Tekan Polusi Sungai, PPLI Manfaatkan 99.000 Meter Kubik Air Limbah B3
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Perusahaan pengelola limbah B3, PT Prasadha Pamunah Limbah Industri (PPLI) memperkuat upaya pengelolaan limbah industri melalui pemanfaatan kembali air hasil pengolahan limbah guna mengurangi pencemaran lingkungan sekaligus menekan penggunaan air bersih.
Melalui fasilitas pengolahan limbah yang dimilikinya, PPLI mengolah limbah cair sebelum dialirkan ke badan air. Air limbah yang telah melalui proses pengolahan dan dinyatakan aman sebagian dilepas ke sungai, sementara sebagian lainnya dimanfaatkan kembali untuk kebutuhan operasional perusahaan.
Supervisor Environmental Database and Program PPLI, Irfan Maulana menjelaskan, langkah ini dilakukan untuk mengurangi beban pencemaran di aliran sungai sekaligus meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya air.
“Air limbah yang sudah diolah tidak semuanya dibuang ke sungai. Sebagian kami manfaatkan kembali untuk berbagai kebutuhan operasional, seperti proses di insinerator, pencucian kendaraan pengangkut limbah B3, hingga pencucian kemasan yang akan digunakan kembali oleh pelanggan,” ujarnya dalam acara Ngopling" (Ngobrol Peduli Lingkungan), Jakarta Selatan, Rabu (11/3/2026).
Baca Juga
Perkuat Ekosistem Daur Ulang Plastik, Dinas LH DKI Jakarta Gandeng Morego Green Indonesia
Dalam tiga tahun terakhir, PPLI mencatat telah memanfaatkan kembali sekitar 99.000 meter kubik air hasil pengolahan limbah. Langkah tersebut dinilai berkontribusi pada konservasi air bersih karena perusahaan tidak perlu mengambil air baru dalam jumlah yang sama untuk kegiatan operasional.
Selain itu, air olahan juga digunakan dalam sistem pengendalian debu pada proses pengolahan limbah padat. Pada proses tersebut terdapat potensi munculnya partikel debu yang kemudian ditangkap menggunakan sistem scrubber dengan bantuan air.
“Dengan memanfaatkan air olahan, kita bisa menyelesaikan dua persoalan sekaligus, yaitu mengurangi potensi pencemaran sungai dan menekan penggunaan air bersih,” jelasnya.
Di sisi lain, bulan Ramadan yang seharusnya menjadi momentum menanamkan nilai-nilai kesederhanaan, justru seringkali diwarnai dengan lonjakan penggunaan air rumah tangga. Fenomena ini menarik perhatian PT PPLI yang berdedikasi pada pengelolaan lingkungan dan daur ulang limbah.
Laboratorium Manager PT Prasadha Pamunah Limbah Industri (PPLI), Muhamad Yusuf Firdaus, menyoroti kebiasaan masyarakat yang masih mengandalkan detergen dengan busa melimpah. Menurutnya, tumpukan busa di aliran sungai dapat menghalangi sinar matahari dan oksigen masuk ke dalam air.
"Untuk mencuci kadang ibu-ibu suka detergen yang busanya melimpah. Padahal busa ini jadi masalah, kalau menumpuk terus ujung-ujungnya sinar matahari tidak bisa masuk ke sungai. Oksigen tidak dapat masuk, biota air di sungai terganggu dan lama-lama dia mati lalu terjadi pendangkalan," ungkap Yusuf.
Dalam kesempatan yan sama, Direktur Laznas Al-Azhar, Iwan Rahman, menambahkan persoalan boros air di Indonesia sangat dipengaruhi oleh faktor kultur dan ketersediaan sumber daya yang melimpah. Ia membandingkan perilaku jamaah saat umrah yang bisa berhemat air, tapi kembali jor-joran ketika di tanah air.
“Sebagai negara yang air tanahnya melimpah, kita tidak pernah merasakan panasnya gurun. Sehingga mengkonsumsi air dalam jumlah besar seolah hal biasa, Desain kran di masjid-masjid kita juga mayoritas mengeluarkan debit air yang terlalu besar," imbuh Iwan.

