James Riady: Diplomasi Harus Berbuah Investasi dan Lapangan Kerja
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Wakil Ketua Koordinator Bidang Luar Negeri Kadin Indonesia James Riady menegaskan, hubungan baik Indonesia dengan berbagai negara harus diterjemahkan menjadi investasi, peningkatan ekspor, pembangunan industri, dan penciptaan lapangan kerja. Keberhasilan diplomasi ekonomi perlu diukur dari manfaat nyata bagi perekonomian nasional, melampaui jumlah kunjungan, forum bisnis, maupun nota kesepahaman yang ditandatangani.
James menyampaikan hal tersebut dalam Rapat Koordinasi Nasional Bidang Luar Negeri Kadin Indonesia 2026 di Hotel Aryaduta, Menteng, Jakarta, Senin (19/10/2026). Ia menekankan bahwa jaringan internasional yang telah dibangun Kadin merupakan modal penting untuk memperkuat kepercayaan dunia usaha global terhadap Indonesia sekaligus membuka peluang bagi pengusaha di seluruh daerah. “Tantangan kita sekarang adalah bagaimana mengubah hubungan yang baik itu menjadi economic confidence dan economic results,” ujar James.
Baca Juga
James Riady Optimistis Kadin Bisa Tarik Gelombang Investor Jumbo ke RI
Menurut dia, agenda berikutnya bagi Kadin Bidang Luar Negeri adalah mengubah hubungan menjadi kepercayaan, kepercayaan menjadi investasi, dan investasi menjadi hasil konkret berupa ekspor, pabrik, teknologi, lapangan kerja, serta kesempatan usaha. Dengan demikian, hubungan internasional memiliki dampak yang dapat diukur terhadap penguatan ekonomi di dalam negeri.
“Jadi kita harus mulai bertanya bukan hanya, berapa banyak kunjungan, forum, MoU? tetapi, apa yang berubah bagi Indonesia karena hubungan yang kita bangun?” tegasnya.
Pertanyaan tersebut, lanjut James, harus dijawab melalui realisasi investasi baru, terbukanya akses pasar bagi perusahaan Indonesia, masuknya teknologi, serta tumbuhnya industri dan pekerjaan. Peluang yang diperoleh pengusaha di daerah juga menjadi bagian penting dari ukuran keberhasilan diplomasi ekonomi.
James menilai, secara keseluruhan hubungan luar negeri Indonesia berada dalam posisi yang baik. Dalam hampir dua tahun pertama pemerintahannya, Presiden Prabowo Subianto dinilainya telah bekerja keras membangun jembatan dengan berbagai pusat kekuatan dunia dan menjaga ruang kerja sama Indonesia di tengah meningkatnya ketegangan internasional.
Baca Juga
James Riady: CEPA Jangan Hanya di Atas Kertas, Uni Eropa Harus Bangun Industri di Indonesia
Ia menyebut hubungan Indonesia dengan Amerika Serikat, Tiongkok, Rusia, India, Brasil, negara-negara BRICS, serta mitra di Eropa, ASEAN, forum APEC, Timur Tengah, dan Afrika sebagai bagian dari modal diplomatik tersebut. Kemampuan Indonesia menjaga hubungan dengan berbagai pihak menjadi semakin bernilai ketika dunia menghadapi perang, proteksionisme, fragmentasi ekonomi, persaingan kekuatan besar, dan perubahan rantai pasok.
“Kita ingin mempunyai hubungan baik dengan semua pihak, tanpa harus menjadi bagian dari pertentangan antara satu pihak dan pihak lainnya. Itu adalah posisi yang harus kita jaga,” kata James.
Namun, ia mengingatkan bahwa hubungan politik dan diplomatik yang baik tetap perlu diikuti penguatan kepercayaan ekonomi. James menyoroti tekanan terhadap pasar modal dan rupiah, serta perhatian investor internasional terhadap isu MSCI, transparansi, tata kelola, dan kepercayaan pasar. Seluruh persoalan tersebut, menurut dia, harus ditanggapi secara serius.
Meski demikian, James menilai tantangan di pasar keuangan perlu ditempatkan secara proporsional. Hubungan diplomatik yang dinilainya tetap kuat menjadi modal untuk membangun keyakinan investor, sementara persoalan transparansi, tata kelola, dan kredibilitas harus mendapat perhatian agar peluang kerja sama dapat diwujudkan.
Baca Juga
James Riady Ungkap Alasan Sektor Kesehatan Kini Jadi 'Incaran' Utama Investor Global
Dalam konteks itu, ia menekankan pentingnya konsistensi Kadin dalam menjalin komunikasi dengan komunitas diplomatik, pemerintah, dan dunia usaha internasional. Hubungan perlu dipelihara secara teratur dan berkelanjutan, termasuk ketika tidak ada kebutuhan transaksi atau agenda bisnis tertentu.
James mencontohkan kegiatan bulanan Monthly Economic Diplomatic yang mempertemukan komunitas diplomatik dengan Kadin serta berbagai kementerian dan institusi Indonesia. Melalui forum tersebut, para duta besar dapat memahami kebijakan, berdialog langsung dengan pengambil keputusan, dan memperluas hubungan dengan dunia usaha.
Menurut James, konsistensi penyelenggaraan kegiatan itu mulai membangun kepercayaan. Ia menilai para duta besar semakin melihat Kadin sebagai salah satu wadah utama untuk berhubungan dengan dunia usaha Indonesia, sementara kemitraan dengan Kementerian Luar Negeri juga semakin berkembang. Ia secara khusus mengapresiasi Grace Salim dan seluruh pihak yang menjaga keberlangsungan kegiatan tersebut setiap bulan.
James juga menyoroti peran komite bilateral dan komite tetap dalam menerima delegasi, menyelenggarakan forum bisnis, melakukan kunjungan, membuka hubungan, dan menindaklanjuti peluang. Sebagian pekerjaan menghasilkan manfaat dalam waktu singkat, sedangkan sebagian lainnya baru menunjukkan hasil setelah berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Karena itu, kesinambungan tindak lanjut menjadi bagian penting dari keberhasilan kerja sama internasional.
Manfaat jaringan tersebut, tegasnya, harus menjangkau pelaku usaha di luar pusat ekonomi nasional. Kadin memiliki jaringan daerah yang dapat menghubungkan peluang internasional dengan kebutuhan investasi, pengembangan pasar, dan peningkatan produktivitas perusahaan di berbagai wilayah.
“Diplomasi ekonomi tidak boleh berhenti di Jakarta, dan tidak boleh hanya dinikmati perusahaan-perusahaan besar,” ujar James.
Ia menjelaskan, pembukaan pasar baru harus disertai dukungan agar pengusaha Indonesia mampu memasuki pasar tersebut. Ketertarikan investor asing perlu dipertemukan dengan peluang usaha konkret di daerah. Sementara itu, kemitraan teknologi harus diarahkan untuk meningkatkan produktivitas perusahaan Indonesia.
James mengapresiasi para ketua umum Kadin daerah yang konsisten mengikuti kegiatan bulanan dan mendukung kerja sama internasional. Keterlibatan daerah dinilainya penting agar hubungan yang dibangun di tingkat nasional benar-benar menghasilkan kesempatan usaha yang lebih luas. “Keberhasilan hubungan luar negeri harus semakin terasa di dalam negeri,” tegasnya.
Lebih jauh, James mengatakan bahwa banyaknya sahabat merupakan kekuatan strategis bagi sebuah negara di tengah dunia yang semakin terpecah. Kekuatan tersebut harus ditopang oleh kepercayaan yang dibangun melalui integritas, konsistensi, kredibilitas kebijakan, serta kesesuaian antara janji dan pelaksanaan.
“Trust itu tidak dibangun dalam satu meeting, dengan satu speech dan dengan satu roadshow. Trust dibangun dari consistency, dari integrity, dari kredibilitas kebijakan,” katanya.
Menurut James, setiap hubungan yang dijaga, persoalan yang diselesaikan, dan mitra yang merasa nyaman bekerja sama dengan Indonesia akan ikut memperkuat kepercayaan terhadap negara. Karena itu, pekerjaan membangun hubungan internasional membutuhkan ketekunan, tindak lanjut, dan kemampuan menyelesaikan persoalan yang dihadapi mitra.
Dalam kesempatan tersebut, James juga mengapresiasi Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie atas keterlibatannya dalam memperkuat hubungan internasional Kadin. Ia menilai Anin telah memberikan perhatian dan energi melalui perjalanan internasional, pendampingan agenda kenegaraan, serta pertemuan dengan pemerintah dan dunia usaha global.
Apresiasi turut disampaikan kepada para wakil ketua umum, pengurus komite tetap dan komite bilateral, staf, sekretariat, serta relawan. James mengingatkan bahwa di balik sebuah kunjungan, forum, atau penandatanganan kerja sama, terdapat rangkaian panjang persiapan, koordinasi, pencarian mitra, penyelesaian masalah, dan tindak lanjut yang sering tidak terlihat oleh publik.
Baca Juga
Dukung Budi Pimpin WHO, James Riady: Saat Indonesia Berkontribusi untuk Dunia
James berharap rakornas menghasilkan sasaran kerja yang jelas dan terukur untuk satu hingga dua tahun mendatang. Prioritas tidak harus banyak, tetapi perlu memiliki arah dan hasil yang konkret bagi Indonesia.
“Mari kita terus menjaga hubungan yang sudah kita bangun. Mari kita terus memperbesar trust terhadap Indonesia. Dan yang paling penting, mari kita convert hubungan itu menjadi hasil nyata bagi Indonesia,” tutup James.
