Investasi Pariwisata Berkelanjutan Masih Minim, Begini Langkah Kemenparekraf Undang Investor
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Salahuddin Uno menyatakan, Indonesia butuh investasi pariwisata berkelanjutan yang lebih besar untuk menarik lebih banyak kunjungan wisatawan, baik dari dalam maupun luar negeri.
Menurut Sandiaga, konsep pariwisata yang dapat dapat memberikan dampak jangka panjang terhadap ekonomi, sosial, dan lingkungan dibutuhkan untuk menjawab permintaan pasar. Hal ini tidak terlepas dari meningkatnya kesadaran publik terhadap pentingnya menjaga kelestarian alam dan budaya.
Baca Juga
Sandiaga Undang Industri Pengobatan Tradisional China Investasi di Indonesia
"Kita melihat bahwa ada permintaan dari sisi pasar yang terus berkembang ke arah sustainable tourism (pariwisata berkelanjutan), di mana kita butuh investasi yang lebih besar. Tahun lalu, US$ 3 miliar investasi di sektor pariwisata lebih banyak di hotel-hotel konvensional," kata Sandiaga di sela-sela International Tourism Investment Forum (ITIF) 2024 di Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara, Rabu (5/6/2024).
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) mencatat pada 2023 Indonesia telah merealisasikan investasi di sektor pariwisata sebesar US$ 3,6 miliar atau sekitar Rp 58,64 triliun. Selain hotel berbintang, investasi sektor pariwisata yang masuk ke Indonesia berupa restoran, kafe, dan pusat kebugaran.
Sementara itu, realisasi investasi sektor pariwisata pada kuartal I-2024 mencapai US$ 943,4 juta atau sekitar Rp 15,35 triliun dari target US$3 miliar juta atau sekitar Rp48,91 triliun.
Tiga sektor bisnis yang paling banyak menerima investasi asing langsung atau foreign direct investment (FDI) selama kuartal tersebut adalah hotel berbintang, restoran, dan hotel apartemen.
Karena itu, menurut Sandiaga Uno, Kemenparekraf masih terus berupaya mendorong masuknya investasi di sektor pariwisata berkelanjutan, seperti ekowisata dan desa wisata, termasuk desa wisata di lima Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) dan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur.
DPSP terdiri atas Danau Toba di Sumatra Utara, Borobudur di Jawa Tengah, Mandalika di Nusa Tenggara Barat, Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur, dan Likupang di Sulawesi Utara.
"Ini yang sedang kita dorong dengan dukungan semua pihak agar Indonesia bisa meningkat secara tajam dari segi indeks kepariwisataan dunianya. Harapannya, dari International Tourism Investment Forum (ITIF) 2024 ini kita mampu menarik lebih banyak investasi untuk pembangunan pariwisata berkelanjutan," tutur dia.
Ketika ditanya mengenai target investasi di sektor pariwisata, khususnya pariwisata berkelanjutan, mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta itu belum bisa memberikan jawaban.
Namun, yang jelas, Sandi optimistis forum tersebut mampu menarik lebih banyak investor dari dalam dan luar negeri untuk berinvestasi di sektor pariwisata Indonesia, tidak hanya hotel, restoran, dan kafe yang mendominasi selama ini.
Baca Juga
Sandiaga Uno Ungkap Sejumlah PR yang Menanti Menparekraf Selanjutnya
Apalagi, menurut Sandiaga Uno, Indonesia sudah diakui sebagai destinasi wisata ramah muslim terbaik dunia oleh Global Muslim Travel Index (GMTI) pada 2023 dan 2024. Ini ditambah peningkatan signifikan posisi Indonesia dalam Indeks Pengembangan Pariwisata 2024, dari peringkat ke-32 ke peringkat ke-22.
"Kami percaya bahwa kita bisa menciptakan tiga kali lebih banyak investasi di sektor-sektor ini," tegas dia.

