Pemerintah Diwanti-wanti soal Ini jika Ingin Sukses Mencapai Target SDG’s dan NZE
JAKARTA, investortrust.id – Pendiri BGK Foundation, Achmad Deni Daruri mewanti-wanti pemerintah jika ingin sukses mencapai target Sustainable Development Goals (SDG's) dan target Net Zero Emission (NZE) 2060.
Menurut Deni, jika ingin sukses mencapai target SDG's dan NZE, pemerintah perlu memberikan insentif kepada perusahaan yang menjalankan prinsip-prinsip pelestarian lingkungan, sosial, dan tata kelola (environmental, social, and governance/ESG).
“Dengan melaksanakan ESG, perusahaan sesungguhnya sudah ikut membantu pemerintah mencapai target SDG's,” ujar Deni pada acara penganugerahan ESG Disclosure Transparency Awards 2023 di Jakarta, Rabu (29/11/2023) malam.
Baca Juga
Keren! 80 Perusahaan Raih ESG Disclosure Transparency Awards 2023
Dalam acara yang diselenggarakan Bumi Global Karbon (BGK) Foundation dan Investortrust itu, 80 perusahaan yang menjalankan keterbukaan dan transparansi ESG meraih ESG Disclosure Transparency Awards 2023.
Ke-80 perusahaan tersebut menyabet predikat leadership AAA (5 perusahaan), leadership AA (9 perusahaan), leadership A (8 perusahaan), management BBB (12 perusahaan), management BB (5 perusahaan), management B (4 perusahaan), commitment CCC (10 perusahaan), commitment CC (24 perusahaan), dan commitment C (3 perusahaan).
Achmad Deni Daruri mengemukakan, karena perusahaan yang menjalankan ESG mampu mendatangkan kemaslahatan bagi khalayak di bidang lingkungan, sosial, dan tata kelola, wajar jika pemerintah memberikan insentif kepada mereka. “Insentif bisa diberikan dalam bentuk keringanan pajak atau kemudahan perizinan usaha,” tutur dia.
Jika pemerintah memberikan insentif, menurut Deni Daruri, akan semakin banyak perusahaan di Indonesia yang tergerak menjalankan ESG. “Dengan begitu pula, pemerintah akan lebih mudah mencapai target NZE pada 2060,” tandas dia.
Baca Juga
Pemerintah Akan Bangun PLTS secara Masif demi Target NZE, Ini Alasannya!
Deni menjelaskan, pemeringkatan ESG Disclosure Transparency Awards 2023 yang dilakukan BGK atas kerja sama dengan Investortrust mengacu pada pengungkapan faktor ESG dalam laporan keberlanjutan (sustainability report/SR).
“Penilaiannya sangat kredibel karena BGK Foundation merupakan anggota Global Reporting Initiative (GRI) dan Task Force on Climate-related Financial Disclosure (TCFD),” tegas Deni.
Gunakan 33 Faktor
Deni mengungkapkan, dalam melakukan penilaian, BGK menggunakan metodologi berbasis 33 faktor, meliputi faktor ESG pasar modal terkemuka, studi peraturan, perjanjian internasional, serta standar dan pedoman pelaporan yang telah melalui proses audit dan jaminan (assurance) pihak ketiga yang independen.
Baca Juga
Butuh Dana Rp 4.000 Triliun untuk Capai Target Penurunan Emisi
Evaluasi terhadap pengungkapan ESG, kata dia, perlu dilakukan untuk mengukur sejauh mana transparansi ESG yang telah dicapai perusahaan dan langkah apa yang dapat dipraktikkan untuk meningkatkan pencapaian pengungkapan ESG.
Ketua Tim Juri ESG Disclosure Transparency Awards 2023, Prof Roy Sembel menuturkan, perusahaan yang menjalankan ESG di Indonesia terus meningkat. “Ini perkembangan positif. ESG harus menjadi concern bersama dan menjadi gerakan seluruh stakeholders bangsa ini,” ucap dia.
Berbagai kajian, menurut Roy Sembel, menunjukkan ESG mampu meningkatkan kinerja bisnis dan harga saham perusahaan. Tetapi banyak pula kajian yang menyatakan ESG tidak memiliki korelasi langsung dengan kinerja bisnis dan harga saham perusahaan.
Baca Juga
Terlepas dari hal itu, kata Guru Besar IPMI International Business School tersebut, jika menjadi gerakan masif, ESG dapat menyelamatkan bumi dan generasi mendatang.
Pemimpin Redaksi investortrust.id, Primus Dorimulu mengungkapkan, kelebihan pengungkapan ESG yang menjadi dasar penilaian ESG Disclosure Transparency Awards 2023 di antaranya perusahaan menjadi lebih lincah (agile) dan unggul dalam menyesuaikan kondisi kerja, serta dapat menjawab berbagai kebutuhan dari lembaga rating ESG.
Selain itu, perusahaan makin fokus pada keberlanjutan, dapat bertahan dalam situasi politik, sosial, dan lingkungan yang cepat berubah. “Juga menjadi legasi baru di tengah permasalahan ekonomi,” kata Primus.

