Kompetisi Adu Ide Dari Agincourt, Simak Sejarahnya, Testimoni Peserta dan Implikasi pada Karir dan Pekerjaan
Jakarta, Investortrust.id – Industri pertambangan modern tidak lagi hanya berbicara tentang menggali, mengebor dan mengeksploitasi mineral mentah dari dalam perut bumi. Kini perusahaan pertambangan telah mengadopsi secara ketat prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) serta Good Mining Practices, membawa evolusi yang cepat pada industri pertambangan.
Di Indonesia, salah satu pionir yang secara konsisten berinvestasi pada masa depan industri ini—khususnya melalui pengembangan talenta muda—adalah PT Agincourt Resources (PTAR), pengelola Tambang Emas Martabe di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Tidak sekadar memberi bantuan berupa beasiswa atau uang tunai, juga dibuatlah sebuah kompetisi yang segar dan cerdas agar para mahasiswa terstimulasi dan mendapat pencerahan tentang bagaimana realitas dunia kerja, khususnya di bidang pertambangan.
Dengan demikian, kompetisi berjuluk OlympiAR (akronim dari Olimpiade Agincourt Resources) ini juga menjadi jembatan antara dunia pendidikan dan industri pertambangan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan. Sejak pertama kali digagas, kompetisi tingkat nasional ini telah menjadi magnet bagi ratusan mahasiswa dari jurusan teknik pertambangan, teknik geologi, ilmu lingkungan, dan geosains di seluruh penjuru Indonesia.
E-Coaching Jam, Dedikasi PTAR Menjadi Embrio OlympiAR
Kompetisi adu ide bergengsi ini tidak lahir begitu saja. Lebih dari satu dekade, PTAR memberikan sumbangsih nyata untuk dunia pendidikan dengan menyelenggarakan E-Coaching Jam. Sebuah program kuliah umum di mana praktisi dan tenaga ahli dari PTAR membagikan pengalaman dan ilmu mereka kepada mahasiswa di beberapa perguruan tinggi di Indonesia.
E-Coaching Jam (ECJ) lahir sebagai bentuk keprihatinan atas adanya kesenjangan (gap) yang cukup lebar antara apa yang dipelajari mahasiswa di bangku kuliah dan kebutuhan nyata di lapangan industri pertambangan. PTAR memulai program ini pada tahun 2014 di area stan pameran Tambang Emas Martabe yang berlokasi di Lapangan CC Barat ITB.
Sejak itu, selama bertahun-tahun, ECJ bergerak dari kampus ke kampus, memberikan seminar, diskusi online, pembekalan teknologi terbaru, hingga sesi tatap muka langsung antara mahasiswa dan puluhan pakar lintas bidang dari Tambang Emas Martabe. Hingga tahun 2024, ECJ telah berhasil menghubungkan lebih dari 5.000 mahasiswa di berbagai wilayah di Indonesia, baik secara luring maupun daring.
Rupanya manajemen PTAR tidak hanya ingin membagikan ilmu dan tips, tetapi juga ingin mengetahui seberapa jauh pemahaman para mahasiswa terhadap data riil pertambangan, selain karena melihat antusiasme mahasiswa yang begitu tinggi terhadap ECJ ini.
,PTAR lantas memutuskan menggandeng Masyarakat Geologi Ekonomi Indonesia (MGEI) untuk mengadakan sebuah kompetisi adu ide, di mana mahasiswa dituntut menguji kemampuan dalam pemodelan geologi dan estimasi sumber daya, mengolah data riil, geokimia eksplorasi, mitigasi dampak lingkungan hingga performa bisnis tambang yang selaras dengan ketahanan lingkungan. Dan, tentu saja bagaimana mereka bisa bekerja dalam satu tim dan membuat keputusan yang tepat berdasarkan data dan analisis. Kompetisi yang dirumuskan bersama MGEI ini akhirnya diberi nama OlympiAR, sebuah pengembangan dari ECJ yang membawa pembelajaran ke tahap penerapan melalui kompetisi berbasis data dan studi kasus industri.
OlympiAR dari Tahun ke Tahun, Berevolusi Sesuai Tuntutan
Sejak digelar pertama kali pada tahun 2022, OlympiAR telah mengalami perubahan tema dan skala, terutama tema-tema yang mencerminkan isu-isu paling update saat itu pada industri pertambangan secara global.
1. Edisi Perdana: OlympiAR 2022 – "Mineral Discovery, Unearthing Sustainable Future"
Diluncurkan pertama kali secara resmi pada pertengahan Desember 2022 di Gedung Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) Institut Teknologi Bandung (ITB), ajang ini langsung menarik perhatian luas di kalangan mahasiswa pertambangan. Sebanyak 72 tim dari 26 universitas di Indonesia mendaftar untuk menguji kemampuan mereka dalam pemodelan geologi dan estimasi sumber daya (resources estimation).
Pada edisi ini, finalis diberikan tantangan berat untuk mengolah data eksplorasi riil, menghasilkan wireframe mineralisasi yang berkaitan dengan data geologi, hingga mempresentasikan dan mempertahankan esai pasca-tambang. Pengumuman pemenang yang digelar di Yogyakarta pada 1 April 2023 mencatatkan sejarah baru dengan tim-tim di bawah ini berhasil menempati posisi sebagai berikut:
Juara 1: Tim Magsite dari Universitas Diponegoro (UNDIP)
Juara 2: Tim Sylvite dari Institut Teknologi Bandung (ITB)
Juara 3: Tim Enargite dari UPN "Veteran" Yogyakarta
2. Edisi Kedua: OlympiAR 2024 – "Harmony in the Elements: Navigating Sustainable Mining Practices"
Gelaran perdana OlympiAR terbilang sukses. Antusiasme mahasiswa perguruan tinggi dari berbagai penjuru tanah air kini tertampung lebih baik. Pada gelaran kali kedua, jumlah peserta melonjak drastis. Dari sebelumnya 72 tim dari 26 universitas, kali ini OlympiAR menerima pendaftaran 161 tim dari 28 universitas dengan total 600 mahasiswa yang berpartisipasi.
Edisi kedua ini dibuka di Universitas Diponegoro (UNDIP), Semarang. Akhirnya, menjadi sebuah ketetapan dan tradisi di mana tim juara bertahan berasal, di kampus itulah OlympiAR dibuka.
Fokus studi kasus pada tahun ini diperketat pada aspek geokimia eksplorasi dan mitigasi dampak lingkungan sejak fase awal operasi tambang. Babak final yang diadakan di Wisma Kagama, Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta pada 4 Mei 2024, menetapkan pemenang baru:
Juara 1: Tim Hornblende dari Institut Teknologi Bandung (ITB)
Juara 2: Tim Magnesite dari Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED)
Juara 3: Tim Petalite dari Institut Teknologi Bandung (ITB)
3. Edisi Terbaru: OlympiAR 2026 – "Orebody to Ecosystem: Integrating Mining Performance and Environmental Resilience"
Pembukaan OlympiAR 2026 kali ini sedikit berbeda dari dua edisi sebelumnya. Dihadiri oleh lebih banyak pejabat dan nama penting lainnya, termasuk Wali Kota Bandung Muhammad Farhan. Acara pada 4 September 2026 di Aula Timur ITB ini disesaki ratusan mahasiswa dari kampus-kampus di Bandung dan sekitarnya.
Tema 2026 mengarahkan mahasiswa untuk mengintegrasikan performa bisnis tambang dengan ketahanan serta pemulihan ekosistem total sejak hari pertama perencanaan pembukaan lahan. Hadir sebagai pembicara Direktur Operasi PT Agincourt Resources Rahmat Lubis dan Manager Biodiversity & Environmental Strategic Development PT Agincourt Resources Syaiful Anwar yang memberikan insight tentang bagaimana pertambangan bisa selaras dengan lingkungan, termasuk memberikan kontribusi pada tata kelola keanekaragaman hayati.
Selain Wali Kota Bandung Muhammad Farhan, juga hadir Ketua Umum MGEI, Rosalyn Wuliandhary; Kepala Pusat Sumber Daya Mineral, Batubara, dan Panas Bumi Kementerian ESDM, Agung Pribadi; Staf Ahli Gubernur Jawa Barat Bidang Ekonomi dan Pembangunan Dr. Indra Maha, S.T., M.T.,; dan Wakil Dekan Bidang Sumber Daya yang mewakili Rektor ITB, Dr. Dasapta Erwin Irawan, S.T., M.T. Usai acara pembukaan di Bandung, emapt hari kemudian PTAR menyambangi Padang. Di hadapan sekitar 500 mahasiswa di Universitas Negeri Padang (UNP) pada 8 September 2026, PTAR mengajak generasi muda Sumatera mengikuti OlympiAR 2026.
Tidak sekadar menyaksikan seremoni, ratusan mahasiswa tersebut mendapat pengetahuan langsung dari praktisi. Penjelasan tentang pembentukan mineral, peran ahli geologi dalam praktik eksplorasi, dan pentingnya resources dibawakan Senior Geologist Exploration PTAR Rahmad Sinambela. Lantas berlanjut ke pembahasan mengenai konservasi biodiversitas dalam pengelolaan lingkungan tambang yang dikupas Joko Tri Atmojo, Acting Superintendent Environmental Technical Support PTAR.
Dua materi tersebut mendapat antusiasme luar biasa. Pertanyaan bertubi-tubi datang dari mahasiswa, baik yang hadir luring maupun daring. Hingga acara rampung pun, sejumlah mahasiswa Teknik Geologi mendatangi Rahmad untuk berdiskusi lebih lanjut.
Kontribusi Signifikan pada Garis Hidup dan Karier: Testimoni Para Juara
Bagi mereka yang berhasil menjuarai dan menembus ketatnya babak eliminasi hingga meraih podium juara, kompetisi adu ide ini bukan hanya melengkapi Curriculum Vitae (CV) mereka, tetapi juga memberikan kontribusi yang sangat penting dalam hidup dan perjalanan karier. Secara harfiah, hadiah uang tunai senilai puluhan juta rupiah dan kesempatan magang di tambang emas Martabe adalah sebuah penghargaan yang cukup bernilai bagi para peserta yang menjuarai kompetisi ilmiah ini. Namun, tak hanya berhenti di situ, pencapaian mereka pada ajang ini mendapatkan perhatian lebih saat pengalaman itu disematkan pada CV mereka. Hal ini diungkapkan oleh Rismawan Nurhuda, salah satu anggota Tim Hornblende dari ITB yang menjuarai OlympiAR 2024.
"Mengikuti OlympiAR adalah pengalaman paling intens sekaligus paling berharga selama masa kuliah kami. Kami tidak diberikan soal teori hafalan, melainkan tumpukan data mentah operasional tambang yang sangat masif. Di sini kami belajar bahwa akurasi ilmu geologi harus bisa bernegosiasi dengan kebijakan pengelolaan lingkungan. Pengalaman magang pasca-juara di Tambang Martabe membuka mata kami tentang bagaimana dunia kerja pertambangan yang sesungguhnya berjalan dengan standar ESG yang sangat ketat."
Hal yang tidak jauh berbeda diungkapkan oleh Affan Aji Wiwatama, alumni ITB yang tergabung dalam tim yang menjuarai OlympiAR edisi 2022 dan 2024.
"OlympiAR memaksa kami keluar dari zona nyaman akademis. Kami diuji dalam mempertahankan argumentasi sains kami di hadapan para praktisi senior industri dan akademisi kawakan saat sidang final. Kompetisi ini benar-benar membentuk mental kami menjadi lulusan yang 'industry-ready."
Aisyah Ghalda Lamis dari tim Magsite Universitas Diponegoro yang keluar sebagai juara I pada OlympiAR edisi perdana mengatakan, "Kalau benefit, dampak positif yang aku dapatkan dari kompetisi OlympiAR ini banyak sekali. Aku melihat dari perkembangan aku dalam pembelajaran, jujur, itu sangat membantu. Meskipun saat ini aku bekerja di oil and gas, bukan gold mining, ada banyak sekali tawaran pekerjaan di bidang gold mining. Mereka melihat background-ku yang punya pengalaman lomba di OlympiAR, aku pegang software, dan banyak hal lainnya. Itu mereka nilai, "Oh, oke, kamu sudah pasti bagus nih, kamu punya pengalaman, dan itu oke banget. Itu jujur mem-boost karierku hingga saat ini."
Mengomentari keikutsertaannya di Olympiar edisi perdana, Aisyah mengaku sempat nervous sekaligus kagum dengan upaya yang dilakukan PTAR. Dengan skala yang menurutnya saat itu sudah cukup besar, ia membayangkan tenaga, pikiran, dan biaya yang dikeluarkan PTAR pasti sudah sangat maksimal.
"Overall, menurutku secara pelaksanaan acara, dan sebelum kegiatan itu dimulai juga menurutku oke banget sih. Apalagi dengan skala yang sebesar itu ya, yang aku juga tahu pasti tenaga, pikiran, dan modal yang dikeluarkan sama Agincourt itu pasti sudah maksimal. Jujur, kesannya sangat-sangat menegangkan ketika ikut dan saya tahu ada puluhan tim lain yang ikut. Itu jujur agak sedikit minder, tapi tidak menciutkan nyali. Gambling-lah untuk ikut di kompetisi ini. Dan secara fasilitas, kemudian kesiapan panitia, juri, step by step penilaian, dan juga di final, menurut saya overall sudah oke banget sih. Apalagi, itu kita di tahun pertama belum punya batu pijakan, istilahnya belum punya gambaran perbandingan."
Pernyataan para peserta menunjukkan dengan jelas bagaimana PTAR menjembatani secara nyata gap antara dunia pendidikan dan industri. Di kampus, mahasiswa ini menerima pelajaran berupa teori dan praktik, tetapi saat mengikuti kompetisi ini, mereka mendapatkan data-data riil dari PTAR. Lantas saat magang, mereka mendapat pengalaman di dunia kerja pertambangan yang sesungguhnya. Apa yang dilakukan PTAR ini tentu saja mendapatkan apresiasi dari banyak pihak, tidak saja dari para peserta, tetapi juga dari kalangan akademisi, praktisi dan pejabat pemerintahan yang memandang kompetisi ini sangat membantu regenerasi talenta-talenta muda di bidang pertambangan, di tengah tren 'brain drain' yang melanda beberapa negara.
Direktur Pembinaan Pengusahaan Mineral Kementerian ESDM RI, Tri Winarno, memberikan apresiasi tinggi terhadap keterlibatan industri swasta dalam melatih calon tenaga ahli geosains. Menurutnya, pemanfaatan kekayaan mineral strategis Indonesia di masa depan membutuhkan dukungan talenta muda yang tidak hanya paham cara memproduksi, tetapi juga memiliki kepekaan tinggi terhadap aspek keberlanjutan dan regulasi energi hijau nasional, seperti dilansir oleh readnews.id.
Sementara Kepala Pusat Sumber Daya Mineral, Batubara, dan Panas Bumi Kementerian ESDM, Agung Pribadi, menegaskan bahwa Indonesia merupakan salah satu produsen mineral terbesar di dunia dengan kekayaan sumber daya alam yang sangat besar. Ia menilai bahwa pengembangan kompetensi geosains yang terintegrasi perlu didukung oleh berbagai pihak.
“Karena itu, kontribusi akademisi, pelaku usaha, dan asosiasi profesi menjadi krusial untuk memastikan pemanfaatan sumber daya alam berjalan berkelanjutan dan memberikan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia,” ujarnya.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, saat menghadiri pembukaan edisi 2026 turut memberikan apresiasi tinggi terhadap model kompetisi ini. Ia menilai OlympiAR berperan besar sebagai ruang inklusif yang menyaring talenta terbaik dari berbagai pelosok daerah di Indonesia, mengasah mereka dengan standar global, untuk kemudian mengembalikan mereka ke daerah masing-masing sebagai motor penggerak pembangunan yang berkelanjutan.
"Agar pada saatnya nanti putra-putri terbaik dari seluruh daerah akan kembali ke daerah masing-masing, memberikan kontribusi terbaiknya. Bahwa selanjutnya mereka akan diasah lewat berbagai macam program seperti OlympiAR ini. Itulah fungsi dari komunitas seperti Masyarakat Geologi Ekonomi Indonesia dan lain-lain, serta swasta, dalam hal ini tentu saja Agincourt Resources," ucap Farhan.
Penghargaan juga datang dari perwakilan asosiasi profesi. Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Ahli Geologi Indonesia/IAGI, STJ Budi Santoso, secara terang-terangan memuji materi perlombaan. Menurutnya, tema yang diangkat oleh komite sangat relevan dengan dinamika kompleks dan tantangan riil yang sedang dihadapi industri pertambangan global saat ini. Utamanya, bagaimana menyelaraskan dunia pertambangan dengan lingkungan dan menerapkan secara ketat prinsip-prinsip ESG.
Ketua Umum Masyarakat Geologi Ekonomi Indonesia (MGEI) Rosalyn Wullandhary memandang kompetisi ini dapat mengisi celah dan kekosongan kurikulum universitas yang sering kali terlalu teoritis.
Ia mengatakan, "Tuntutan terhadap praktik pertambangan yang bertanggung jawab kini semakin tinggi. Kita tidak lagi bisa mengandalkan generasi yang hanya jago di satu bidang secara kaku. Kita membutuhkan talenta muda yang mampu berpikir secara integratif—menghubungkan aspek geosains, mining, processing, teknologi, ekonomi, hingga dampaknya pada lingkungan dan masyarakat sekitar. OlympiAR adalah wadah terbaik untuk melatih cara berpikir tersebut."
Bertepatan dengan rangkaian gelaran OlympiAR di Universitas Negeri Padang pada medio September 2026, Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Hubungan Internasional UNP Dr. rer. nat. Deski Beri, S.Si., M.Si., menyambut sangat baik kolaborasi ini dan menekankan pentingnya sinergi antara kampus, industri swasta, dan pemerintah dalam membentuk kesiapan mental mahasiswa. Menurutnya, program nyata seperti OlympiAR sangat dibutuhkan untuk memperkuat standar profesionalisme mahasiswa kebumian sebelum mereka benar-benar lulus dan menghadapi tantangan masa depan industri.
Anggota Biodiversity Advisory Panel PTAR, Onrizal, S.Hut., M.Si., Ph.D., menyoroti secara khusus tema OlympiAR 2026. Ia juga mengucapkan selamat kepada PTAR, perguruan tinggi dan mahasiswa yang berpartisipasi mendukung gelaran kompetisi ilmiah ini. Onrizal berharap kegiatan ini terus berkembang sebagai ruang belajar yang melahirkan generasi profesional sumber daya alam yang kuat secara sains, terbuka terhadap kerja lintas disiplin, dan mampu menempatkan biodiversitas sebagai bagian penting dari kualitas setiap keputusan.
Onrizal berkata, "Tema OlympiAR 2026, “Orebody to Ecosystem: Integrating Mining Performance and Environmental Resilience', menurut saya menangkap satu perubahan penting dalam cara kita melihat pertambangan hari ini. Dari sudut pandang biodiversitas tropika, tubuh bijih tidak pernah benar-benar berdiri sendiri."
"Ia berada di dalam sebuah bentang alam yang hidup—terhubung dengan hutan, sungai, daerah aliran sungai, habitat satwa, jasa ekosistem, dan ruang hidup masyarakat. Karena itu, keputusan pertambangan yang baik tidak cukup hanya kuat secara teknis dan ekonomis. Ia juga perlu memperhitungkan bagaimana ekosistem bekerja, seberapa besar risikonya, dan apa yang akan tersisa dalam jangka panjang." Kata Onrizal. Pada akhirnya, tantangan pertambangan masa depan bukan hanya soal bagaimana menemukan dan memanfaatkan sumber daya mineral. Pertanyaan lainnya adalah bagaimana mengambil keputusan yang paling bertanggung jawab ketika sumber daya itu berada di tengah sebuah ekosistem yang hidup.
Warisan untuk Masa Depan Pertambangan Indonesia
Perjalanan OlympiAR menunjukkan perluasan yang konsisten: dari pemodelan geologi dan estimasi sumber daya pada 2022, geokimia dan mitigasi lingkungan pada 2024, hingga integrasi kinerja pertambangan dan ketangguhan lingkungan pada 2026. Ke depan, tanpa meninggalkan fondasi geologi, OlympiAR diharapkan berkembang menjadi kompetisi lintas disiplin yang semakin kuat melibatkan engineering, operasional, pengolahan mineral, keselamatan, lingkungan, dan aspek sosial.”
Konsistensi PT Agincourt Resources untuk terus menggelar dan meningkatkan kualitas OlympiAR dalam mengawal edukasi kebumian telah diakui secara luas di tingkat nasional, salah satunya dengan diraihnya penghargaan Silver pada Indonesia SDGs Award (ISDA) 2024.
Walau baru dilahirkan empat tahun silam, OlympiAR kini menjelma menjadi sebuah brand kompetisi prestisius nasional. OlympiAR telah membuktikan bahwa industri pertambangan emas dan pelestarian lingkungan bukanlah dua poros yang harus saling berbenturan. Di bawah bimbingan para praktisi profesional, ajang ini terus berjalan demi mencetak generasi pemikir masa depan yang tidak hanya cerdas mengeksplorasi komoditas berharga, tetapi juga tangguh dalam merawat kelestarian ekosistem Indonesia.
Meski OlympiAR bukan satu-satunya kompetisi geologi di Indonesia, OlympiAR cukup menonjol karena cakupan integrasinya yang luas ditambah hadiah magang di Tambang Emas Martabe membuat kompetisi ini memiliki nilai lebih. Melalui OlympiAR, mahasiswa geosains Indonesia memiliki saluran kompetisi untuk menakar kemampuan mereka dengan sparring partners dari tim universitas lain yang sepadan.
OlympiAR memiliki daya tarik tersendiri karena tidak hanya menguji teori akademis, melainkan juga mengadopsi data operasional riil dari lapangan pertambangan. Berikut adalah keunggulan utama OlympiAR serta sumbangsih besar terhadap dunia pendidikan dan industri pertambangan sejak pertama kali digelar:
Studi Kasus Berbasis Data Industri Nyata: Peserta tidak mengerjakan soal teori di atas kertas, melainkan ditantang untuk memecahkan masalah riil pengolahan data eksplorasi dan mitigasi dampak lingkungan menggunakan perspektif praktisi.
Keseimbangan Aspek Bisnis dan ESG: Berbeda dengan kompetisi teknik biasa, fokus penilaian OlympiAR sangat menekankan keselarasan antara kinerja operasional pertambangan (mining performance) dengan ketahanan ekosistem (environmental resilience).
Akses Magang Berbayar Eksklusif: Pemenang utama mendapatkan kesempatan emas untuk melakukan magang kerja berbayar langsung di Tambang Emas Martabe, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.
Pendekatan Inklusif Multiregional: OlympiAR 2026 memberikan apresiasi khusus dan memperluas panggung sosialisasi hingga ke universitas di luar Pulau Jawa (seperti Universitas Negeri Padang) guna memotivasi talenta geosains lokal di daerah kaya mineral.
Langsung atau tidak langsung, kompetisi adu ide yang diadakan PT Agincourt Resources ini memberikan kontribusi nyata terhadap dunia pendidikan, terutama dalam hal mempersiapkan talenta yang 'industry-ready' setelah lulus dari perguruan tinggi. OlympiAR memangkas kesenjangan Industri dan Kampus. Bila dirunut pada kiprah program pendahulunya, E-Coaching Jam (ECJ) yang telah membimbing lebih dari 5.000 mahasiswa sejak 2014, kompetisi ini sukses memperkecil celah antara teori ruang kelas dengan praktik lapangan. Olympiar tidak melulu tentang geologi, melainkan juga tentang disiplin ilmu lingkungan dan telah diperkaya dengan bantuan AI. Dalam Olympiar, mahasiswa dihadapkan pada tantangan yang mencakup mata rantai pertambangan yang lebih utuh: geologi, engineering, operasional, lingkungan, dan bisnis, serta dibimbing praktisi lintas bidang.
OlympiAR juga telah mencetak lulusan Siap Pakai (Industry-Ready Graduates) dengan program mentoring dan pelatihan teknologi geosains yang melengkapi rangkaian lomba dan berhasil membentuk pola pikir mahasiswa agar mampu berpikir secara integratif (menghubungkan teknik, ekonomi, dan sosial) sebelum lulus. Kompetisi ini juga mendorong kolaborasi lintas disiplin atau lintas bidang. Mahasiswa dari rumpun yang berbeda (geologi, teknik pertambangan, dan teknik lingkungan) disatukan untuk merumuskan satu solusi terpadu.
OlympiAR juga bisa menjadi wadah inkubasi ide inovatif yang diolah oleh para peserta selama masa kompetisi. Gagasan segar dari riset-riset alternatif yang diajukan para mahasiswa memberikan perspektif baru bagi para praktisi dalam menyelesaikan tantangan operasional harian tambang, seperti pengelolaan limbah batuan sisa dan konservasi keanekaragaman hayati.
Terlebih bagi dunia industri pertambangan, kompetisi ini menjadi katalisator bagi budaya Good Mining Practice. Dengan melatih ribuan calon tenaga profesional sejak bangku kuliah, kompetisi ini menanamkan fondasi kuat mengenai pentingnya standar Good Mining Practice dan regulasi ketahanan lingkungan pada industri pertambangan di masa depan yang berkelanjutan dan bertanggung jawab.
