Reklamasi dan Rehabilitasi DAS MIND ID Lampaui 45.000 Hektare hingga 2025
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID telah mereklamasi lebih 8.000 hektare (ha) lahan pascatambang dan merehabilitasi 37.700 hektare daerah aliran sungai (DAS) hingga 2025. Langkah tersebut menjadi bagian strategi pertambangan berkelanjutan untuk menjaga keseimbangan peningkatan produksi mineral strategis dan pelestarian lingkungan.
Selain memperbaiki kualitas ekosistem, program tersebut juga mulai memberikan dampak positif terhadap peningkatan keanekaragaman hayati atau biodiversitas di sejumlah wilayah operasional perusahaan.
Division Head of Sustainability MIND ID Binahidra Logiardi mengatakan kebutuhan global terhadap mineral strategis terus meningkat seiring percepatan transisi energi dan perkembangan industri modern. "Peningkatan produksi harus berjalan seiring dengan pengelolaan lingkungan yang semakin baik dan terukur," kata dia dikutip Rabu (24/6/2026).
Baca Juga
MIND ID Kenalkan Pengelolaan Limbah Berkelanjutan, 51 Kg Sampah Organik Disulap Jadi Bernilai
Ia menjelaskan bahwa komitmen terhadap reklamasi dan perlindungan biodiversitas menjadi bagian penting dalam implementasi sustainability pathway atau peta jalan keberlanjutan Grup MIND ID. "Melalui pendekatan tersebut, setiap entitas didorong memiliki standar dan protokol pengelolaan biodiversitas yang memadai, terutama pada wilayah dengan nilai konservasi tinggi," kata dia.
Peningkatan kualitas lingkungan mulai terlihat dari sejumlah indikator biodiversitas yang dicatat oleh anggota grup di berbagai daerah operasional. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam melalui Unit Bisnis Pertambangan Nikel Maluku Utara mencatat kenaikan indeks biodiversitas dari 1,757 menjadi 1,963. Capaian tersebut menunjukkan semakin baiknya kondisi ekosistem di wilayah operasional perusahaan.
Sementara itu, PT Freeport Indonesia menjalankan program konservasi mangrove yang secara kumulatif telah mencakup lebih dari 2.200 hektare. Program ini berperan penting dalam menjaga kawasan pesisir sekaligus meningkatkan kemampuan alam menyerap emisi karbon.
Di Sumatra Utara, PT Indonesia Asahan Aluminium atau Inalum memfokuskan program lingkungan pada rehabilitasi daerah tangkapan air Danau Toba. Hingga 2025, luas rehabilitasi yang telah direalisasikan mencapai lebih dari 4.000 hektare sebagai bagian dari upaya memperkuat fungsi hidrologis kawasan dan menjaga keberlanjutan sumber daya air.
Upaya serupa juga dilakukan PT Timah Tbk (TINS) melalui program reklamasi darat dan laut yang terintegrasi. Program tersebut berhasil meningkatkan indeks biodiversitas perusahaan dari 2,88 pada 2022 menjadi 3,26 pada 2025.
Di sektor nikel, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) merealisasikan reklamasi lahan pascatambang seluas 156,67 hektare di Blok Sorowako dan 1,42 hektare di area Indonesia Growth Project Morowali sepanjang 2025. Selain itu, perusahaan telah melaksanakan rehabilitasi DAS seluas 17.877 hektare di berbagai wilayah Indonesia.
Menurut Binahidra, aspek keberlanjutan kini menjadi faktor yang semakin menentukan dalam menjaga daya saing perusahaan tambang di pasar global. Tidak hanya terkait kepatuhan terhadap regulasi, tetapi juga berpengaruh terhadap akses pendanaan dan kepercayaan investor. “Sustainability pathway bukan sekadar alat pelaporan, melainkan instrumen untuk mengelola dampak, memitigasi risiko, dan menciptakan nilai jangka panjang,” tegasnya.
Baca Juga
Buktikan Tambang Bisa Ramah Lingkungan, MIND ID Pamerkan Inovasi Daur Ulang
Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan dan perlindungan keanekaragaman hayati.
Menurut Jumhur, pembangunan nasional tidak hanya berkaitan dengan pengembangan pariwisata atau infrastruktur, tetapi juga mencakup aktivitas ekonomi maritim, sektor perkapalan, hingga perikanan yang seluruhnya bergantung pada kualitas lingkungan yang terjaga.
“Pembangunan itu bukan hanya soal pulau dan pariwisata, tetapi juga terkait perkapalan, aktivitas ekonomi maritim, hingga sektor perikanan. Namun yang harus selalu diingat adalah bahwa proses pembangunan harus tetap berorientasi pada pelestarian lingkungan dan perlindungan keanekaragaman hayati,” kata Jumhur dalam Indonesia International Environmental Technology and Innovation Expo & Conference (Invirotech) 2026.
