Prabowo Ingin Kembangkan B50 hingga B100, Kementerian ESDM Ungkap PR Besarnya
JAKARTA, investortrust.id - Presiden Terpilih Prabowo Subianto telah menyatakan ingin mengembangkan biodiesel sebagai bahan bakar kendaraan ramah lingkungan. Namun, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkap ada sejumlah PR besar yang harus diselesaikan untuk mewujudkannya.
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Eniya Listiani Dewi, tidak memungkiri bahwa pemerintah sangat berkomitmen untuk mengakselerasi pengembangan biodiesel ini. Bahkan, Prabowo ingin mengembangkan B35 iyang sudah digunakan sekarang menjadi B50 hingga B100.
“Keinginan pemerintah untuk akselerasi ini luar biasa. Kita komit untuk bergerak mengombinasikan, mem-blending diesel ini menjadi biodiesel untuk lebih naik lagi persentasenya,” kata Eniya dalam acara media gathering di Kantor Direktorat Jenderal EBTKE, Jakarta, Senin (9/9/2024).
Baca Juga
HIP BBN Biodiesel Agustus 2024 Naik Jadi Rp 12.382 per Liter
Kendati demikian, Eniya menyampaikan bahwa yang perlu diperhatikan dari upaya pengembangan biodiesel ini adalah masalah teknis. Dia membeberkan, sejak Juli hingga Desember 2024 pemerintah mulai melakukan uji mesin untuk menjajal biodiesel B50 dan B60, baik pada mesin produk otomotif maupun non-otomotif.
“Jadi pertama sampai dengan Oktober ya kita masih menguji teknis proporsi dari spesifikasi B50. Ini nanti saya selipkan untuk bisa B60. Karena tinggal uji proporsi. Uji proporsi itu teknisnya di mesin bagaimana seperti itu,” terang Eniya.
Dijelaskan oleh Eniya, yang perlu diketahui perubahan penggunaan B50 dan B60 ini pada high speed engine dan low speed engine. Jika penggunaan biodiesel jenis baru ini berfungsi dengan baik di jenis kendaraan high speed engine, maka akan bisa bekerja dengan baik juga untuk low speed engine.
Baca Juga
Gapki Ungkap Tantangan Pemerintahan Prabowo Kembangkan B50 hingga B100
“Jadi kalau dikasih fuel yang baru, kalau cepat dan bisa berfungsi di high speed engine, berarti kalau engine-nya itu mesin yang lebih lambat seperti di maritim sektor, di kapal-kapal, nah itu pasti bisa jalan. Kalau di speed saja bisa jalan, apalagi di yang low speed. Logikanya gitu,” papar dia.
Setelah uji teknis, PR berikutnya dalam pengembangan biodiesel ini adalah mengenai kenaikan kualitas solar yang dihasilkan. Pasalnya, pemerintah harus membuat produk biodiesel menjadi hydrotreated vegetable oil (HVO) yang mana butuh investasi besar.
“Di sini juga ada isu HVO, ini harus dicapai dulu karena solar kita masih high sulfur. Kalau mau Euro 4 itu harus naik. Ini harus di-adjust juga, ini agak mahal, perlu investasi HVO, dari palm oil juga. Nanti yang buat adalah Pertamina,” beber Eniya.
Bukan hanya itu, peningkatan kualitas tersebut juga membutuhkan dukungan infrastruktur yang memadai di industri nabati dan solarnya. Untuk membangun infrastruktur ini membutuhkan waktu dan juga investasi.
Adapun PR yang terakhir adalah terkait dengan ketersediaan bahan baku (feedstock) sumber minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO). Pasalnya, membutuhkan kandungan minyak nabati yang lebih banyak di dalam B50 dan B60.
“Kita perlu ada peningkatan produktivitas on farm kelapa sawit, maka dana PSR (Peremajaan Sawit Rakyat) sangat dibutuhkan. Harus ada intensifikasi lahan," tegasnya.

