James Riady: Perjanjian Perdagangan Timbal-Balik AS–RI, Momen Bersejarah dan Transformasi Ekonomi
Poin Penting
|
WASHINGTON, D.C., Investortrust.id — Perjanjian perdagangan resiprokal antara Indonesia dan Amerika Serikat menjadi momen bersejarah bagi dunia usaha kedua negara. Penandatanganan Agreement on Reciprocal Trade (ART) atau Perjanjian Perdagangan Komprehensif ini bukan sekadar perjanjian biasa. “Ini adalah perjanjian transformasional,” kata James Riady, Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Luar Negeri Kadin Indonesia yang turut mendampingi Presiden Prabowo Subianto dalam kunjungan ke Washington, D.C., Sabtu (21/2/2026).
Sebagai salah satu delegasi Kadin Indonesia yang ikut dalam rombongan Presiden, James menyaksikan langsung penandatanganan perjanjian tersebut. Ia menyebut momen ini sebagai titik balik bersejarah dalam hubungan ekonomi Indonesia–Amerika Serikat. Perjanjian ini lahir pada saat penyelarasan strategis antara dua kekuatan ekonomi besar: Amerika Serikat sebagai ekonomi terbesar dunia dan Indonesia sebagai salah satu ekonomi terbesar dan paling dinamis di antara negara berkembang. “Dengan ditandatanganinya perjanjian komprehensif ini, kita memasuki fase baru hubungan ekonomi yang lebih dalam, lebih terstruktur, dan lebih dapat diprediksi,” ujarnya.
Menurut James, ada tiga alasan utama mengapa perjanjian ini layak disebut transformasional. Pertama adalah kepastian. Perjanjian ini memberikan aturan yang lebih jelas, akses pasar yang lebih dapat diprediksi, serta pengurangan hambatan regulasi bagi pelaku usaha kedua negara. “Kepastian adalah mata uang utama investasi,” jelasnya. Dalam dunia usaha, kepastian regulasi dan arah kebijakan menjadi fondasi bagi keputusan investasi jangka panjang.
Kedua adalah skala kerja sama yang luas. Perjanjian ini membuka ruang penurunan hambatan perdagangan, peningkatan arus bilateral, dan integrasi rantai pasok. James menilai hal ini memungkinkan perusahaan Amerika memproduksi barang di Indonesia, ikut mengembangkan kawasan, sekaligus memperkuat posisi produk Indonesia memasuki pasar global. “Ini bukan hanya tentang ekspor-impor, tetapi tentang membangun ekosistem produksi bersama,” katanya.
Ketiga adalah dimensi teknologi dan rantai nilai. Masa depan perdagangan, menurut James, tidak lagi hanya soal komoditas, tetapi juga layanan digital, manufaktur maju, penggunaan kecerdasan buatan, transisi energi yang lebih mulus, peningkatan kualitas kesehatan, serta penerapan agritech. Perjanjian ini membuka pintu bagi kemitraan teknologi yang lebih dalam dan kolaboratif, bukan sekadar transaksi barang.
Baca Juga
Menko Airlangga Jawab 22 Keraguan tentang Tarif Resiprokal RI-AS, Ini Rinciannya
Platform Komunitas Bisnis
James menambahkan, Indonesia datang ke Washington dengan momentum ekonomi yang kuat. Pertumbuhan sekitar 5% pada 2025, penguatan dalam empat kuartal terakhir, konsumsi domestik yang solid, serta program pemerintah berskala besar di sektor perumahan, ketahanan pangan, infrastruktur, dan hilirisasi industri menjadi fondasi yang kokoh. Dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa, kelas menengah yang terus tumbuh, serta pasar digital yang berkembang pesat, Indonesia dinilai bukan hanya pasar yang besar, tetapi juga basis produksi strategis dan mitra teknologi jangka panjang.
Ia juga menekankan bahwa penyelarasan antara kemauan politik dan arah kebijakan ekonomi nasional menjadi faktor kunci keberhasilan perjanjian ini. Presiden Prabowo, menurutnya, menunjukkan komitmen kuat untuk memperdalam kemitraan ekonomi, menciptakan lapangan kerja, serta membangun hubungan strategis jangka panjang dengan Amerika Serikat. “Kehadiran Presiden dalam penandatanganan perjanjian mengirim pesan jelas bahwa Indonesia terbuka untuk kerja sama bisnis yang serius dan berkelanjutan,” ungkap James.
Bagi dunia usaha Amerika, Indonesia menawarkan stabilitas, pragmatisme, serta posisi strategis di kawasan Indo-Pasifik. “Inilah saatnya masuk ke pasar, memperluas operasi, membentuk joint venture jangka panjang, dan berpartisipasi dalam fase pertumbuhan Indonesia berikutnya,” ujar James.
Pada akhirnya, ia menegaskan bahwa perjanjian ini bukan hanya pencapaian pemerintah dengan pemerintah. “Ini adalah platform bagi komunitas bisnis kedua negara untuk tumbuh bersama. Hari ini kita tidak hanya menandatangani perjanjian. Kita sedang membangun kepercayaan, kemitraan, dan generasi baru kerja sama ekonomi,” pungkasnya.
Baca Juga
Perjanjian Perdagangan Resiprokal (ART) RI dan AS: Tarif Turun dan Akses Pasar Diperluas
