EBT Indonesia Baru Akan Terakselerasi pada 2030
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memprediksi pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) baru akan terakselerasi secara masif pada 2030.
Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi menyebutkan, pengembangan EBT tidak bisa langsung masif karena masih ada pemakaian emisi sampai 2030 meski pemerintah ingin menurunkannya.
Baca Juga
Target Bauran EBT 23% di 2025 Sulit Tercapai, Dirjen EBTKE: Investasinya Gak Ada!
“Nah, ini salah satu strategi kita, accelerate natural gas dulu. Jadi, sambil intercept renewable energy dalam peta jalan kita, kita menginginkan industri terakselerasi untuk penggunaan renewable energy-nya. Kita juga mendorong tumbuhnya industri,” kata Eniya dalam acara Green Economy Expo yang diselenggarakan Bappenas di Jakarta, Kamis (4/7/2024).
Beriringan dengan itu, Eniya mengharapkan Rancangan Undang-Undang Energi Baru dan Energi Terbarukan (RUU EBET) bisa segera diundangklan. Terbitnya aturan baru tersebut diharapkan dapat memfasilitasi para pengusaha yang terjun ke bisnis EBT di Indonesia.
"Mudah-mudahan nanti kalau RUU-nya sudah gol tahun ini, akan banyak insentif untuk renewable energy. Paling nggak ditabung dulu karbon-nya, kita tunggu trading carbon secepatnya," ujar Eniya.
Eniya menjelaskan, pemerintah sejatinya tengah menargetkan peak emission 2030. Dalam lima tahun ke depan semuanya harus benar-benar on the track agar bisa selaras dengan target-target yang sudah direncanakan, termasuk Net Zero Emission (NZE) 2060.
“Jadi target yang harus kita realisasikan untuk penurunan emisi sekitar 993 juta ton CO2 equivalent. Ini akan terus-menerus kita upayakan,” tegas Eniya.
Baca Juga
Gandeng Norwegia, RI Dorong Implementasi EBT hingga CCS/CCUS
Selain itu, Eniya berharap ada penggunaan bioenergi dan hidrogen hijau (green hydrogen). Sedangkan untuk sektor transportasi, selain kendaraan listrik (electric vehicle/EV), pemerintah akan terus mendorong biofuel.
“Bahkan dalam rencana kami, pemerintah juga akan meng-introduce nuklir. Tapi ini masih pembahasan dan kita harapkan adanya carbon capture storage (CCS) in between, itu bisa mengakselerasi penangkapan emisi untuk bisa digunakan lagi,” papar dia.

