Moeldoko: Indonesia Berpeluang Menguasai Industri Baterai Kendaraan Listrik Dunia
JAKARTA, investortrust.id - Kepala Staf Presiden, Moeldoko, menilai Indonesia memiliki potensi pasar yang sangat besar dalam industri kendaraan listrik (electric vehicle/EV). Indonesia bahkan berpeluang menguasai industri baterai kendaraan listrik dunia. Alasan ini menjadi salah satu faktor yang mendorong pemerintah menggenjot hilirisasi nikel.
“Untuk membangun ekosistem baterai kenderaan listrik, pemerintah Indonesia telah membentuk holding company, namanya Indonesia Battery Corporation (IBC),” kata Moeldoko dalam acara International Battery Summit 2024 di Hotel Mulia, Jakarta, Senin (29/7/2024).
Baca Juga
Indonesia Jadi Bagian Penting Strategi Global Hyundai di Mobil Listrik, Ini Alasannya
Indonesia memiliki sumber daya nikel yang sangat besar. Pada 2023, volume produksi nikel di Indonesia mencapai 1,8 juta metrik ton (MT), menempati peringkat pertama di dunia dengan kontribusi sebesar 50% dari total produksi global.
Sementara itu, cadangan nikel di Indonesia mencapai 21 juta MT atau 24% dari total cadangan dunia. Beriringan dengan itu, nikel menjadi salah satu bahan baku dalam pembuatan baterai EV.
Selain memiliki sumber bahan baku yang melimpah, menurut Moeldoko, Indonesia punya posisi yang kuat di industri baterai terintegrasi. Sebab, Indonesia merupakan salah satu ekonomi global terbesar di dunia.
“Indonesia nomor 16 ekonomi terbesar di dunia pada 2020 dan diperkirakan menjadi nomor 5 perekonomian terbesar di dunia pada 2045. Industri EV adalah salah satu yang memberi kontribusi sangat besar,” tegas dia.
Dengan menjadi salah satu ekonomi terbesar di dunia, kata Moeldoko,Indonesia merupakan pasar yang amat potensial untuk kendaraan listrik, baik roda empat maupun roda dua.
“Potensi penjualan kendaraan roda dua diproyeksikan kurang lebih 8 jutaan unit pada 2025. Sedangkan penjualan kendaraan roda empat diperkirakan mencapai 2 juta unit,” papar mantan Panglima TNI tersebut.
Moeldoko menjelaskan, pasar kendaraan listrik juga sudah semakin luas dengan bermunculannya berbagai merek baru di Indonesia. Ini menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk menguasai industri baterai kendaraan listrik.
Dia menambahkan, permintaan baterai domestik diproyeksikan tumbuh dari 20 giga pada 2030 menjadi59 giga pada 2035 dengan pertumbuhan rata-rata tahunan (compound annual growth rate/CAGR) sebesar 23%.
Baca Juga
Pemerintah Luncurkan Simbara untuk Nikel dan Timah, Dirut Antam Harapkan Hal Ini
“IBC telah memulai pembangunan pabrik sel baterai 10 giga di Karawang yang ditargetkan rampung pada akhir 2024,” tutur dia.
Moeldoko mengingatkan, potensi ini menjadi sebuah momen untuk menangkap masa depan, mengingat kendaraan listrik diproyeksikan menjadi transportasi pada masa mendatang.
“Kita punya kesempatan yang sangat luas untuk bermain di area itu. Jangan sampai kita hanya bangga punya resources, tetapi teknologinya selalu diambil negara lain. Kita bisa, dan kami sudah memulai itu. Kami sudah memulai untuk menyiapkan dan membangun baterai listrik dengan seluruh material dari Indonesia. Tidak ada yang impor,” tandas dia.

