MIND ID Manfaatkan 1 Juta Ton Limbah, Timbulan Sampah Tambang Turun 11,3%
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – MIND ID Grup memperkuat penerapan ekonomi sirkular di sektor pertambangan dengan memanfaatkan lebih dari 1 juta ton material sisa sepanjang 2025. Langkah tersebut berhasil menurunkan timbulan limbah padat sebesar 11,3% dibandingkan tahun sebelumnya sekaligus memperkuat praktik pertambangan berkelanjutan melalui skema penggunaan kembali, daur ulang, dan pemulihan material.
Pakar Energi Departemen Teknik Sistem Energi Fakultas Teknik Universitas Indonesia Eko Adhi Setiawan menilai capaian tersebut menunjukkan pentingnya sistem pengelolaan limbah yang terstruktur sebagai fondasi praktik pertambangan yang baik atau good mining practice.
Baca Juga
MIND ID Dorong Pengembangan Sulfur Domestik untuk Industri Nikel
"Menurut saya, sistem pengelolaan limbah yang terstruktur sangat penting karena dalam operasi tambang risiko terbesar bukan hanya pada volume limbah, tetapi pada putusnya rantai pengelolaan," kata Eko saat dihubungi, Selasa (1/7/2026).
Berdasarkan Laporan Keberlanjutan MIND ID 2025, Grup MIND ID memanfaatkan 82.876 ton limbah padat bahan berbahaya dan beracun (B3) serta 946.733 ton limbah padat non-B3 melalui skema reuse, recycle, dan recovery. Total material sisa yang berhasil dimanfaatkan mencapai lebih dari 1 juta ton. Pemanfaatan material tersebut berdampak pada penurunan total timbulan limbah padat dari 1.306.835,91 ton pada 2024 menjadi 1.159.049,16 ton pada 2025.
Penurunan terjadi pada dua kategori utama. Limbah padat B3 berkurang dari 270.478,08 ton menjadi 208.441,10 ton, sedangkan limbah padat non-B3 turun dari 1.036.357,83 ton menjadi 950.608,06 ton.
Tren tersebut juga menunjukkan perbaikan yang konsisten dalam tiga tahun terakhir. Total timbulan limbah padat MIND ID tercatat sebesar 1.396.034,05 ton pada 2023, kemudian menurun menjadi 1.306.835,91 ton pada 2024, dan kembali turun menjadi 1.159.049,16 ton pada 2025.
Selain limbah padat, laporan itu mencatat timbulan limbah cair B3 sebesar 4.764,52 ton sepanjang 2025. Limbah tersebut meliputi oli bekas, minyak bekas, oil sludge, solar bekas, grease bekas, hingga bahan kimia kedaluwarsa.
Menurut Eko, setiap jenis limbah, baik limbah B3, limbah cair, residu proses, sludge, oli bekas, kemasan bahan kimia, maupun limbah non-B3 dalam jumlah besar membutuhkan sistem penelusuran yang jelas mulai dari sumber limbah, penyimpanan, pengangkutan, pengolahan, hingga bukti penyelesaian akhir.
Ia mengatakan pendekatan pemanfaatan material sisa menunjukkan perubahan paradigma pengelolaan limbah di sektor pertambangan. Limbah tidak lagi hanya dipandang sebagai material yang harus dibuang, tetapi mulai dimanfaatkan sebagai sumber daya yang masih memiliki nilai ekonomi. "Limbah tidak hanya dilihat sebagai isu toksisitas yang harus diamankan, tetapi juga sebagai material stream yang perlu diklasifikasi," ujar Eko.
Menurut Eko, klasifikasi tersebut diperlukan untuk membedakan material yang harus dikendalikan secara ketat, material yang masih dapat digunakan kembali, didaur ulang, dipulihkan nilainya, maupun yang benar-benar harus dibuang sebagai pilihan terakhir.
Material Sisa Diolah Menjadi Produk Bernilai
Pendekatan ekonomi sirkular tersebut telah diterapkan oleh berbagai anggota Grup MIND ID. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam memanfaatkan slag nikel hasil proses pyrometallurgy atau peleburan bersuhu tinggi sebagai bahan konstruksi Pomalaa Beton (Poton) untuk kebutuhan road base, yard base, dan konstruksi internal perusahaan.
Antam juga mengolah tailing emas menjadi green fine aggregate (GFA), sedangkan fly ash and bottom ash (FABA) dimanfaatkan bersama slag nikel sebagai bahan baku Pomalaa Beton.
Baca Juga
MIND ID Perkuat Dekarbonisasi Lewat Penurunan Emisi dan Peningkatan EBT
Di PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), produsen aluminium milik negara, internal scrap dari proses peleburan dan pengecoran aluminium dimanfaatkan kembali untuk mendukung proses produksi sehingga mengurangi kebutuhan bahan baku primer berupa alumina.
Sementara itu, PT Timah Tbk (TINS) mengelola sisa hasil pengolahan (SHP) menggunakan metode fisik, seperti gravitasi, kemagnetan, dan konduktivitas listrik. Pada 2025, volume SHP tercatat mencapai 1.506,06 ton ore dan masih memiliki potensi dipulihkan melalui proses lanjutan atau tin gain. "Beberapa material sisa dapat memiliki nilai sebagai bahan baku sekunder, substitusi material, atau input untuk industri lain," pungkas Eko.
