Pertumbuhan Ekonomi 2025 Terakselerasi, Fitch Pertahankan Sovereign Credit Rating Indonesia BBB
JAKARTA, investortrust.id – Lembaga pemeringkat Fitch kembali mempertahankan Sovereign Credit Rating Indonesia pada BBB, dengan outlook stabil pada 15 Maret 2024. Rating ini berada satu tingkat di atas level terendah investment grade.
Keputusan Fitch mempertimbangkan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka menengah yang baik, inflasi yang terkendali dalam kisaran sasaran, dan rasio utang pemerintah terhadap produk domestik bruto (PDB) yang rendah. Pertumbuhan ekonomi pada 2025 diprakirakan terakselerasi, didorong oleh ekspektasi keberlanjutan kebijakan pasca-Pemilu 2024 serta kebijakan moneter dan fiskal yang mendukung stabilitas makroekonomi.
Dari sisi eksternal, sejumlah indikator seperti transaksi berjalan menunjukkan perbaikan dibandingkan sebelum pandemi. Selain itu, Penanaman Modal Asing (PMA) meningkat, didukung kelanjutan aktivitas hilirisasi.
Menanggapi keputusan Fitch tersebut, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam keterangannya menyatakan, “Afirmasi rating Indonesia pada peringkat BBB dengan outlook stabil menunjukkan keyakinan kuat pemangku kepentingan internasional atas stabilitas makroekonomi dan prospek ekonomi jangka menengah Indonesia yang tetap terjaga pasca pelaksanaan Pemilu 2024. Kepercayaan dunia internasional ini didukung oleh kredibilitas kebijakan dan sinergi bauran kebijakan yang kuat antara pemerintah dan Bank Indonesia, di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih tinggi."
Ke depan, Bank Indonesia akan terus mencermati perkembangan ekonomi dan keuangan global dan domestik, merumuskan dan melaksanakan langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan terjaganya stabilitas makroekonomi dan keuangan, termasuk melalui penyesuaian lebih lanjut stance kebijakan. Selain itu, serta memperkuat sinergi dengan pemerintah untuk mendukung tercapainya pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Baca Juga
Diperkirakan Tumbuh 4,9% 2024
Pada laporannya, Fitch memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 4,9% pada 2024, lebih rendah dari tahun 2023 dan 2022. Di sisi lain, Fitch melihat konsumsi domestik dan investasi solid, di tengah pelemahan ekspor yang sejalan dengan pertumbuhan ekonomi global yang melambat.
Badan Pusat Statistik mencatat, ekonomi Indonesia tahun 2023 tumbuh sebesar 5,05%, lebih rendah dibanding capaian tahun 2022 yang menembus 5,31%. Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Pengeluaran Konsumsi Lembaga Nonprofit yang Melayani Rumah Tangga (PK-LNPRT) sebesar 9,83 persen. Sementara dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi terjadi pada Lapangan Usaha Transportasi dan Pergudangan sebesar 13,96%.
Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga tercatat masih menjadi penyumbang utama PDB Indonesia. Kontribusinya mencapai 53,18% tahun 2023 atas dasar harga berlaku, naik dibanding 2022 sebanyak 51,88%.
Fitch memperkirakan, pasca-Pemilu 2024, implementasi kebijakan struktural seperti pembangunan Ibu Kota Nusantara, kebijakan hilirisasi komoditas, dan pengembangan industri kendaraan listrik akan terus berlanjut. Kebijakan moneter dan fiskal yang diarahkan untuk menjaga stabilitas makroekonomi juga turut mendukung akselerasi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 5,3% pada 2025.
Pada sisi eksternal, Fitch memperkirakan transaksi berjalan akan mencatat defisit sebesar 1,0% pada 2024 dan 1,8% pada 2025, seiring pelemahan ekonomi global dan penurunan harga komoditas. PMA diperkirakan meningkat didukung kelanjutan aktivitas hilirisasi, yang diharapkan dapat memberikan nilai tambah terhadap ekspor komoditas dan mendorong peningkatan ekspor manufaktur.
Dalam jangka menengah, keberlanjutan kebijakan hilirisasi diharapkan dapat mengurangi kerentanan sektor eksternal, melalui peningkatan ekspor manufaktur dan peningkatan PMA. Terkait perkembangan harga, inflasi pada tahun 2024 diperkirakan mencapai 2,7% dan 3,0% masing-masing pada tahun 2024 dan 2025, masih berada pada kisaran sasaran 2,5%+1%.
Baca Juga
"Fitch menilai kebijakan fiskal yang berhati-hati terus berlanjut dengan defisit fiskal diperkirakan sebesar 2,5%-2,9% pada tahun 2024-2025, tetap terjaga di bawah 3% dari PDB. Keyakinan tersebut didasari oleh rekam jejak dukungan politik untuk memastikan kredibilitas kebijakan fiskal. Dalam jangka menengah, risiko fiskal berpotensi meningkat terkait dengan ketidakpastian program belanja pemerintah, meski disertai dengan rencana peningkatan signifikan rasio penerimaan terhadap PDB, yang diharapkan dapat memperbaiki struktur APBN pemerintah," kata Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Erwin Haryono dalam keterangannya baru-baru ini.
Ia menjelaskan pula, Fitch sebelumnya mempertahankan Sovereign Credit Rating Indonesia pada BBB dengan outlook Stabil pada 1 September 2023.

