Ramai-ramai Mendukung Pengembangan Mobil Hidrogen
JAKARTA, investortrust.id – Belum reda euforia pesona mobil listrik, kini muncul pesaing baru, mobil listrik dengan bahan bakar hidrogen atau fuel cell electric vehicle (FCEV). Beberapa produsen otomotif papan atas dunia sudah bertahun-tahun menyiapkan mobil hidrogen, sebagian bahkan sudah meluncur di jalanan, meski penjualan masih seret.
Sebagai sebuah teknologi baru, para produsen otomotif itu terus mengembangkan riset untuk menyapkan generasi baru yang lebih canggih dan mumpuni. Teknologi hidrogen sangat menjanjikan, meski saat ini harga mobilnya terbilang masih mahal, sekitar Rp 1 miliar.
Mobil hidrogen atau FCEV menggunakan sel bahan bakar yang mengonversi hidrogen menjadi listrik. FCEV yang rendah emisi sangat relevan dengan tren energi masa depan, sejalan dengan target bauran energi nasional yang mendorong pengunaan EBT, termasuk hidrogen.
Namun, tantangan mobil hidrogen adalah teknologi yang masih mengejar kesempurnaan, belum meluasnya respons konsumen, serta nilai keekonomian agar mendapat harga yang kompetitif.
Yang menarik, di Indonesia, ekosistem kendaraan bahan bakar hidrogen sudah mulai dikembangkan serius. Tidak tanggung-tanggung, dua BUMN raksasa, PT Pertamina dan PT PLN langsung terjun membangun stasiun pengisian bahan bakar hidrogen (hydrogen refueling station/HRS) dalam waktu hampir bersamaan, Januari dan Februari lalu.
Pertanyaannya, sudah siapkah kita dengan pengembangan mobil hidrogen berikut infrastruktur dan ekosistemmnya?
Roadmap Hidrogen
Direktur Aneka Energi Baru dan Energi Terbarukan Kementerian ESDM, Andriah Feby Misna mengatakan, hidrogen merupakan salah satu sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk mewujudkan netralitas karbon. Untuk itu, Kementerian ESDM sudah menyusun roadmap 2021-2060, serta mendorong terciptanya supply dan demand.
Targetnya, pada 2031 Indonesia dapat mengembangkan teknologi hidrogen untuk sektor transportasi. Sedangkan untuk sektor industri baru bisa dimulai tahun 2041. Sembari menuju ke target tersebut, Kementerian ESDM mengupayakan terbentuknya ekosistem industri hidrogen nasional guna memperkuat fondasi transisi energi.
Hidrogen diharapkan menjadi potensi baru energi bersih yang tidak menambah emisi karbon dan efek gas rumah kaca. Sumber hidrogen antara lain berasal dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang kini sudah tersebar di Kalimantan Utara, Aceh, Sumatera Barat, Sumatra Utara, dan Papua dengan total potensi kapasitas produksi sebesar 3.000 Gigawatt (GW).
Kendaraan hidrogen rencananya juga akan dipakai di Ibu Kota Nusantara (IKN). Roadmap untuk IKN sudah menetapkan bahwa pada 2035, sekitar 50% transportasi umum menggunakan listrik atau hidrogen. Target finalnya, periode setelah 2040 seluruh sarana transportasi di IKN bakal berbasis hidrogen.
Sejatinya ada empat jenis sumber energi hidrogen. Yaitu hidrogen coklat dibuat dari batu bara, hidrogen abu-abu dari pembakaran gas alam tanpa karbon, hidrogen biru yang dari pembakaran gas alam dengan karbon, dan hidrogen hijau yang berasal dari EBT dan elektrolisis atau proses air menjadi listrik. Sasaran akhir Indonesia adalah menghasilkan hidrogen hijau.
Senior Vice President Research Technology & Innovation PT Pertamina, Oki Muraza, mengakui, harga hidrogen hijau masih mahal, sekitar US$ 6 per kg. Karena itu, dibutuhkan riset lanjutan agar tercipta hidrogen hijau murah.
Tonggak Bersejarah
Tonggak bersejarah pengembangan ekosistem mobil hidrogen ditandai dengan aksi PT Pertamina (Persero) melakukan peletakan batu pertama (ground breaking) hydrogen refueling station (HRS) di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Daan Mogot, Jakarta, Januari 2024.
Dalam proyek ini, Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) menggandeng Toyota untuk mengembangkan ekosistem hidrogen. Kedua perusahaan meneken Joint Development Agreement tentang pengembangan ekosistem transportasi berbasis hidrogen.
Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati menegaskan, Pertamina telah teruji sangat berpengalaman dalam sektor bahan bakar kendaraan. Dengan infrastruktur dari hulu ke hilir yang dimiliki, Pertamina paling siap dalam mengembangkan ekosistem hidrogen untuk transportasi. Kerja sama Pertamina dengan Toyota merupakan langkah tepat untuk mengakselerasi ekosistem hidrogen.
Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Nandi Julyanto, berharap proyek ini mampu menyediakan fasilitas pengisian hidrogen yang cepat, efisien, dan aman, sekaligus menjadi model bagi proyek serupa di masa mendatang.
Nandi Julyanto menyebut bahwa hidrogen potensial di masa depan dalam industri transportasi. Karena itulah, TMMIN ikut berkomitmen dan mendorong pengembangan teknologi hidrogen sehingga dapat mengakselerasi terbentuknya ekosistem hidrogen yang solid.
Atas dasar itu, Toyota membuka diri terhadap segala bentuk kolaborasi riset, baik dengan kalangan perguruan tinggi atau instansi pemerintah, sehingga sektor otomotif bisa mendukung pencapaian target netral karbon (NZE).
SPBU Daan Mogot menjadi stasiun pengisian bahan bakar terintegrasi (integrated energy refueling station) pertama di Indonesia yang menyediakan tiga jenis bahan bakar sekaligus, yaitu BBM, gas, serta hidrogen. Waktu pengisian hidrogen per kendaraan kurang dari lima menit.
Sekitar sebulan setelah Pertamina, PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) menyusul dengan peresmian HRS atau stasiun pengisian kendaraan hidrogen (SPKH) yang berlokasi di Senayan, Jakarta, Rabu (21/2/2024). Langkah ini merupakan tindak lanjut inovasi PLN sebelumnya, yaitu pengoperasian 21unit green hydrogen plant (GHP) yang tersebar di Indonesia pada November 2023.
Dua terobosan PLN tersebut merupakan tahapan strategis dalam memperkenalkan hidrogen hijau sebagai bahan bakar masa depan yang terbarukan dan ramah lingkungan.
Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo membeberkan perbandingan biaya operasional untuk menempuh satu kilometer. Bahan bakar bensin dan solar memerlukan dana Rp 1.300 per km dan electric vehicle (EV) sekitar Rp 350- Rp 550 per km. Sedangkan hidrogen dari PLN hanya Rp 270 per km.
Waktu pengisian hidrogen hanya sekitar 3-5 menit. Dalam satu jam, penyedia daya untuk FCEV dapat melayani sekitar 10 kendaraan. Hal itu berbeda dengan mobil listrik (BEV) yang harus mengisi daya listrik setidaknya 30-60 menit. Artinya, dalam satu jam, SPKLU hanya bisa melayani sekitar dua sampai tiga kendaraan listrik.
HRS Senayan dilengkapi dengan charger electric vehicle berbasis hidrogen yang memiliki fungsi sama dengan stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU). Di lokasi ini dibangun pula Hydrogen Center dan Hydrogen Gallery Room untuk pusat pelatihan dan pendidikan hidrogen nasional.
Hidrogen produksi PLN berasal dari energi baru terbarukan (EBT) dan tidak ada emisi sama sekali. PLN saat ini mampu memproduksi 199 ton hidrogen hijau. Dari jumlah itu, 75 ton dipakai untuk kebutuhan operasional pembangkit PLN, dan 124 ton sisanya untuk kebutuhan lainnya, termasuk mobil hidrogen.
Toyota vs Hyundai
Saat ini ada dua produsen yang sudah serius menggarap mobil hidrogen, yakni Toyota Astra Motor dan Hyundai. Toyota hadir dengan seri Mirai, yang sejatinya sudah dipasarkan sejak 2014 lalu. Inilah cikal bakal Fuel Cell Electric Vehicle (FCEV) penuh tanpa BBM, yang sudah diproduksi massal sekitar satu dekade lalu. FCEV menggunakan sel bahan bakar yang mengonversi hidrogen menjadi listrik dan menghasilkan air sebagai satu-satunya produk sampingan.
Pada 2020, Mirai telah memperbarui diri sebagai generasi kedua. Toyota bahkan sedang mengembangkan mobil bertenaga hidrogen generasi terbaru yang siap meluncur pada 2026.
Mirai memiliki tiga tangki bahan bakar hidrogen yang memiliki jarak tempuh maksimal 1.300 km. Mobil Toyota Mirai sudah disematkan Toyota Safety Senses terbaru, yang meliputi fitur-fitur canggih, seperti Dynamic Radar Cruise Control (DRCC) dan Pre-Collision System.
Toyota mengklaim bahwa biaya produksi mesin mobil generasi baru lebih murah 50% dibanding generasi sekarang. Bahan material yang digunakan pun lebih ramah lingkungan dan lebih simpel. Kelebihan lainnya, biaya perawatan mesin hidrogen generasi terbaru lebih hemat.
Agar mobil hidrogen mampu menempuh jarak lebih jauh, Toyota menyiapkan konsep multi-tanki agar dapat mengisi bahan bakar hidrogen lebih banyak. Sejauh ini, Toyota terus mengkaji biaya produksi bahan bakar hidrogen yang paling efisien.
Kepada investortrust, Direktur Marketing PT Toyota Astra Motor, Anton Jimmi Suwandy berpendapat, pada dasarnya Toyota berkomitmen untuk mendukung program pemerintah menuju Net Zero Emission 2060, dengan menyediakan berbagai teknologi elektrifikasi mulai dari Hybrid EV, Plug-in EV, Battery EV, dan juga studi teknologi lain seperti FCEV dan bahan bakar alternatif seperti bioethanol, biodiesel, dan lainnya.
“Tujuan utamanya adalah bagaimana bisa mengajak sebanyak mungkin masyarakat untuk menurunkan emisi karbon,” kata dia, Jumat (15/3/2024).
Untuk FCEV sendiri, kata Anton Jimmi, saat ini masih dalam tahap studi di Indonesia. Dalam hal ini, Toyota menampilkan di beberapa aktivitas seperti IIMS, GIIAS, xEV Center di Karawang dan juga kerja sama dengan berbagai lembaga pemerintahan.
Indonesia memiliki banyak sumber daya alam yang bisa digunakan untuk menekan emisi karbon, seperti nikel, bioethanol, gas alam termasuk hydrogen. “Dan pastinya Toyota sudah siap dengan berbagai teknologinya mulai dari alternative fuel, HEV, PHEV, BEV termasuk FCEV untuk mendukung program program pemerintah,” tutur Anton Jimmi.
Selain Toyota, Hyundai juga gencar mengembangkan kendaraan hidrogen lewat Hyundai Nexo yang dipasarkan sejak 2018. Mobil dengan tiga tangki bahan bakar berkapasitas 156 liter mampu menempuh jarak 666 km.
Selain di negerinya sendiri, Nexo sudah menembus pasar Amerika Serikat, Inggris, dan Australia, dengan kisaran harga US$ 63.585 atau hampir Rp 1 miliar.
Selain Nexo, Hyundai akan merilis mobil hidrogen N Vision 74 yang memiliki daya jelajah 598 Km. Untuk tahap pertama akan diproduksi 100 unit pada semester I-2026.
Honda sebenarnya juga mengembangkan mobil hidrogen, lewat Honda Clarity yang kemudian dihentikan penjualannya. Namun tahun ini, Honda dikabarkan akan meluncurkan mobil listrik (FCEV) dari varian SUV CR-V. Mobil ini dikembangkan bersama GM.
Di level global, penjualan mobil hidrogen (FCEV) bertumbuh cukup tinggi dalam beberapa tahun, periode 2017-2023 mencapai rata-rata 22,5%, meskipun tahun lalu minus atau menurun 30,2%.
Dilihat dari sisi produsen, tahun 2023, China Commercial, memimpin dengan total penjualan 5.362 unit, disusul Hyundai 5.012 unit, dan Toyota tercatat 3.839 unit.
Teknologi otomotif terus berkembang. Tingkat kompetisi juga kian sengit. Mobil hidrogen (FCEV) sebagai salah satu alternatif memang menjanjikan dan prospektif. Yang terpenting, perlu persiapan matang pengembangannya ke depan. Juga perlu dikaji secara cermat keunggulan dan kelemahannya.
Boleh saja kita mengembangkan mobil listrik berbahan baterai (BEV), hybrid (HEV dan PHEV), atau mobil hidrogen (PCEV). Namun jangan tanggung dan tanpa persiapan, hanya mengikuti tren. Sebab, jika tidak dipersiapkan dengan baik termasuk ekosistem dan kebijakan insentifnya, kita tidak akan ke mana-mana. ***

