Top! Pertamina Alokasikan 65% Investasi untuk Energi Hijau
JAKARTA, investortrust.id –PT Pertamina (Persero) terus berupaya meningkatkan kontribusi energi hijau pada portofolio bisnisnya. Salah satu Langkah nyata yang ditempuh dengan mengembangkan bisnis carbon capture storage (CCS) dan gas alam cair (LNG). Bisnis yang dikembangkan secara terintegrasi ini merupakan bagian dari upaya nyata mengurangi emisi karbon.
Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan, perseroan akan mengubah tren investasi secara bertahap dari bisnis minyak (fuel) kepada bisnis carbon capture dan solusi gas alam. Hal itu ditegaskan Nicke Widyawati melalui keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Kamis (7/9).
Pengembangan energi hijau ini, menurut Nicke Widyawati, sejalan dengan target pemerintah mengurangi emisi karbon hingga nol persen pada 2060.
Baca Juga
Jaring Investasi Asing, Pertamina Kebut 2 Strategi Pengembangan Energi Hijau
“Indonesia memiliki kapasitas penyimpanan CO2 sebanyak 400 gigaton. Jadi, kami dapat mengembangkan sebuah pusat kawasan untuk CO2. Dan sangat penting bahwa mekanisme perdagangan karbon harus dibentuk agar CCUS menjadi lebih layak secara ekonomi,” terabf Nicke Widyawati.
Sejauh ini negara-negara di dunia menghadapi masalah serius terkait perubahan iklim. Upaya mencapai tujuan bersama mencapai emisi nol karbon pun tidak mudah. “Oleh karena itu, semua negara dan perusahaan sedang berlomba menuju tujuan yang sama, yakni tercapainya emisi nol karbon,” lanjut Nicke Widyawati.
Menurut Nicke, Pertamina mulai merealisasi peta jalan transisi energi yang tepat. Caranya dengan menjaga keseimbangan antara keandalan dan keamanan energi nasional sekaligus mengatasi masalah iklim.
Baca Juga
Tampil di AIPF 2023, Nicke Widyawati Tegaskan Komitmen Pertamina Dukung Transisi Energi Indonesia
“Menyadari adanya kontribusi bisnis yang mewariskan emisi karbon, kami mengembangkan bisnis karbon negatif, termasuk carbon capture, utilization and storage (CCUS) serta solusi gas alam,” ujar Nicke.
Sesuai perencanaan jangka panjang, Pertamina mengalokasikan sekitar 60-65% investasi untuk pengembangan gas alam cair (LNG) di sektor hulu. Pertamina juga mengalokasikan 15% dari CAPEX untuk mengembangkan bisnis nol karbon seperti panas bumi, energi surya dan angin.
“Tujuan utama kami adalah mencapai keamanan dan kemandirian energi. Penting untuk dicatat bahwa meskipun kami terus mengoperasikan aset minyak dan gas kami, namun kami melakukannya dengan lebih sadar terhadap lingkungan melalui operasional bisnis yang berkelanjutan,” ujar Nicke.
Baca Juga
Pertamina Mau Kurangi Ketergantungan di Bisnis Fuel, Begini Strateginya
Saat ini Pertamina telah memulai beberapa upaya dekarbonisasi untuk mengurangi emisi dari aset bisnis perseroan. Upaya itu berhasil mengurangi emisi karbon hingga 31%.
Berkat upaya tersebut, Pertamina berada di peringkat kedua secara global dalam sub-sektor minyak dan gas terintegrasi dalam hal kinerja ESG.“Kami menganggap ini sebagai awal yang baru dan tetap berkomitmen untuk inisiatif lebih lanjut,” tegas Nicke Widyawati.
Baca Juga

