Organic Culture: Mengelola Dosa Konsumerisme Berupa Sampah Lautan jadi Produk Fashion
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Di tangan manusia, tutup botol plastik punya eksistensi dengan durasi yang relatif pendek. Dalam hitungan detik, setelah dipisahkan dari tutupnya, dia kerap terbuang begitu saja.
Meski terbuang, tutup botol plastik “hidup” ratusan tahun. Bertahan. Tak terurai.
Saat angin muson barat terkembang, tutup botol plastik kerap kembali ke daratan dan mengotori pasir pantai. Fenomena itu disebut debris marines.
Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, turut merasakan kehadiran fenomena ini.
Tapi, fenomena ini menjadi inspirasi dari pasangan dokter asal Kabupaten Banyuwangi, Ananta Naufal Habibi dan Anita Yuni Kholillah. Pasangan ini mendirikan Organic Culture pada 2021. Sebagai identitas merek fashionnya, Organic Culture memanfaatkan bahan-bahan yang tak lagi digunakan atau sampah.
Organic Culture menjadi salah satu UMKM binaan Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) wilayah Jember, Jawa Timur. Jenama ini turut dalam peragaan busana Indonesia International Modest Fashion Festival (IN2MOTIONFEST) 2026 yang digelar di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, 14-18 Oktober 2026.
COO Organic Culture, Wanda Tri Utami mengatakan Organic Culture merupakan merek pakaian yang memiliki visi “transforming fashion for climate action”.
“Jadi, kita meminimalisir untuk mengurangi adanya dampak dari penggunaan sampah lingkungan ataupun limbah, untuk mitigasi iklim,” kata Wanda, kepada investortrust, Rabu (14/10/2026).
Beberapa produk buatan Organic Culture dibuat menggunakan sisa bahan denim. Bahan-bahan sisa denim ini dikumpulkan dari permak celana jin yang ada di Kabupaten Banyuwangi. Selain itu, Organic Culture juga menggunakan limbah High Density Polyethylene atau HDPE, bahan tutup botol plastik.
Sampah tutup botol plastik tersebut diperoleh melalui gerakan bersih-bersih pantai di Kabupaten Banyuwangi bernama Beach Clean Up. Gerakan ini dikolaborasikan dengan sektor pendidikan di kabupaten tersebut.
“Hasil HDPE-nya kita collect, lalu kita jadikan produk fashion. Di sini kita ubah jadi gesper, kemudian ada juga kancing,” kata dia.
Dari sisi desain, Wanda bercerita, Organic Culture menggabungkan sirkularitas dan desain dalam satu brand strategy. Cara ini untuk memunculkan desain multifungsi. Konsep tersebut tertuang dalam produk rompi yang dapat digunakan juga sebagai totebag.
“Itu untuk mengurangi tentang penggunaan atau budaya konsumerisme yang sangat tinggi,” kata dia.
Cerita tentang sirkularitas Organic Culture tak hanya berhenti pada produk pakaiannya. Mereka juga memikirkan hang tag alias label gantung yang ada di setiap produknya. Label gantung di setiap produk fashion, kerap bernasib sama seperti botol plastik. Dibuang pemiliknya.
Baca Juga
Menteri LH Siapkan Skema EPR, Produsen Wajib Kelola Sampah Plastik hingga Limbah Elektronik
Organic Culture tak ingin sampah label gantung itu sulit terurai. Sebagai solusi, digunakanlah limbah dari pelepah pisang dan jerami sebagai bahan label gantung. Mereka memproses limbah tersebut menjadi bahan kertas ramah lingkungan dengan proses sekitar 4-5 hari.
“Dua harian hancur atau larut secara fisik,” kata dia.
Yang terbaru, hang tag ini terpasang dalam kolaborasi Organic Culture dengan Osing Pink, yayasan yang beranggotakan para penyintas dan pejuang kanker payudara di Banyuwangi. Yayasan ini kerap melakukan pendampingan, edukasi kesehatan, hingga dukungan moral untuk para pasien dan penyintas kanker payudara.
Dengan kerja sama ini, Organic Culture membuat label gantung dibuat berwarna merah muda dengan ornamen serat-serat benang berwarna sama.
Di stan Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026, Organic Culture menyediakan wastra bernuansa sama. Selain itu, mereka juga menyediakan amplop yang dapat diisi pesan-pesan dukungan dari pengunjung ke penyintas kanker payudara.
Orientasi bisnis
Ekosistem pengelolaan limbah yang dibuat Organic Culture bukan hanya tentang citra. Dari sisi bisnis, pengolahan tutup botol plastik dan perca kain denim mampu menekan biaya produksi hingga 60%. Jika digabung dengan energi terbarukan yang digunakan, biaya produksi mampu ditekan hingga 30%.
“Kita lebih banyaknya [biaya produksi] lebih ke SDM, lebih ke gaji karyawan,” kata dia.
Saat ini, Organic Culture memiliki tiga orang penjahit, tiga orang yang bertugas di manajemen, dan sisanya mengurus lahan pertanian.
Baca Juga
Limbah Plastik Jadi Masalah Lingkungan, Pembersihan PET Daur Ulang Bisa Jadi Solusi
Produk yang dipasarkan Organic Culture pun cukup terjangkau di kantong. Harga yang ditawarkan mulai dari Rp 275.000 hingga Rp 550.000 per potong. “Untuk kain organik, yang dari kapas dan juga kenaf itu kita mulai dari Rp 950.000 hingga Rp 1.450.000,” kata dia.
Dalam satu bulan, kata Wanda, ekosistem bisnis Organic Culture mampu menghasilkan omzet hingga Rp 45-50 juta.
Berputar dan menghasilkan
Organic Culture bukan hanya tentang pakaian jadi. Lebih jauh, mereka mendesain aktivitas produksi di tingkat hulu dengan berbagai bahan dan energi ramah lingkungan dengan apik. Berlokasi di Dusun Krajan, Tegalharjo, Glenmore, Banyuwangi, pemilik Organic Culture juga memikirkan traceability atas produksi produknya.
Wanda menjelaskan, energi yang digunakan untuk produksi Organic Culture mengandalkan dua sumber. Untuk menggerakkan mesin jahit, Organic Culture menggunakan panel surya. Selain listrik dari panel surya, Organic Culture juga mengandalkan mesin genset. Bahan bakar dari mesin genset ini menggunakan plastik yang diolah di mesin pirolisis.
Tak hanya mengandalkan sampah yang dihasilkan dari lautan, Organic Culture juga mengelola bank sampah yang bekerja sama dengan 273 kepala keluarga (KK) di Desa Tegalharjo. Dalam sebulan, pengelolaan sampah plastik yang dilakukan Organic Culture mencapai 22 kilogram. Sementara itu, pengolahan perca denim mencapai 22 kilogram.
Selain sampah plastik, bank sampah ini juga menerima sampah sisa makanan warga. Sampah sisa konsumsi itu diolah sebagai makanan maggot. Pengelolaan sampah ini menjadi bagian tak terpisahkan dari Organic Culture. Namanya, Sky Farm Glenmore. Lokasi ini menjadi learning hub atau wadah edukasi tentang sirkularitas.
Wanda mengatakan, dengan ekosistem yang dibuat, Sky Farm Glenmore memiliki lima kemandirian, di antaranya, mandiri pangan, energi, serat, sampah, dan air. Untuk pangan, Sky Farm Glenmore menanam berbagai tanaman pangan dengan pupuk organik.
“Dari sistem pengelolaannya menggunakan IoT (Internet of Things) dan panel surya,” kata dia.
Dari sisi energi, selain mengandalkan panel surya dan bahan bakar hasil olahan plastik, Sky Farm Glenmore juga menggunakan biogas.
Wanda mengatakan di Sky Farm Glenmore juga terdapat seluas 6.000 meter persegi yang ditanami tanaman refugia seperti kapas dan abaka. Dua jenis tanaman ini menghasilkan serat alami dan kain organik.
Untuk mandiri air, Sky Farm Glenmore juga memiliki water reverse osmosis. Sistem ini digunakan untuk menyimpan air hujan dan mengubahnya sebagai air konsumsi.
Ekosistem di Sky Farm Glenmore membuatnya menjadi wadah edukasi. Dari sinilah muncul pendapatan.
“Kita menjual paket kunjungan. Kemudian ada vilanya juga,” ujar dia.
