. Yang tadinya mungkin every three months, ini mungkin every by weekly, every two weeks atau every month. Cuman memang dan juga sebenarnya variasi makroekonominya ini agak berbeda dengan normal sebelumnya,” kata Wita.
Baca Juga
Rupiah Tembus Rp 18.000, OJK Pastikan Industri Perbankan Aman dan Bebas Isu 'Rush'
Selain memperkuat pemantauan risiko, bank berkode saham BBRI ini juga telah menyiapkan berbagai langkah antisipatif melalui recovery plan yang menjadi kewajiban industri perbankan sesuai ketentuan regulator. Di samping itu, BRI juga memiliki contingency plan yang disusun sesuai arahan Kementerian BUMN.
“Jadi, itu sebenarnya bagian dari kita sudah menyiapkan, sudah antisipatif terhadap risiko ke depan, di mana di sana sudah tercantum kondisi-kondisi yang akan menyebabkan kondisi kita itu berpengaruh kepada, terutama bukan hanya kita pikirkan RKAP, tapi lebih ke keberlanjutan usaha,” ucap Wita.
Ia menambahkan, dalam industri perbankan, aspek yang menjadi perhatian utama dalam skenario pemulihan adalah likuiditas dan permodalan. Oleh karena itu, berbagai rencana aksi telah disiapkan secara rinci untuk memastikan ketahanan terhadap tekanan ekonomi yang lebih besar.
“Kalau misalnya bank itu biasanya yang dilihat adalah likuiditas dan juga permodalan, di situ juga sudah termasuk dokumen itu juga sudah include langkah yang akan kita lakukan. Apa saja yang harus dilakukan oleh perbankan ataupun perusahaan lain? Di mana kan kalau kami disini perbankan akan submit ke OJK (Otoritas Jasa Keuangan), mungkin yang non-perbankan, yang BUMN kan kemarin sudah pernah kita submit juga ke Kementerian BUMN,” ujar Wita.
