Prabowo Pasang Target Indonesia Hijau
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menempatkan transisi menuju ekonomi hijau sebagai salah satu strategi utama untuk memperkuat ketahanan energi, mendorong pertumbuhan ekonomi, sekaligus menekan emisi karbon nasional. Melalui berbagai program yang telah dan sedang dijalankan, pemerintah memperkirakan Indonesia memiliki potensi mengurangi emisi karbon hingga 201–209 juta ton CO₂ ekuivalen (CO₂e) per tahun, sekaligus membuka peluang investasi dan lapangan kerja baru di sektor ekonomi hijau.
Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Analisa Kebijakan, Dirgayuza Setiawan, mengatakan transisi menuju Indonesia hijau bukan semata-mata agenda lingkungan hidup, melainkan strategi pembangunan nasional yang menghubungkan ketahanan energi, industrialisasi, dan pertumbuhan ekonomi. “Transisi menuju ekonomi rendah karbon harus dipandang sebagai strategi pembangunan. Indonesia tidak hanya mengurangi emisi, tetapi juga membangun industri baru, menciptakan lapangan kerja hijau, memperkuat ketahanan energi, dan meningkatkan nilai tambah ekonomi nasional,” ujar Dirgayuza dalam catatan yang diterima Investortrust, Jumat (17/07/2026).
Baca Juga
Dari CCS Masela hingga PLTS 100 GW, Prabowo Dinilai Berpeluang Jadi Presiden Terhijau Indonesia
Menurut Dirgayuza, salah satu kontributor terbesar berasal dari pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt (GW). Program tersebut diperkirakan mampu menurunkan emisi sekitar 140 juta ton CO₂ per tahun dengan menggantikan pembangkit listrik berbahan bakar batu bara, gas, dan diesel, sekaligus mempercepat bauran energi baru terbarukan.
Kontribusi besar lainnya berasal dari implementasi biodiesel B50. Peningkatan campuran biodiesel dari B40 menjadi B50 diperkirakan mampu mengurangi emisi sekitar 46,72 juta ton CO₂e per tahun, atau bertambah sekitar 7,8 juta ton dibandingkan program B40. Selain menekan emisi sektor transportasi, kebijakan ini juga mengurangi impor solar sehingga memperkuat ketahanan energi nasional.
Pemerintah juga menjadikan pengelolaan sampah sebagai bagian dari strategi dekarbonisasi melalui pembangunan fasilitas waste-to-energy atau Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa). Teknologi tersebut diperkirakan mampu mengurangi emisi sekitar 10–17 juta ton CO₂e per tahun dengan memanfaatkan sampah sebagai sumber energi sekaligus mengurangi emisi metana dari tempat pembuangan akhir (TPA).
Di sektor migas, proyek LNG Abadi Masela akan menjadi salah satu proyek pertama di Indonesia yang menerapkan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) sejak awal operasi. Teknologi ini diperkirakan mampu menangkap dan menyimpan kembali karbon hingga 3–4 juta ton CO₂ per tahun, sehingga produksi gas alam berlangsung dengan emisi yang jauh lebih rendah.
Baca Juga
Prabowo: LNG Abadi Masela Tonggak Kemandirian Energi dan Mesin Baru Kemakmuran Rakyat
Sementara itu, pemerintah juga mempercepat restorasi mangrove seluas sekitar 40.000 hektare sebagai bagian dari pembangunan Giant Sea Wall di Pantai Utara Jawa. Ekosistem mangrove yang telah pulih diperkirakan mampu menyerap sekitar 1 juta ton CO₂e per tahun, sekaligus memperkuat perlindungan pesisir dari abrasi dan dampak perubahan iklim.
Selain berbagai proyek fisik tersebut, pemerintah membangun fondasi ekonomi karbon melalui Sistem Registri Unit Karbon (SRUK). Sistem ini menjadi infrastruktur utama perdagangan karbon nasional yang transparan dan berintegritas tinggi. Pada tahap awal, SRUK diperkirakan memiliki pipeline perdagangan karbon sekitar 31,72 juta ton CO₂e, yang diharapkan terus berkembang seiring bertambahnya proyek-proyek karbon di Indonesia.
Dirgayuza menilai seluruh kebijakan tersebut saling melengkapi dalam membangun fondasi ekonomi hijau Indonesia. Menurutnya, keberhasilan transisi energi tidak hanya diukur dari penurunan emisi, tetapi juga dari kemampuan menciptakan pertumbuhan ekonomi baru yang berkelanjutan.
“Indonesia memiliki keunggulan sumber daya alam, potensi energi terbarukan, dan pasar domestik yang besar. Jika seluruh kebijakan ini dijalankan secara konsisten, Indonesia berpeluang menjadi salah satu pemimpin ekonomi hijau di dunia, bukan sekadar menjadi pengikut agenda global,” katanya.
Baca Juga
Pemerintah berharap transformasi menuju Indonesia hijau akan memberikan dampak nyata berupa meningkatnya ketahanan energi, pertumbuhan ekonomi yang lebih berkualitas, lingkungan yang lebih bersih, terciptanya lapangan kerja hijau, serta meningkatnya posisi Indonesia dalam rantai ekonomi rendah karbon global.
