Dampak Ketidakpastian Global, Ekonom Proyeksi Nilai Tukar Rupiah Berada di Kisaran Ini
JAKARTA, investortrust.id - Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengungkapkan, ketidakpastian kondisi global akan sangat berdampak atas nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Apalagi investor saat ini juga cenderung akan mengantisipasi hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) tengah pekan ini.
“Kami proyeksi rupiah berpotensi akan bergerak di kisaran Rp 16.100 hingga Rp 16.350 per dolar AS,” ujarnya, kepada investortrust.id dikutip Selasa (23/4/2024).
Dalam beberapa waktu belakangan, lanjut Josua, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menunjukkan tren depresiasi, usai sejumlah pejabat The Fed mempertegas bahwa kebijakan suku bunga tinggi akan berlangsung lebih lama atau higher for longer.
Seperti Presiden Fed Minneapolis, Neel Kashkari, yang melihat adanya kemungkinan untuk tidak terjadinya pemotongan suku bunga kebijakan hingga 2025. Lalu, Presiden Fed New York, John Williams yang mengungkapkan jika kenaikan suku bunga kebijakan lanjutan bukan merupakan opsi The Fed dalam pengendalian inflasi.
Baca Juga
Rupiah Tergelincir dalam Pembukaan Perdagangan 23 April 2024
“Nilai tukar rupiah (sepanjang pekan lalu, red) terdepresiasi sebesar 2,52% minggu ke minggu akibat rilis beberapa indikator ekonomi AS terkini yang menunjukan perekonomian mereka tetap solid, dan naiknya tensi geopolitik di Timur Tengah yang meningkatkan risiko inflasi dunia,” kata Josua.
Sementara menurutnya, pada bulan ini rupiah terdepresiasi 2,46% secara month to date. Lalu jika dibandingkan dengan penutupan akhir tahun lalu, rupiah mengalami pelemahan 5,48% secara year to date.
Selain ituJosua memprediksi, jika konflik di Timur Tengah terus berlanjut akan memberikan sejumlah dampak terhadap pasar keuangan nasional. Salah satunya mendorong pasar untuk berinvestasi pada aset yang memiliki risiko rendah atau safe haven.
“Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah mendorong pelaku pasar untuk memilih berinvestasi pada aset-aset safe haven, salah satunya dolar AS. Sehingga menyebabkan mata uang negara lain, terutama negara berkembnag seperti Indonesia berpotensi melemah,” ujarnya.
Baca Juga
Menurutnya, indeks dolar AS sempat naik di kisaran 106, menyusul eskalasi konflik antara Iran-Israel yang terjadi pada Jumat lalu (19/4). Kondisi ini menjadi kabar buruk bagi nilai tukar rupiah yang tahun ini sangat dipengaruhi oleh pergerakan inflasi AS dan kebijakan moneter The Fed.
“Rupiah diprediksi akan terus terdepresiasi jika konflik ini terus memanas dan berlanjut,” kata Josua.
Konflik di Timur Tengah, lanjut Josua, juga meningkatkan ketidakpastian global. Menyebabkan investor menarik dana dari aset-aset berisiko tinggi, terutama di negara-negara berkembang seperti di Indonesia.
“Aliran modal keluar dari pasar saham dan obligasi Indonesia dikhawatirkan akan meningkat setelah konflik antara Iran dan Israel meningkat,” jelasnya.

