Nilai Tukar Jadi Modal Penting SMF Hadapi Ketidakpastian Global
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF mewaspadai gejolak nilai tukar yang dapat menekan rupiah. Tekanan terhadap rupiah dapat terjadi karena konflik Israel dan Iran yang melambungkan harga komoditas minyak mentah.
“Nilai tukar [rupiah] ini punya implikasi yaitu berkaitan dengan bagaimana sektor manufaktur bekerja,” kata Chief Ekonom PT SMF, Martin Siyaranamual, di Jakarta, dikutip Kamis (5/3/2026).
Martin menjelaskan komponen impor di sektor manufaktur nasional begitu tinggi. Dengan rupiah yang terdepresiasi, akan terjadi tekanan di sektor manufaktur tersebut.
“Pada saat yang sama, sektor manufaktur itu adalah sektor penyerap tenaga kerja paling besar di Indonesia. Artinya, kalau sampai sektor manufaktur terpukul, dia nggak bisa beroperasi, angka pengangguran naik,” jelas dia.
Baca Juga
SMF Raih Laba Bersih Rp 565 Miliar, Pendapatan Rp 3,1 Triliun
Martin mengatakan melonjaknya angka pengangguran akan mendegradasi kebutuhan terhadap perumahan. Sebab, perumahan merupakan “pilihan terakhir”, dibandingkan kebutuhan orang terhadap makan.
Bicara mengenai kondisi modal keluar, Martin mengatakan kondisi tersebut tak secara langsung berpengaruh. Efek arus modal keluar dari Indonesia butuh dua hingga tiga tahap dampaknya ke SMF.
“Baru sampai ke SMF ketika konsumsi masyarakat itu terpukul,” ujar dia.
Martin berharap berdampingannya berbagai hari besar keagamaan pada Maret 2025 ini dapat memberi angin segar untuk mendongkrak konsumsi masyarakat. Sebab, dengan konsumsi yang tinggi, dia berharap terjadi pertumbuhan yang lebih baik.
“Ketika pertumbuhan ekonomi membaik, permintaan kredit lebih baik, itu akan menjadi sesuatu yang baik buat PT SMF,” jelas dia.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan penyaluran kredit perbankan Januari 2026 menyentuh 9,96% secara tahunan. Angka ini melambat dibandingkan Januari 2025 yang mampu tumbuh 10,27% secara tahunan.
Data OJK menunjukkan pertumbuhan tertinggi pada Januari 2026 terjadi pada kredit investasi sebesar 22,38%, kredit konsumsi 6,58%, dan kredit modal kerja sebesar 4,13%. Kredit korporasi tumbuh sebesar 16,07%.

