Prospek Sektor Logistik 2026 Dipengaruhi Perang Timteng, Pertumbuhan Ditargetkan 15%
JAKARTA, investortrust.id — Ketua Umum Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI), Akbar Djohan menyatakan, prospek pertumbuhan industri logistik pada 2026 akan menghadapi tantangan besar buntut dinamika perang Timur Tengah (Timteng) antara Iran dan Israel/Amerika Serikat (AS).
“Kalau 2026 tentu menghadapi perang ini, karena logistik itu kan nggak bisa stand alone. Nggak bisa pulau Jawa tok, Kalimantan, Indonesia tok. Dia kan ada Asia Pasifik, bahkan ada global. Nah ini pasti lebih buruk daripada 2025. Itu sudah pasti,” kata Akbar saat ditemui di kantor Kementerian Perekonomian, Jakarta Pusat, Kamis (9/4/2026).
Baca Juga
Urai Macet Gilimanuk, Gubernur Bali Usul Bangun 4 Pelabuhan Logistik Baru
Meski demikian, ia menyebut kinerja industri logistik pada 2025 tercatat cukup baik sekitar 8,78%. “2025 pertumbuhannya cukup baik. Pertumbuhannya itu di atas pertumbuhan ekonomi. Sehingga harapan kita sih 2026 bisa melampaui lagi, paling nggak mendekati 10%, bahkan bisa 15% harapan kita. Karena program-program pemerintah cukup banyak menstimulasi ekonomi sektor riil,” ucap Akbar.
Menurut Akbar, pertumbuhan sektor riil, termasuk pelaku UMKM dan BUMN melalui Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, akan berdampak langsung terhadap industri logistik. Ia menilai peningkatan aktivitas ekonomi tersebut akan mendorong kebutuhan distribusi barang dan jasa di berbagai wilayah Tanah Air.
Supply Chain Indonesia (SCI) mencatat kinerja sektor transportasi dan pergudangan dengan pertumbuhan sekitar 8,78% sepanjang 2025, dan bahkan mencapai 8,98% secara tahunan (yoy) pada kuartal IV-2025. Tak sampai di situ, sektor Jasa Lainnya dan Jasa Perusahaan juga tumbuh tinggi masing-masing sebesar 9,93% (yoy) dan 9,10% (yoy).

