Pemerintah Ungkap Bauran EBT Nasional Capai 15%, Pengembangan Selanjutnya Fokus Hidrogen
JAKARTA, investortrust.id – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan bauran energi baru terbarukan (EBT) nasional sudah mencapai 15% hingga kini. Meski meningkat, angka tersebut masih di bawah target yang dicanangkan untuk tahun 2025 berkisar 17-20%.
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mengatakan, Indonesia mempunyai potensi EBT melimpah. Oleh karena itu, pemerintah bakal terus menggenjot bauran EBT guna mencapai net zero emission (NZE) 2060 atau lebih cepat.
Baca Juga
Mau Akusisi 20% Saham Perusahaan EBT Filipina, Pertamina NRE Kaji Keuntungannya bagi RI
“Penggunaan energi terbarukan hingga tahun 2024 sudah mencapai 3,687 GW. Dan ini sudah mencapai 15% bauran energi kita di dalam pemakaian energi di Indonesia,” kata Eniya dalam acara Global Hydrogen Ecosystem Summit 2025, Selasa (15/4/2025).
Dia menyebutkan bahwa salah satu energi EBT yang bakal didorong di Tanah Air adalah hidrogen. Pasalnya, hidrogen merupakan kategori energi baru yang bisa dihasilkan dari semua jenis sumber energi, baik itu dari fosil maupun non-fosil dan terutama dari energi terbarukan.
“Kementerian ESDM sudah meluncurkan dokumen strategi hidrogen nasional pada Desember 2023. Dan pemerintah menyusun strategi untuk memanfaatkan hidrogen dengan tiga fokus,” ujar dia.
Baca Juga
Bangun Pengisian Bahan Bakar Hidrogen, Toyota Bicara Rencana Bawa Masuk Mirai
Lebih lanjut, Eniya pun membeberkan tiga fokus tersebut meliputi hidrogen yang akan digunakan untuk mendukung pengembangan energi baru terbarukan, hidrogen yang akan mendukung upaya dekarbonisasi dengan mengembangkan pasar domestik, serta yang terakhir adalah sebagai komoditi, hidrogen dan turunannya akan bisa diekspor ke pasar global.
Kendati demikian, Eniya tidak memungkiri bahwa tantangan dalam pengembangan ekosistem hidrogen masih besar, sehingga dibutuhkan dukungan penuh dari semua pihak, seperti pengembang infrastruktur untuk produksi hidrogen dan distribusi hidrogen, serta peningkatan kapasitas tenaga kerja yang mendukung industri ini.
“Walaupun hidrogen itu selama ini dikenal setelah dipakai di industri petrochemicals, pupuk, dan lain sebagainya, namun hidrogen untuk energi baru merupakan langkah pertama kita untuk menginisiasi dekarbonisasi ini,” ucap Eniya.

