Kementerian ESDM Tanggapi Keinginan Prabowo Percepat Penggunaan B50
JAKARTA, investortrust.id - Presiden terpilih Prabowo Subianto mengatakan ingin segera mempercepat penggunaan B50 di Indonesia. Hal ini diungkap Prabowo sebagai bentuk pencegahan terhadap prediksi akan semakin melambungnya harga bahan bakar minyak (BBM) dunia akibat ketidakstabilan global.
Menanggapi pernyataan Prabowo tersebut, Sekretaris Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (Ditjen EBTKE) Kementerian ESDM, Sahid Junaidi, menjelaskan saat ini dari sisi penerapan bioenergi, Indonesia sudah masuk ke B35, serta dalam tahap uji B40 untuk kendaraan berat.
"Mudah-mudahan tahun depan Januari bisa segera kita eksekusi B40, dan juga segera menyusul B50 seperti yang diharapkan oleh Presiden terpilih," kata Sahid dalam konferensi pers pra-acara dan peluncuran resmi Indonesia Sustainable Energy Week (ISEW) 2024 di Jakarta, Senin (26/8/2024).
Baca Juga
Secara hitung-hitungan, kata dia, kapasitas produksi sawit yang ada sangat mungkin untuk segera mengimplementasikan bioenergi B50. Namun ia menyebut untuk dapat segera menerapkan penggunaan B50, masih membutuhkan penyesuaian dari sisi infrastruktur serta kebijakan. Infrastruktur yang ada saat ini baru dipersiapkan untuk penggunaan B20.
"Ini kan perlu kebijakan lebih begitu ya, karena kalau perhitungan hari ini masih minus tapi nanti hulu hilirnya seperti apa, akan diputuskan oleh BPDPKS," lanjut dia.
Sebelumnya, dalam penutupan Kongres VI Partai Amanat Nasional (PAN), Prabowo optimistis di tengah ketidakstabilan geopolitik dunia, Indonesia akan mencapai swasembada energi. Ia menyebut ke depan Indonesia tidak lagi membutuhkan impor untuk solar. Ia mengatakan penggunaan solar akan banyak diserap dari sawit, yang disebut dengan biodisel.
"Sekarang sudah B35, kita akan percepat jadi B40, B50 minimal," kata Prabowo di Grand Ballroom Kempinski, Jakarta, Sabtu (24/8/2024).
Baca Juga
ESDM Optimistis Bahan Bakar B40 Akan Tingkatkan Penghematan Devisa Negara
Dengan mencapai B50, kata Prabowo, Indonesia akan menghemat hingga US$ 20 miliar atau setara dengan Rp 300 triliun. Target ini diharapkan Prabowo dapat dicapai pada tahun 2025 mendatang. Kemudian ia berharap dengan perputaran uang senilai Rp 300 triliun yang berkutat di dalam negeri tersebut, akan turut berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
"Dan para profesor ITB melaporkan kepada saya bahwa kita juga bisa, sebentar lagi menghasilkan bensin dari kelapa sawit," ucap Prabowo.

