Aroma Rarak Menembus Batas, Kopi Kawa Rama Naik Kelas
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Aroma kopi yang baru disangrai memenuhi ruang produksi Kopi Kawa Rama di Rarak Ronges, Kecamatan Brang Rea, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB). Dari tempat sederhana itu, biji kopi yang tumbuh di perbukitan tidak lagi sekadar menjadi hasil perkebunan. Biji diolah menjadi produk dengan identitas, kemasan, dan nilai ekonomi yang lebih besar.
Perjalanan tersebut menjadi titik penting bagi usaha Wardani Murti, pemilik Kopi Kawa Rama. Sebelum mendapatkan pendampingan, produksi dan penjualan Kawa Rama masih terbatas. Perubahan mulai terasa sejak 2023, ketika Kawa Rama menjadi salah satu UMKM binaan PT Amman Mineral Nusa Tenggara, anak usaha PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN).
Baca Juga
Amman (AMMN) Bidik Lonjakan Produksi Smelter, Katoda Tembaga Tembus 162 Ribu Ton pada 2026
Salah satu langkah awal yang diikuti Wardani adalah pelatihan branding. Dari sana, ia mulai melihat bahwa kopi lokal memiliki peluang lebih luas jika dikelola dengan pengetahuan dan strategi yang tepat.
"Awalnya pada 2023 kita menjadi UMKM binaan PT Amman. Itu pertama kita mengikuti pelatihan branding yang diadakan oleh Amman Mineral dengan beberapa rekan-rekan yang ada di Kabupaten Sumbawa Barat," ujar Wardani saat dihubungi Investortrust.id, Rabu (29/7/2026).
Kopi Kawa Rama merupakan coffee roastery yang berlokasi di Rarak Ronges. Usaha tersebut memproduksi kopi dalam bentuk biji sangrai maupun bubuk dengan pilihan Robusta, Arabica hingga Liberika. Kawa Rama juga melayani jasa sangrai bagi konsumen yang ingin mengolah biji kopinya sendiri.
Namun, perubahan paling dirasakan Wardani bukan sekadar pada produk, melainkan semakin luasnya pengenalan terhadap merek Kawarama. "Sejauh ini kontribusi yang sangat besar dan paling bermanfaat bagi Kopi Kawa Rama adalah PT Amman berkomitmen memperkenalkan kopi produk lokal Robusta dari Rarak di Nusantara bahkan untuk pasar ekspor," katanya.
Baca Juga
Seruput Kopi di Sela Pidato, Prabowo: Tenang Aja, Pemilu Masih Lama
Dukungan tersebut turut membuka akses ke pasar baru. Produk Kawa Rama diperkenalkan kepada konsumen di luar wilayah asalnya, termasuk melalui jaringan perusahaan.
"Sebelumnya penjualan atau produksi kami tidak begitu banyak, tapi semenjak menjadi UMKM binaan Amman, produk Kopi Kawa Rama banyak dikenal dan alhamdulillah laku sehingga tingkat produksi kami semakin tinggi," ujar Wardani.
Dari Branding hingga Membuka Pasar
Produk yang memiliki cita rasa baik belum tentu cukup untuk berkembang, terlebih produk UMKM. Untuk itu, produk membutuhkan identitas, legalitas, kemasan yang sesuai, sekaligus akses kepada konsumen.
Pendampingan Amman menyentuh sejumlah aspek tersebut. Wardani mengatakan program yang diikutinya mencakup branding, desain kemasan, pemasaran, hingga sertifikasi. "Sejauh ini yang saya rasakan Amman sangat membantu dalam pemasaran produk kami," kata Wardani.
Dukungan juga mencakup proses sertifikasi halal dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Aspek tersebut penting bagi UMKM untuk membangun kepercayaan sekaligus memperluas peluang kerja sama.
Kisah Kawa Rama memperlihatkan bahwa pengembangan usaha lokal tidak selalu dimulai dari investasi besar. Pendampingan, akses pasar, serta kemampuan membangun identitas produk dapat menjadi modal penting bagi usaha untuk naik kelas.
Peran UMKM sendiri memiliki arti besar bagi perekonomian. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut UMKM berkontribusi 60,51% terhadap produk domestik bruto (PDB) dan menyerap hampir 96,92% tenaga kerja nasional. "Potensi UMKM menjadi modal dalam ekosistem pengembangan ekonomi," kata Airlangga dalam sebuah kesemppatan.
Di Rarak Ronges, ekosistem tersebut perlahan terbentuk. Ada petani yang merawat tanaman kopi, masyarakat yang mengolah hasil panen, pelaku usaha yang menyangrai dan mengemas, pendamping yang membuka akses, serta konsumen yang menentukan keberlanjutan pasar.
Merawat Kopi dari Hulu
Pertumbuhan bisnis kopi tidak dapat hanya mengandalkan sisi hilir. Di balik produk yang dijual, terdapat kebutuhan untuk memastikan bahan baku tetap tersedia dengan kualitas yang konsisten.
Untuk itu, pengembangan kopi Rarak Ronges juga diarahkan ke tingkat budidaya. Amman bersama Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia menjalankan program pengembangan demplot kopi Robusta unggul pada periode 2024–2025.
Program tersebut mencakup pendampingan budidaya, pengenalan praktik pertanian yang baik, distribusi bibit kopi dan pohon penaung, serta peningkatan kualitas pascapanen. Pendekatan dari hulu hingga hilir menjadi penting karena keberlangsungan bisnis kopi sangat bergantung pada kualitas bahan baku. Tanpa kebun dan petani yang mampu menjaga kualitas, pertumbuhan usaha pengolahan dan pemasaran akan sulit bertahan.
Rarak Ronges berada pada ketinggian sekitar 500–1.000 meter di atas permukaan laut. Wilayah tersebut sesuai untuk pengembangan Robusta. Dalam laporan keberlanjutan Amman, hasil uji cita rasa sebagian besar sampel kopi dari kawasan itu masuk kategori Robusta berkualitas tinggi dengan karakter gula merah dan rempah.
Potensi tersebut membuka peluang bagi kopi Rarak untuk tidak berhenti sebagai komoditas. Melalui pengolahan dan penguatan merek, kopi dapat memiliki nilai tambah sekaligus membawa identitas daerah asalnya.
Penanaman pohon penaung juga menjadi bagian dari upaya membangun sistem budidaya yang lebih ramah lingkungan. Dengan begitu, pengembangan kopi tidak semata mengejar peningkatan produksi, tetapi juga menjaga keberlanjutan kebun.
Ketika permintaan terhadap kopi lokal meningkat, nilai ekonomi yang tercipta pun berpotensi menyebar ke sepanjang rantai usaha, mulai dari petani, pengolah, pekerja hingga pelaku usaha pendukung lainnya.
Membawa Nama Rarak ke Pasar Lebih Luas
Perjalanan Kawarama kini mulai bergerak melampaui Pulau Sumbawa. Wardani menyebut pihaknya telah menjalin kerja sama dengan perusahaan roastery kopi di Pulau Lombok dan menyiapkan peluang kerja sama pasokan biji kopi pada tahun berikutnya.
"Alhamdulillah Kawarama berhasil menjangkau pasar baru, terutama kalau di luar Pulau Sumbawa. Kita sudah ada kerja sama dengan perusahaan roastery kopi yang ada di Pulau Lombok," ujar Wardani.
Perluasan pasar menjadi langkah penting bagi UMKM karena memberikan ruang untuk meningkatkan kapasitas produksi sekaligus membangun jaringan bisnis. Namun, pertumbuhan tersebut juga membawa tantangan baru, terutama dalam menjaga konsistensi mutu dan pasokan.
Senior Manager Social Impact Amman Aji Suryanto mengatakan program peningkatan kapasitas UMKM Amman dibangun dengan semangat keterbukaan dan pemberdayaan.
“Amman membuka kesempatan bagi UMKM lokal yang memiliki komitmen untuk berkembang, mengikuti pelatihan, dan menjalankan pendampingan secara berkelanjutan,” kata Aji saat menjawab pertanyaan Investortrust.id.
Menurutnya, Kopi Kawa Rama memiliki kekuatan karena membawa identitas Rarak Ronges dan Sumbawa Barat. Produk tersebut tidak hanya menawarkan cita rasa, tetapi juga cerita mengenai potensi lokal yang dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah.
Baca Juga
Smelter Amman (AMMN) Siap Capai Kapasitas 900 Ribu Ton Per Tahun
Pendampingan mencakup kemasan, pengelolaan usaha, literasi keuangan, legalitas, hingga pembukaan akses pasar. Tujuan akhirnya adalah membangun kemampuan pelaku usaha agar dapat tumbuh semakin mandiri.
Pengembangan Kawa Rama menjadi bagian dari pilar economic empowerment Amman dalam program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat. Fokusnya adalah memperkuat kapasitas pelaku usaha mikro dan kecil agar mampu mendorong ekonomi lokal, mengembangkan produk, serta membangun kemandirian komunitas.
Sementara untuk masyarakat Rarak Ronges, pengembangan kopi memiliki arti lebih luas. Komoditas lokal tersebut dapat menjadi salah satu sumber pendapatan sekaligus membantu diversifikasi ekonomi daerah.
Ketika kopi mampu diolah menjadi produk bernilai tambah dan menemukan pasar di luar daerah, manfaat ekonominya tidak berhenti pada produk akhir. Nilai tersebut dapat kembali kepada petani dan masyarakat yang berada di sepanjang rantai pasok.
Baca Juga
Dari Perut Bumi ke Ruang Usaha, Amman Merajut Nilai Tambah di Sumbawa
Adapun bagi Wardani, perjalanan Kawa Rama pun belum selesai. Dari Rarak Ronges, ia ingin membawa Kopi Kawarama menjangkau lebih banyak konsumen di luar Sumbawa. Wardani membawa nama sebuah desa, kerja keras petani, serta harapan agar potensi lokal mampu menciptakan nilai ekonomi yang berkelanjutan.
Dari kebun hingga secangkir kopi, Kawa Rama menunjukkan bahwa ketika potensi lokal dirawat bersama, sebuah komoditas sederhana dapat tumbuh menjadi cerita ekonomi yang lebih besar.
