James T. Riady: Paruh Kedua 2026 Berpotensi Lebih Bergejolak, Indonesia Harus Perkuat Ekonomi Domestik
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Luar Negeri James T. Riady mengingatkan bahwa perekonomian global memasuki fase yang semakin penuh ketidakpastian. Bahkan, menurutnya, tekanan yang dihadapi dunia saat ini lebih serius daripada yang dipahami banyak pihak.
Peringatan itu disampaikan James dalam sambutan pembukaan acara KADIN Diplomatic Economic Breakfast yang menghadirkan Menteri Luar Negeri RI Sugiono di Hotel Aryaduta, Jakarta, Jumat (12/06/2026). Hadir juga pada acara ini adalah para duta besar negara sahabat dan anggota korps diplomatik, pejabat senior Kementerian Luar Negeri RI, para ketua Kadin daerah dari berbagai provinsi, serta para ketua dan pengurus komite tetap maupun komite bilateral Kadin Indonesia.
Menurut James, konflik Iran hanyalah salah satu gejala dari meningkatnya kerentanan sistem global. Di balik itu terdapat berbagai persoalan yang lebih mendasar, mulai dari ketegangan geopolitik di banyak kawasan, restrukturisasi rantai pasok global, tekanan inflasi yang masih berlangsung, perlambatan pertumbuhan ekonomi, hingga meningkatnya tekanan keuangan yang dihadapi banyak negara.
Baca Juga
Kadin Buka-Bukaan Hasil Nyata Kunjungan Berulang Prabowo dan Pengusaha RI ke Prancis
“Kepercayaan menjadi semakin rapuh dan banyak negara menghadapi tekanan finansial yang serius,” kata James yang juga menjadi tuan rumah acara ini. Ia mengungkapkan, sejumlah negara kini terpaksa menguras cadangan devisa, mencari pembiayaan eksternal, bahkan menjual sebagian cadangan emasnya demi memperoleh likuiditas dolar AS.
Fenomena tersebut, demikian James, merupakan sinyal bahwa tekanan terhadap sistem keuangan global sudah mencapai tingkat yang tidak biasa. “Dalam situasi normal, saat ketidakpastian meningkat, investor justru beralih ke emas. Tetapi sekarang ada negara yang terpaksa menjual emas karena membutuhkan dolar. Itu menunjukkan tingkat tekanan yang sangat tinggi pada sebagian sistem ekonomi global,” ujarnya.
Selain itu, James menyoroti derasnya arus modal yang terkonsentrasi pada segelintir saham teknologi, terutama yang terkait kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan industri semikonduktor. Ia mengakui AI berpotensi mengubah dunia dan chip semikonduktor akan menjadi fondasi era industri berikutnya.
Namun, ia mengingatkan bahwa valuasi saham teknologi di sejumlah negara seperti Korea Selatan dan Taiwan telah melonjak sangat tinggi, sehingga memunculkan kekhawatiran adanya gelembung aset (asset bubble). “Sejarah mengajarkan bahwa teknologi yang benar-benar transformatif sering kali disertai periode optimisme berlebihan. Itu sesuatu yang perlu diawasi dengan sangat hati-hati,” katanya.
James juga menyoroti ketahanan ekonomi Amerika Serikat yang justru dapat menjadi sumber risiko baru bagi negara berkembang. Menurut dia, apabila ekonomi AS tetap kuat, maka peluang suku bunga tinggi bertahan lebih lama akan semakin besar.
Baca Juga
Kadin Ingatkan Risiko Volatilitas Ekonomi Global dan Potensi 'Bubble' Saham AI
Kondisi tersebut akan mendorong modal global mengalir ke aset-aset dolar AS yang dianggap aman, likuid, dan menawarkan imbal hasil lebih menarik. “Jika suku bunga AS kembali naik atau bertahan tinggi lebih lama, tekanan terhadap nilai tukar, biaya pembiayaan, dan stabilitas ekonomi negara berkembang akan semakin besar,” ujarnya.
Karena itu, James mengaku khawatir paruh kedua 2026 justru berpotensi lebih bergejolak dibandingkan enam bulan pertama tahun ini. “Saya berharap saya salah. Tetapi ini adalah sesuatu yang perlu kita cermati bersama,” tegasnya.
Indonesia Masih Menarik
Di tengah berbagai risiko global tersebut, James menilai Indonesia masih memiliki fondasi yang relatif kuat dibandingkan banyak negara lain. Menurutnya, Indonesia memiliki sejumlah keunggulan strategis yang semakin bernilai dalam kondisi global saat ini, yakni pasar domestik yang besar, sumber daya alam melimpah, populasi muda, serta kelas menengah yang terus berkembang.
“Ketika permintaan eksternal menjadi semakin tidak pasti, kekuatan pasar domestik menjadi aset yang sangat berharga,” katanya. Karena itu, ia menilai penguatan ekonomi domestik harus menjadi prioritas strategis nasional. Sektor-sektor seperti perumahan, pariwisata, ketahanan pangan, hilirisasi industri, manufaktur, dan pengembangan sumber daya manusia perlu terus diperkuat karena mampu menciptakan lapangan kerja, menarik investasi, dan meningkatkan daya tahan ekonomi nasional.
Namun demikian, James mengingatkan bahwa peluang tersebut harus diimbangi dengan disiplin yang kuat, baik di tingkat pemerintah maupun korporasi. “Pemerintah membutuhkan disiplin fiskal. Perusahaan membutuhkan disiplin keuangan. Dalam masa penuh volatilitas, neraca yang sehat menjadi sangat penting,” ujarnya.
Menurut dia, perusahaan maupun entitas yang memiliki utang tinggi akan menjadi kelompok yang paling rentan ketika kondisi global memburuk. “Likuiditas penting. Manajemen risiko yang hati-hati penting. Pada akhirnya kepercayaan lahir dari kredibilitas,” kata James.
Diplomasi Kian Penting
Dalam kesempatan itu, James juga memberikan apresiasi kepada Menteri Luar Negeri Sugiono yang dinilai berperan penting dalam memperkuat diplomasi ekonomi Indonesia di tengah perubahan lanskap geopolitik global. Menurut James, hubungan antara diplomasi, perdagangan, investasi, teknologi, rantai pasok, dan geopolitik kini semakin erat sehingga kebijakan luar negeri menjadi faktor penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi dan daya saing nasional.
Ia menyebut Sugiono sebagai salah satu arsitek utama keterlibatan Indonesia dalam berbagai forum dan kemitraan internasional yang mendukung visi Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat posisi Indonesia di panggung global.
Baca Juga
James menegaskan bahwa minat investor terhadap Indonesia masih tetap tinggi. Perusahaan-perusahaan dari China, Amerika Serikat, Eropa, Jepang, Korea Selatan, Timur Tengah, dan berbagai kawasan lain masih aktif menjajaki peluang investasi di Indonesia. “Indonesia tetap menjadi salah satu kisah pertumbuhan ekonomi berskala besar yang tersisa di dunia. Itu adalah sesuatu yang tidak boleh kita anggap biasa,” ujarnya.
Karena itu, ia menilai forum seperti KADIN Diplomatic Economic Breakfast menjadi semakin relevan untuk memperkuat dialog, membangun kepercayaan, dan memperluas kemitraan di tengah ketidakpastian global yang terus meningkat. “Tidak ada negara yang bisa menghadapi tantangan ini sendirian. Tidak ada bisnis yang bisa menghadapinya sendirian. Relasi, dialog, dan kemitraan menjadi semakin penting,” tutup James.
