DEB Uma Palak Pertamina Padukan Energi Bersih dan Ketahanan Pangan, Jadi Sorotan di Ascope Ke-51
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Program Desa Energi Berdikari (DEB) berbasis urban farming yang dikembangkan PT Pertamina (Persero) di Bali sukses mencuri perhatian delegasi ASEAN Council on Petroleum (ASCOPE). Model pemberdayaan masyarakat berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT) ini dinilai unik dan berpotensi diadopsi oleh National Oil Company (NOC) negara-negara tetangga.
Ketertarikan tersebut mengemuka saat para delegasi meninjau langsung kawasan DEB Uma Palak Lestari di Denpasar Utara, Bali. Konsep penggabungan transisi energi bersih dan ketahanan pangan dinilai memberikan dampak langsung bagi masyarakat lokal.
"Dari testimoni para delegasi, mereka menyampaikan belum pernah melihat model pengelolaan community involvement development seperti ini sebelumnya. Bahkan, delegasi dari Timor Leste secara khusus menanyakan estimasi biaya hingga potensi pendapatan petani untuk dipelajari," ujar Corporate Secretary PT Pertamina (Persero), Arya Dwi Paramita, dikutip Sabtu (31/10/2026).
Keunggulan utama model DEB Pertamina terletak pada nilai multiplier effect yang tinggi. Kelompok Usaha Bersama (KUB) petani lokal mampu menghasilkan pendapatan (revenue) hingga lebih dari 32.500 Dolar AS per tahun.
Program yang mengoptimalkan lahan seluas 10 hektare ini dikelola oleh 35 anggota kelompok tani dan memberi dampak ekonomi langsung kepada lebih dari 400 warga sekitar.
Baca Juga
Pertamina Raih Platinum Star ESG Awards 2026, Perkuat Bisnis Migas dan Energi Rendah Karbon
Tingginya pendapatan petani didorong oleh pemilihan komoditas premium, yakni beras jenis Mentik Susu. Beras ini memiliki nilai jual tinggi di pasar berskala high-end karena memiliki indeks glikemik rendah serta kandungan serat yang tinggi.
Perubahan signifikan ini dirasakan langsung oleh para penggerak di tingkat tapak. I Made Darayasa (62), Pekaseh (Ketua) Subak Sembung, bersama Wayan Sukadana (47), Ketua Komunitas Umepala Lestari, mengungkapkan bahwa kehadiran Pertamina menjadi solusi atas kendala klasik petani seperti kelangkaan air dan mahalnya biaya operasional.
Melalui Sistem Suplai Energi Manajemen Irigasi Uma Palak (SIUMA), yang memadukan kincir air (mikrohidro) dan panel surya, petani di wilayah hilir kini tidak lagi kesulitan air saat musim kemarau. Aliran sungai ditarik untuk mengairi sawah, sekaligus menyuplai penerangan jalan usaha tani seluas 10,26 hektar tersebut.
"Sebelum ada Siuma, kami sering berebut air saat musim kemarau. Sekarang, air (sungai) yang terbuang (mengalir) bisa dinaikkan kembali untuk mengairi sawah," ungkap Wayan Sukadana.
Terpisah, Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, menekankan bahwa ketahanan energi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan memenuhi kebutuhan saat ini, tetapi juga memastikan keberlanjutan energi untuk generasi mendatang.
“Di sektor energi, ketahanan berarti memastikan bahwa sistem yang kita andalkan saat ini mampu terus memenuhi kebutuhan masyarakat, mendukung perekonomian, dan melayani generasi mendatang,” ujar Simon.
Simon menambahkan, keberadaan DEB yang diinisiatif Pertamina, mendukung penciptaan nilai ekonomi sekaligus mendorong kemandirian masyarakat di desa desa.
