Bagikan

Mobil Hidrogen Jadi Break Through Pengembangan Industri Otomotif Bebas Emisi

JAKARTA, investortrust.id - Mobil hidrogen akan menjadi break through atau mengatasi hambatan pengembangan industri otomotif bebas emisi di Indonesia. Pasalnya, mobil ini ramah lingkungan namun tetap menggunakan produk-produk industri komponen yang sudah ada di Tanah Air, sebagaimana kendaraan konvensional.

Sementara itu, hidrogen merupakan sumber energi masa depan. Hidrogen semakin populer sebagai sumber energi terbarukan yang dapat diproduksi dari air dan tidak menghasilkan emisi gas rumah kaca. Hal ini selaras dengan strategi Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060, yang menjadi komitmen pemerintah Indonesia.

“Infrastruktur yang nantinya akan terbangun dengan makin banyaknya kendaraan dengan energi hidrogen akan mampu memberikan ruang (hidup) bagi industri komponen Indonesia yang ada sekarang. Mereka tidak jadi harus tergerus oleh waktu (kebutuhan mobil ramah lingkungan), lantaran kendaraan bermotor bakaran menggunakan hidrogen tetap memakai hampir semua komponen untuk kendaraan berbahan bakar fosil seperti saat ini,” kata peneliti mobil ramah lingkungan dari National Center for Sustainable Transportation Technology PUI-STT-ITB, Institut Teknologi Bandung, Dr Yannes Martinus Pasaribu dalam acara "3rd Investortrust Future Forum: Potensi Besar dan Masa Depan Mobil Hidrogen" di Hotel Aryaduta, Jakarta, Kamis (16/5/2024).

Baca Juga

Potensi Kendaraan Hidrogen Topang Percepatan Net Zero Emission 2060

Roadmap IKN
Yannes juga mengatakan, dalam roadmap Ibu Kota Nusantara (IKN) sudah terdapat kebijakan dan rancangan untuk mendorong pengembangan mobil ramah lingkungan. Ini misalnya memprioritaskan transportasi umum dan mobilitas rendah emisi.

"Di IKN diperkirakan nanti 80% perjalanan dengan transportasi publik atau mobilitas aktif," paparnya. 

Perlu Dukungan Kebijakan
Yannes menjelaskan lebih lanjut, untuk mendukung transisi ke penggunaan hidrogen sebagai bahan bakar kendaraan di Indonesia, perlu setidaknya enam dukungan kebijakan. Pertama, memberikan insentif pajak atau subsidi untuk R&D, produksi, serta penggunaan hidrogen sebagai bahan bakar. Insentif ini dapat mencakup pengurangan pajak untuk perusahaan yang berinvestasi dalam teknologi hulu-hilir, hingga infrastruktur pengisian hidrogen dan subsidi harga untuk mempercepat adopsi kendaraan hidrogen.

Baca Juga

Kemenko Perekonomian: Indonesia Berpotensi Kembangkan Kendaraan Berbahan Bakar Hidrogen

Kedua, menetapkan standar teknis dan keselamatan untuk infrastruktur hidrogen, seperti stasiun pengisian bahan bakar hidrogen dan persyaratan operasional kendaraan hidrogen. Hal ini akan memastikan keselamatan penggunaan dan membantu membangun kepercayaan konsumen.


Ketiga, meningkatkan alokasi anggaran untuk penelitian dan pengembangan dalam teknologi hidrogen, termasuk efisiensi produksi, penyimpanan, dan distribusi hidrogen. Pendanaan ini juga harus mendukung pengembangan teknologi domestik dan kerja sama internasional.


Keempat, mendorong kemitraan antara sektorpemerintah, akademisi, dan industri untuk mengembangkan tingkat komponen dalam negeri (TKDN). Selain itu, mengomersialkan teknologi hidrogen yang menunjukkan kelayakan dan manfaat hidrogen.


Kelima investasi dalam pembangunan infrastruktur yang diperlukan untuk produksi dan distribusi hydrogen. Ini termasuk stasiun pengisian bahan bakar hidrogen dan jaringan distribusi yang efisien.


Keenam, menjalankan kampanye informasi dan edukasi untuk meningkatkan kesadaran publik mengenai manfaat dan keamanan hidrogen sebagai bahan bakar alternatif. Edukasi ini penting untuk mengatasi keraguan dan meningkatkan penerimaan publik.


The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024