Walhi Jabar Apresiasi Komitmen Lingkungan Eiger Nature
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Barat (Jabar) mengapresiasi keterbukaan Eiger Nature dalam menjalankan berbagai upaya pelestarian lingkungan.
Direktur Eksekutif Daerah Walhi Jawa Barat Wahyudin Iwang mengungkapkan, Eiger Nature menunjukkan keterbukaan terhadap berbagai masukan, termasuk kritik terkait pengelolaan lingkungan.
“Selama ini kami melihat Eiger Nature sebagai salah satu perusahaan yang masih memiliki komitmen. Kami juga melihat bahwa Eiger sangat terbuka untuk menerima saran, masukan, termasuk kritik. Jarang sekali perusahaan yang bisa menempatkan dirinya seperti itu,” ujarnya, dalam keterangan pers, Selasa (6/10/2026).
Baca Juga
Walhi: Banjir dan Longsor Banyak Disebabkan Kerusakan Alam Akibat Tambang
Dari peninjauan lapangan, lanjut Iwang. Walhi Jabar melihat sejumlah rekomendasi telah ditindaklanjuti, termasuk dengan melibatkan pakar dan akademisi dalam pengembangan kawasan.
Walhi Jabar juga menyampaikan, berdasarkan peninjauan berkala yang dilakukan, aspek perizinan dan dokumen lingkungan yang diperlukan telah dipenuhi.
Pengembangan Eiger Nature sendiri telah berlangsung sejak 2018 dan mencakup sejumlah dokumen, seperti perizinan tata ruang, persetujuan lingkungan, site plan, dan perizinan bangunan.
Meski begitu, Iwang menekankan bahwa komitmen terhadap pengelolaan lingkungan merupakan proses jangka panjang yang perlu terus dijalankan dan diperkuat.
“EIGER Nature ini masih berada di tahap awal dan akan berlangsung dalam jangka panjang,” katanya.
Baca Juga
Walhi Sarankan 3 Hal Ini untuk Keseimbangan Alam dan Kebutuhan Ekonomi
“Kalau terus dilakukan dengan serius dan terus melibatkan tim pakar, akademisi, serta NGO, ini bisa menjadi pilot project atau menjadi pembelajaran bagi pengusaha lain yang menjalankan kegiatan berbasis alam,” sambung Iwang.
Sementara itu, Direktur Utama Eiger Nature Imanuel Wirajaya mengatakan, keterlibatan berbagai pihak merupakan bagian dari pendekatan kolaboratif atau pentahelix dalam mengevaluasi pengelolaan kawasan.
“Kami ingin membuka ruang agar masukan dan kritik tidak hanya disampaikan, tetapi juga dapat dilihat kembali secara langsung di lapangan, apa yang sudah dilakukan, apa yang sudah baik untuk dipertahankan, dan apa yang perlu diperbaiki atau ditingkatkan,” ucapnya.
