James Riady Imbau Pelaku Bisnis Gandakan Investasi dan Perdagangan di Indonesia dan Rusia
“Hubungan politik yang kuat harus menghasilkan kerja sama konkret di bidang ekonomi. Kadin menyoroti perluasan pasar, produksi bersama, serta pembenahan pelayaran dan pembayaran.”
JAKARTA, Investortrust.id — Wakil Ketua Umum Koordinator Kadin Indonesia James Riady mengajak pengusaha Indonesia dan Rusia menerjemahkan kedekatan politik kedua negara menjadi peningkatan perdagangan, investasi, pembangunan pabrik, dan penciptaan lapangan kerja. Target menggandakan perdagangan bilateral, menurut dia, membutuhkan keterlibatan langsung dunia usaha serta penyelesaian hambatan logistik, pembayaran, dan sertifikasi.
“Hubungan politik Indonesia dan Rusia cukup kuat. Persahabatan sudah terjalin. Sejarah hubungan itu ada. Sekarang, dunia usaha harus menghasilkan sesuatu yang nyata,” ujar James dalam Indonesia–Russia Business Forum bertema “Made in Indonesia: Doubling Trade and Investment between Indonesia and Russia”, Kamis (15/10/2026).
James menyampaikan pesan tersebut dengan merujuk pengalamannya mengunjungi Vladivostok beberapa pekan sebelumnya, ketika Presiden Prabowo Subianto berpidato pada Eastern Economic Forum sebagai tamu Presiden Rusia Vladimir Putin. Menurut dia, kunjungan itu menegaskan bahwa hubungan baik antarpemerintah perlu diikuti kerja sama ekonomi yang memberikan hasil terukur.
Ia mengatakan, Presiden Prabowo telah memberikan tantangan konkret untuk menggandakan perdagangan Indonesia–Rusia pada periode peninjauan pertama perjanjian perdagangan bebas Indonesia dengan Uni Ekonomi Eurasia atau Indonesia–EAEU FTA. Target tersebut tidak dapat dicapai pemerintah sendirian.
“Hal itu harus diwujudkan oleh orang-orang yang berada di ruangan ini,” katanya di hadapan peserta forum bisnis.
Baca Juga
James Riady: CEPA Jangan Hanya di Atas Kertas, Uni Eropa Harus Bangun Industri di Indonesia
James menilai, momentum penguatan kerja sama kini semakin terbuka. Dalam pidatonya, ia menyebut Indonesia–EAEU FTA telah ditandatangani, Indonesia telah menyelesaikan ratifikasi domestik, dan pemerintah menargetkan implementasinya pada akhir 2026. Kesepakatan itu diharapkan mengurangi hambatan pada ribuan pos tarif sekaligus membuka akses lebih luas bagi perusahaan Indonesia ke pasar Eurasia.
Namun, ia mengingatkan agar pembicaraan tidak kembali berhenti pada besarnya potensi hubungan kedua negara. Setelah bertahun-tahun peluang dibahas, dunia usaha perlu menentukan proyek, produk, dan kemitraan yang benar-benar akan dikerjakan.
“Pertanyaannya sekarang bukan lagi, ‘Apakah ada potensi?’ Kita sudah mengatakan ada potensi selama bertahun-tahun. Pertanyaannya adalah, apa yang sesungguhnya akan kita bangun bersama?” tegas James.
Ia mengidentifikasi tiga prioritas untuk menjawab tantangan tersebut, yakni memperbesar perdagangan, mengembangkan investasi dan produksi bersama, serta memperkuat konektivitas.
Pada bidang perdagangan, James melihat ruang bagi Indonesia untuk meningkatkan penjualan berbagai produk ke Rusia. Produk tersebut mencakup pangan, kopi, hasil perikanan, produk berbasis kelapa sawit, karet, furnitur, tekstil, alas kaki, elektronik, dan berbagai barang lain yang memiliki daya saing.
Akan tetapi, akses pasar melalui perjanjian perdagangan baru merupakan langkah awal. Perusahaan tetap membutuhkan distributor, jaringan ritel, layanan logistik, mekanisme pembayaran, sertifikasi, serta pemahaman mengenai karakter dan tata cara berbisnis di pasar tujuan.
“Akses pasar di atas kertas tidak cukup,” ujarnya.
Dukungan serupa juga diperlukan perusahaan Rusia yang ingin masuk ke Indonesia. Karena itu, forum bisnis perlu menjadi sarana mempertemukan kebutuhan perusahaan dengan mitra yang tepat, sekaligus membantu menyelesaikan persoalan yang menghambat transaksi.
Prioritas berikutnya adalah membawa hubungan kedua negara melampaui kegiatan jual beli menuju investasi dan produksi bersama. James menilai Rusia memiliki kemampuan kuat dalam energi, rekayasa, transportasi, teknologi industri, pertanian, logistik, dan manufaktur maju. Indonesia, di sisi lain, memiliki skala ekonomi, sumber daya, pasar domestik yang besar, serta akses ke ASEAN.
Kekuatan yang saling melengkapi tersebut membuka peluang bagi perusahaan Rusia untuk membangun kegiatan produksi di Indonesia bersama mitra lokal.
“Pertanyaan yang lebih menarik adalah, apa yang dapat diproduksi, dilokalkan, atau dibangun perusahaan Rusia di Indonesia bersama mitra Indonesia?” kata James.
Baca Juga
James Riady Ungkap Alasan Sektor Kesehatan Kini Jadi 'Incaran' Utama Investor Global
Dengan pendekatan itu, Indonesia dapat menjadi lokasi pengembangan industri dan penciptaan nilai tambah. Kemitraan juga dapat berjalan dua arah: perusahaan Indonesia memanfaatkan Rusia dan kawasan EAEU yang lebih luas sebagai basis untuk menjangkau pasar Eurasia.
Menurut James, pola hubungan seperti ini akan menghasilkan kemitraan yang lebih strategis karena melibatkan kegiatan usaha jangka panjang, pengembangan kapasitas produksi, dan keterhubungan antarpasar.
Prioritas ketiga adalah membenahi konektivitas. James mengingatkan bahwa target menggandakan perdagangan harus ditopang pergerakan barang yang efisien dan dapat diprediksi.
Ia mengatakan, Presiden Prabowo dalam kunjungan ke Vladivostok secara khusus menyerukan pelayaran langsung yang terjadwal dan dapat diandalkan antara Vladivostok dan Indonesia. Konektivitas itu perlu didukung kejelasan biaya, asuransi, serta arus muatan dari kedua arah.
“Ini terdengar operasional. Namun, sesungguhnya ini strategis,” ujarnya.
Waktu pengiriman yang terlalu lama, pembayaran yang sulit, ketidakpastian asuransi, serta ketidakpahaman terhadap sertifikasi dapat mengurangi manfaat perjanjian perdagangan. Karena itu, pembenahan jalur pengiriman dan layanan pendukung harus berjalan seiring dengan pembukaan akses pasar.
James menegaskan, Kadin dapat membantu menjembatani kebutuhan tersebut. Keberhasilan organisasi dunia usaha, menurut dia, perlu diukur dari transaksi dan kegiatan ekonomi yang terealisasi, bukan jumlah seminar yang diselenggarakan.
Ukuran itu antara lain jumlah produk baru Indonesia yang masuk ke Rusia, perusahaan Rusia yang mulai berinvestasi atau berproduksi di Indonesia, perusahaan patungan yang terbentuk, serta kenaikan perdagangan bilateral.
“Dan mungkin yang paling penting: kegiatan usaha apa yang akan beroperasi lima tahun mendatang, yang hari ini belum ada? Itulah ukurannya,” kata James.
Ia juga menempatkan hubungan Indonesia–Rusia dalam kerangka keterbukaan kerja sama ekonomi dengan berbagai negara. Indonesia, menurut dia, ingin bekerja sama dengan semua pihak, dan Rusia merupakan bagian penting dari hubungan ekonomi yang luas tersebut.
“Samudra Pasifik seharusnya tidak memisahkan kita. Samudra Pasifik seharusnya menghubungkan kita,” ujarnya.
James berharap pemerintah menyediakan kerangka kerja dan perjanjian perdagangan membuka akses, sementara dunia usaha menindaklanjutinya dengan pengiriman barang, investasi, pabrik, kemitraan, dan pekerjaan baru.
Dengan hasil konkret tersebut, hubungan Indonesia–Rusia diharapkan semakin kuat secara politik sekaligus memberikan dampak ekonomi yang berarti bagi kedua negara.
