Menteri PU Sebut Proyek Infrastruktur Belum Terdampak Konflik di Timur Tengah
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo menyatakan hingga saat ini eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS)/Israel dengan Iran belum berdampak terhadap pembangunan infrastruktur nasional.
Dody menyebut, sejauh ini proyek pembangunan infrastruktur yang ditangani Kementerian PU masih berjalan normal. “Belum ada, nggak ada sih. So far belum,” katanya saat ditemui di kantor Kementerian PU, Jakarta Selatan, Jumat (6/3/2026) malam.
Ia juga menanggapi potensi dampak penutupan Selat Hormuz terhadap potensi kenaikan biaya logistik yang akan berdampak pada distribusi material pembangunan infrastruktur RI. Namun, Dody menegaskan belum melihat adanya dampak langsung hingga saat ini.
“Ya, kalau besok ada, nggak tahu saya. Tapi so far sih belum,” tegasnya.
Sebagai informasi, Ketua Komisi XII DPR dari Fraksi Partai Golkar Bambang Patijaya menyatakan dukungannya terhadap langkah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dalam melakukan mitigasi terhadap potensi gangguan pasokan minyak dan gas dunia akibat meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah yang berpotensi berdampak pada akses pelayaran di Selat Hormuz.
Baca Juga
Selat Hormuz Terancam, DPR Dukung Bahlil Mitigasi Risiko Energi
Menurut Bambang, Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling strategis di dunia karena sekitar 20% suplai minyak global melewati kawasan tersebut. Oleh karena itu, apabila jalur tersebut terganggu atau ditutup, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh negara-negara di Timur Tengah, tetapi juga oleh negara pengimpor energi seperti Indonesia.
Dia menjelaskan, saat ini Indonesia masih mengimpor sejumlah komoditas energi dari kawasan Timur Tengah, termasuk crude oil serta LPG dari Arab Saudi. Ketergantungan terhadap jalur pasokan tersebut membuat pemerintah perlu menyiapkan langkah antisipatif agar stabilitas pasokan energi domestik tetap terjaga apabila terjadi gangguan distribusi global.
“Kami mendukung langkah Menteri ESDM yang telah menyiapkan langkah-langkah mitigasi untuk menjaga keberlangsungan pasokan energi nasional. Dalam situasi geopolitik global yang dinamis, upaya antisipatif seperti ini sangat penting agar ketahanan energi Indonesia tetap terjaga,” kata Bambang beberapa waktu lalu.
Menurutnya, pemerintah tidak bisa berspekulasi mengenai berapa lama potensi gangguan di Selat Hormuz dapat berlangsung, sehingga langkah mitigasi perlu dilakukan sejak dini. Dia menilai diversifikasi sumber pasokan menjadi salah satu opsi penting agar Indonesia memiliki fleksibilitas dalam menjaga keberlanjutan pasokan energi nasional.
“Salah satu langkah yang dapat dipertimbangkan adalah memperluas sumber pasokan minyak dan gas dari negara-negara lain yang secara geopolitik lebih stabil, termasuk dari Amerika Serikat maupun negara produsen lain yang memiliki jalur distribusi lebih aman,” tutur Bambang.

