SMF Sebut Program 3 Juta Rumah Belum Dongkrak Kredit Perumahan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Kepala Ekonom PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF, Martin Siyaranamual menyebut program 3 juta rumah belum berdampak terhadap pertumbuhan kredit di sektor perumahan. Kondisi ini perlu dimaklumi karena program tersebut berada pada tahap awal implementasi.
“Saya sepakat bahwa paling tidak, hingga akhir 2025, belum terlihat dampaknya,” kata Martin, di Jakarta, dikutip Kamis (5/3/2026).
Meski belum berdampak signifikan, Martin mengatakan, SMF akan turut berpartisipasi dalam mendorong program 3 juta rumah. SMF memperkuat akses pembiayaan bagi masyarakat yang belum terfasilitasi layanan pembiayaan formal, khususnya masyarakat berpenghasilan tidak tetap dan pekerja sektor informal.
Baca Juga
Ungguli Bank Himbara Lain, Penyaluran KPR Sejahtera FLPP BTN (BBTN) Tembus 4.160 Unit
Sepanjang 2025, SMF bersama lembaga keuangan telah menyalurkan pembiayaan Griya Tunas yang merupakan kredit mikro perumahan sebanyak 52.142 rumah. Realisasi ini melampaui target pemerintah sebesar 50.000 rumah yang memperoleh akses pembiayaan renovasi hunian.
Martin mengatakan, tantangan yang akan dihadapi perseroan ke depan bukan hanya memenuhi kebutuhan perumahan, tetapi persoalan likuiditas. “Di perbankan, itu pertumbuhan DPK (dana pihak ketiga) jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit,” ujar dia.
Kondisi ini sejalan dengan respons masyarakat untuk menghadapi ketidakpastian. Masyarakat menunda pembelian dan memilih menabung.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan, pertumbuhan DPK pada Januari 2026 mencapai Rp 10.076 triliun atau tumbuh 13,48% secara tahunan. Adapun pertumbuhan kredit pada bulan yang sama mencapai Rp 8.557 triliun atau tumbuh 9,96% secara tahunan.
Melihat kondisi ini, Martin menyebut arah kebijakan penempatan dana pemerintah sebesar Rp 200 triliun ke Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) menjadi masuk akal. Namun, dampak kebijakan tersebut masih belum terlihat.
Baca Juga
SMF Pastikan Pendanaan FLPP Tetap Terjaga pada 2026 Ditopang Hal Ini
“Apa yang dilakukan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam konteks penurunan cost of fund dari penyaluran kredit, itu sudah terjadi. Suku bunga turun, sebetulnya. Dengan turunnya suku bunga, permintaan kredit akan naik,” kata dia.
Martin menganggap kebijakan tersebut tidak sepenuhnya salah. Kondisi itu tidak terjadi dengan cepat karena momentum kebijakan tidak didukung lingkungan ekonomi. “Terlalu banyak ketidakpastian dan itu datang bertubi-tubi. Ditambah dengan ketegangan di Timur Tengah,” ujar dia.

