Sanitasi dan Air Minum Indonesia Terburuk Ketiga di ASEAN, BRIN Beberkan Masalahnya
JAKARTA, investortrust.id - Berdasarkan laporan yang dimuat Indeks Kinerja Lingkungan (Environmental Performance Index/EPI) 2022, Indonesia menempati posisi yang cukup rendah perihal ketersediaan air minum dan sanitasi. Sebab, Indonesia ada di peringkat ke-125 dari 180 negara.
Bahkan jika hanya mengambil fokus di ASEAN, Indonesia menempati posisi tiga terbawah dengan skor 28,5. Peringkat Indonesia hanya lebih baik dari Timor Leste dan Laos. Sementara posisi pertama di ASEAN dipegang oleh Singapura dengan skor 93,3.
Deputi Bidang Kebijakan Pembangunan BRIN, Mego Pinandito mengakui, tidak mudah bagi Indonesia untuk bisa sepenuhnya menyediakan sanitasi dan air minum yang berkualitas. Salah satu faktornya karena Indonesia merupakan negara besar yang memiliki banyak sekali pulau.
Baca Juga
“Memang ini menjadi hal yang rumit karena kita negara kepulauan. Nah ini menjadi tantangan jika dibandingkan dengan Timor Leste dan Laos yang wilayah negaranya kecil,” ujar Mego Pinandito dalam Konferensi Pers Riset dan Inovasi, Solusi Krisis Air, Rabu (13/3/2024).
Mego Pinandito menyebutkan, Indonesia sebetulnya memiliki wilayah yang airnya masih jernih dan tidak terkontaminasi, yakni di daerah-daerah pedesaan. Namun, terdapat tantangan di kota-kota besar dengan penduduk yang padat.
“Terkait air tanah, kalau kita melihat kondisi di kota-kota besar dengan kepadatan penduduk yang tinggi, kemudian kebutuhan-kebutuhannya, maka ada dua, pertama bagaimana kita melihat dari sisi sanitasi, misalnya kamar mandi dengan WC apakah sudah menggunakan septic tank,” jelasnya.
Baca Juga
Tinjau Jaringan Perpipaan Transmisi Air Minum IKN, Menteri PUPR Bilang Begini
Mego Pinandito memaparkan, penggunaan septic tank menjadi sangat penting karena itu berkaitan dengan penggunaan air tanah yang bisa menyebabkan sumber air tidak higenis, sehingga tercemar dengan berbagai macam bakteri.
“Kemudian yang paling penting adalah bagaimana pengembangan PDAM, sistem air bersih itu dengan pipa. Sehingga yang dibutuhkan nantinya satu PDAM yang cukup besar yang mampu dalam konteks pengelolaan sumber air bersih untuk perkotaan,” jelasnya.

