Ekonomi Sirkular Berkontribusi Rp 638 T ke PDB dan Bisa Ciptakan 4,4 Juta Pekerjaan Hijau
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD) mendorong penguatan kolaborasi lintas sektor untuk mempercepat penerapan ekonomi sirkular sekaligus mendukung transformasi industri hijau Indonesia. Dorongan tersebut disampaikan dalam Circular Economy Forum 2026 yang digelar sebagai bagian dari Indonesia Sustainability 360 Forum 2026 di SMESCO Convention Hall, Jakarta, beberapa waktu lalu.
Penerapan ekonomi sirkular pada sektor-sektor prioritas di Indonesia diproyeksikan dapat memberikan kontribusi hingga Rp 638 triliun terhadap produk domestik bruto (PDB) dan menciptakan 4,4 juta pekerjaan hijau.
Direktur Eksekutif IBCSD Dr. Indah Budiani mengatakan penerapan ekonomi sirkular membutuhkan ekosistem yang dapat mempertemukan berbagai aktor, kebutuhan, dan solusi yang selama ini berjalan secara terpisah.
“Circular Economy Hub yang sedang kami dorong diharapkan dapat menjadi infrastruktur kolaborasi, tempat kebutuhan perusahaan bertemu dengan solusi, inovasi bertemu dengan pembiayaan, dan pengalaman implementasi menjadi evidence bagi kebijakan,” ujar Indah dalam acara bertema “Scaling Circular Economy Systems for Competitive and Sustainable Growth” dikutip Selasa (1/9/2026).
Baca Juga
Kolaborasi Ekonomi Sirkular Tekstil Didorong, Daur Ulang Baru 12%
Menurut Indah, Circular Economy Hub akan dikembangkan sebagai ruang untuk menyediakan wawasan berbasis bukti bagi pengembangan kebijakan dan strategi ekonomi sirkular. Platform tersebut juga diarahkan untuk mendorong penerapan serta replikasi praktik terbaik melalui pertukaran pengetahuan dan pengalaman.
Di sisi lain, hub tersebut akan memperkuat hubungan antarpelaku di berbagai sektor dan rantai nilai sehingga kebutuhan bisnis dapat terhubung dengan teknologi, pembiayaan, dan solusi yang tersedia.
Circular Economy Forum 2026 mempertemukan pemerintah, dunia usaha, sektor keuangan, asosiasi industri, penyedia solusi, serta pemangku kepentingan lainnya. Forum tersebut untuk menjembatani sejumlah kesenjangan dalam penerapan ekonomi sirkular, mulai kebijakan dan pengetahuan hingga kapasitas, pembiayaan, teknologi, dan kebutuhan bisnis.
Ekonomi sirkular semakin penting di tengah tekanan terhadap ketersediaan sumber daya, rantai pasok, serta kebutuhan industri untuk meningkatkan efisiensi dan menekan emisi. Penerapan ekonomi sirkular pada sektor-sektor prioritas di Indonesia diproyeksikan dapat memberikan kontribusi hingga Rp 638 triliun terhadap PDB, menciptakan 4,4 juta pekerjaan hijau, dan mengurangi emisi hingga 126 juta ton karbon dioksida ekuivalen pada 2030.
Namun, tingkat sirkularitas Indonesia masih relatif rendah. Pada 2023, input material sirkular tercatat sekitar 9%, tingkat pemanfaatan material mencapai 4%, sedangkan tingkat daur ulang berada di level 5%.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ekonomi sirkular tidak hanya berkaitan dengan pengelolaan limbah. Pendekatan ini mencakup upaya mempertahankan sumber daya, material, produk, dan nilai ekonomi agar dapat digunakan lebih lama dalam sistem produksi dan konsumsi.
Direktur Lingkungan Hidup Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional atau Bappenas Nizhar Marizi mengatakan ekonomi sirkular perlu ditempatkan sebagai bagian dari strategi bisnis, bukan hanya agenda lingkungan.
“Ekonomi sirkular bukan hanya sebagai agenda lingkungan, tapi juga sebagai strategi bisnis. Karena ekonomi sirkular mencakup seluruh rantai nilai, tidak ada satu pihak yang bisa menjalankannya sendirian,” ujar Nizhar.
Nizhar mengatakan pembangunan ekosistem ekonomi sirkular membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Pemasok, konsumen, pengumpul, pendaur ulang, pemerintah daerah, lembaga pembiayaan, hingga penyedia teknologi memiliki peran dalam membangun rantai nilai yang saling terhubung.
Baca Juga
Sampah Plastik dari Pesawat Kini Punya “Tiket” ke Ekonomi Sirkular
Arah tersebut telah ditetapkan pemerintah melalui Peta Jalan dan Rencana Aksi Nasional Ekonomi Sirkular 2025-2045. Kebijakan tersebut perlu diterjemahkan ke dalam keputusan investasi, inovasi, dan praktik bisnis yang dapat diterapkan di lapangan.
Pembahasan dalam Circular Economy Forum 2026 juga mencakup penerapan peta jalan ekonomi sirkular dan kaitannya dengan transformasi industri hijau. Peserta turut membahas pembiayaan, pengembangan model bisnis sirkular, penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM, serta penciptaan pekerjaan hijau.
Circular Economy Hub selanjutnya akan dikembangkan sebagai platform kolaborasi dan pengetahuan yang menghubungkan dunia usaha, pemerintah, lembaga keuangan, akademisi, penyedia solusi, asosiasi, komunitas, dan mitra pembangunan. Platform tersebut akan digunakan untuk mempertemukan kebutuhan implementasi dengan pengetahuan, teknologi, pembiayaan, dan praktik di lapangan.
