Arcandra Tahar: Publik Keliru Kaitkan Cuaca Ekstrem dengan Emisi GRK
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Mantan Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar menyoroti kesalahpahaman publik yang kerap mengaitkan fenomena cuaca ekstrem dengan meningkatnya emisi gas rumah kaca (GRK) di atmosfer. Menurut Arcandra, laporan para ahli dari Kementerian Energi Amerika Serikat (AS) menyebutkan bahwa ada salah persepsi yang meluas baik di kalangan masyarakat, pemerintah, swasta, maupun akademisi.
“Telah terjadi salah persepsi dari publik, pemerintah, sektor swasta dan bahkan para akademisi yang mengatakan kalau cuaca ekstrim yang terjadi akhir-akhir ini disebabkan oleh makin bertambahnya emisi GRK di atmosfir,” ujar Arcandra di akun instagram pribadinya, mengutip laporan tersebut.
Ia menjelaskan, iklim adalah rata-rata kondisi cuaca dalam jangka panjang, sementara cuaca merupakan kondisi atmosfer sesaat. Dengan demikian, cuaca ekstrem yang terjadi akhir-akhir ini belum tentu merupakan akibat langsung dari perubahan iklim.
Bukti yang dipaparkan para ahli menunjukkan tren cuaca ekstrem tidak serta-merta berkaitan dengan kenaikan emisi GRK. Data mencatat bahwa jumlah badai di Amerika Utara sejak 1980 relatif stabil, meski pada periode 2015–2017 badai besar lebih sering terjadi. Gelombang panas saat ini juga masih kalah frekuensi dibandingkan dekade 1930-an ketika emisi GRK masih rendah. Curah hujan memang meningkat sejak 1950, tetapi intensitas tersebut belum bisa dipastikan sebagai dampak perubahan iklim. Fenomena tornado pun relatif stabil tiap tahun dengan intensitas yang justru menurun, sementara kekeringan tidak menunjukkan perbedaan signifikan.
Dari temuan ini, para ahli AS menyimpulkan bahwa cuaca ekstrem lebih tepat dipahami sebagai kejadian sesaat yang bisa berulang. “Bukti-bukti yang diungkap oleh para ahli dari Kementerian Energi AS ditulis dalam laporan ini dan dipersilahkan untuk dibahas dan dikoreksi oleh siapapun untuk mendapatkan pengertian yang lebih baik,” jelas Arcandra.
Selain soal cuaca ekstrem, laporan itu juga membahas kenaikan permukaan laut yang kerap dianggap sebagai dampak utama mencairnya es di kutub. Data menunjukkan bahwa sejak 1900, permukaan laut global naik sekitar delapan inci. Beberapa kota di Amerika Serikat seperti Galveston, New Orleans, dan Chesapeake Bay mengalami kenaikan lebih signifikan dibanding kota lain. Namun, penelitian menunjukkan bahwa fenomena ini tidak sepenuhnya disebabkan oleh mencairnya es, melainkan oleh penurunan permukaan tanah atau subsidence akibat pembangunan dan aktivitas manusia.
“Dengan turunnya permukaan tanah ini mengakibatkan permukaan air laut naik,” kutip Arcandra dari laporan tersebut.
Kenaikan permukaan laut bahkan sudah terdeteksi sejak 1820–1860, jauh sebelum emisi CO2 dari aktivitas manusia meningkat tajam. Hal ini menunjukkan bahwa faktor non-GRK juga berperan besar. Tanpa mempertimbangkan subsidence, prediksi permukaan laut akan berlebihan dan berpotensi menimbulkan kepanikan.
Baca Juga
Kementerian ESDM Ungkap Strategi Penurunan Gas Rumah Kaca pada Sektor Pertambangan
Kondisi ini, lanjut Arcandra, menimbulkan kekhawatiran karena data yang kurang lengkap justru dipakai sebagai dasar kebijakan global. Lembaga internasional seperti IPCC menggunakan prediksi tersebut untuk mendesak negara-negara mengurangi penggunaan energi fosil, sementara lembaga keuangan dunia seperti World Bank dan Asian Development Bank bahkan telah menghentikan pendanaan untuk proyek berbasis energi fosil. Padahal, energi terbarukan saat ini belum sepenuhnya mampu menggantikan peran energi fosil.
“Apakah strategi menjauhi energi fosil sudah tepat? Laporan para ahli AS memberi sinyal bahwa data dan prediksi perubahan iklim mungkin tidak sepenuhnya akurat, sehingga kebijakan yang diambil berpotensi tidak sesuai kebutuhan setiap negara,” tegasnya.
Arcandra menambahkan, terdapat tiga pilihan sikap yang bisa diambil negara-negara dalam menanggapi laporan ini. Pertama, mempercayainya sepenuhnya dan mengubah strategi transisi energi. Kedua, mencari data pembanding dari panel ahli independen. Ketiga, mengabaikan laporan tersebut dan tetap berkomitmen menurunkan emisi sesuai kapasitas fiskal masing-masing.
Menurutnya, memahami isu perubahan iklim bukanlah hal yang sederhana karena setiap negara memiliki perspektif dan kebutuhan berbeda. Namun, meluruskan kesalahpahaman publik terkait peran emisi GRK dalam fenomena cuaca ekstrem maupun kenaikan permukaan laut menjadi penting agar strategi energi dan transisi iklim tidak salah arah.
“Berpikir kritis dan cerdas adalah jalan terbaik agar kebijakan iklim dan energi tidak keliru arah dan mampu menjawab tantangan nyata yang dihadapi,” tutup Arcandra.

