James Riady: Manfaatkan Ketidakpastian Global sebagai Momentum Membangun Ekonomi Indonesia
“Sejarah menunjukkan, ekonomi baru tidak lahir pada masa yang tenang, melainkan ketika dunia sedang berubah. Apakah Indonesia siap menjadi pemenang perubahan itu?
JAKARTA, Investortrust.id – Ketidakpastian global tidak boleh dipandang sebagai ancaman semata, melainkan momentum untuk membangun fondasi baru pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih kuat, kompetitif, dan berorientasi jangka panjang. Jika dicermati, dunia tidak hanya ditandai oleh perlambatan pertumbuhan ekonomi, ketidakpastian geopolitik, serta biaya pendanaan yang semakin tinggi. Pada saat yang sama, dunia kedua juga dipenuhi percepatan inovasi teknologi, investasi besar-besaran, dan lahirnya berbagai peluang ekonomi baru.
Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Hubungan Luar Negeri Kadin Indonesia, James Riady pada acara Kadin Diplomatic Economic Breakfast bertema “Beyond Uncertainty: Building Indonesia’s Next Economy” yang digelar di Ruang Graha Sawala, Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Lapangan Banteng, Jakarta, Jumat (10/07/2026). Acara tersebut menghadirkan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto sebagai pembicara utama dan dihadiri sekitar 67 duta besar serta wakil kepala perwakilan diplomatik, para ketua Kadin Daerah (Kadinda), pimpinan Kadin Indonesia, kamar dagang bilateral, dan pelaku usaha.
Dalam sambutannya, James Riady mengatakan, tingginya partisipasi komunitas diplomatik menunjukkan bahwa forum tersebut telah berkembang jauh melampaui sekadar pertemuan bulanan. Selama hampir 20 bulan diselenggarakan secara konsisten, Diplomatic Economic Breakfast telah menjadi wadah yang mempertemukan kalangan diplomatik, pemerintah, pemerintah daerah, dan dunia usaha untuk saling bertukar pandangan, mempererat hubungan, serta membangun pemahaman bersama terhadap dinamika ekonomi global.
“Ini bukan lagi sekadar acara bulanan. Kita sedang membangun sebuah komunitas yang mempertemukan para diplomat, pemimpin pemerintahan, kepala daerah, dan pelaku usaha untuk bersama-sama memahami perubahan dunia serta mencari peluang kerja sama yang lebih besar,” ujar James Riady.
Menurut James, dunia saat ini menghadapi berbagai sinyal yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, ketegangan geopolitik masih tinggi, terutama akibat konflik di Timur Tengah yang terus memicu ketidakpastian di pasar energi global. Harga energi tetap berada pada level tinggi dengan risiko kenaikan lanjutan, sementara banyak negara menghadapi tekanan berupa utang yang besar, pelemahan mata uang, arus keluar modal, serta meningkatnya biaya pembiayaan.
Di sisi lain, dunia juga sedang memasuki fase percepatan revolusi teknologi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Investasi global mengalir deras ke sektor kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), semikonduktor, pusat data, infrastruktur komputasi, dan perusahaan-perusahaan teknologi, sehingga menciptakan konsentrasi modal yang sangat besar pada sektor-sektor tersebut.
“Kita hidup di dua dunia sekaligus. Dunia pertama dipenuhi perlambatan pertumbuhan ekonomi, ketidakpastian geopolitik, serta biaya pendanaan yang semakin tinggi. Namun pada saat yang sama, dunia kedua dipenuhi percepatan inovasi teknologi, investasi besar-besaran, dan lahirnya berbagai peluang ekonomi baru,” katanya.
Karena itu, James menilai tema “Beyond Uncertainty: Building Indonesia’s Next Economy” sangat relevan. Ketidakpastian bukan berarti peluang menghilang, melainkan menuntut semua pihak memiliki pandangan yang lebih jernih, berpikir lebih matang, dan bertindak lebih tegas dalam membedakan gejolak jangka pendek dengan perubahan struktural jangka panjang.
Menurutnya, pertanyaan yang harus dijawab Indonesia bukan lagi sekadar bagaimana mengelola ketidakpastian saat ini, melainkan seperti apa wajah ekonomi Indonesia dalam lima, sepuluh, hingga dua puluh tahun ke depan.
Baca Juga
Ketua Kadin: Diplomasi Ekonomi Harus Berujung Investasi dan Lapangan Kerja
Ia mengemukakan sejumlah tantangan strategis yang harus dijawab bersama, mulai dari mencari sumber pertumbuhan ekonomi baru, memperkuat kepercayaan pasar, meningkatkan daya saing nasional, menarik investasi jangka panjang, hingga memperkuat sektor manufaktur, pangan dan pertanian, perumahan, pariwisata, energi, serta pembangunan sumber daya manusia.
James juga menekankan pentingnya memastikan Indonesia tidak hanya menjadi konsumen dalam revolusi teknologi berikutnya, tetapi juga mampu tampil sebagai investor, produsen, sekaligus bagian penting dari rantai nilai global.
“Pertanyaan besarnya adalah bagaimana Indonesia dapat mengambil posisi strategis dalam transformasi ekonomi dunia, bukan sekadar menjadi pasar, tetapi menjadi pemain utama yang ikut menciptakan nilai tambah,” ujarnya.
James menambahkan, untuk menjawab berbagai tantangan tersebut diperlukan sinergi erat antara pemerintah, dunia usaha, investor, serta komunitas internasional. Karena itu, kehadiran Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dinilai sangat penting mengingat pengalamannya yang panjang di sektor swasta maupun pemerintahan.
Menurut James, Airlangga memahami secara mendalam bagaimana perusahaan mengambil keputusan investasi, menciptakan lapangan kerja, merespons perubahan pasar, sekaligus memiliki pemahaman kuat mengenai kebijakan ekonomi makro dan dinamika pemerintahan.
“Kami ingin mendengar secara terbuka bagaimana Bapak Menko melihat arah ekonomi global, bagaimana Indonesia harus menavigasi berbagai ketidakpastian tersebut, dari mana sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia berikutnya akan datang, reformasi apa yang akan dijalankan, serta bagaimana pemerintah, Kadin, komunitas diplomatik, investor, dan dunia usaha dapat bersama-sama membangun ekonomi Indonesia masa depan,” katanya.
Sebelum paparan Menko Airlangga, Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie dijadwalkan memberikan sambutan. James mengatakan Anindya secara konsisten menegaskan bahwa Kadin tidak hanya berfungsi sebagai representasi dunia usaha, tetapi juga memiliki tanggung jawab memperkuat daya saing Indonesia, memperdalam kemitraan internasional, dan memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan ekonomi nasional dalam jangka panjang.
Menutup sambutannya, James menegaskan bahwa ketidakpastian global justru membuka peluang bagi negara-negara yang mampu melihat perubahan secara lebih jernih, mengambil keputusan secara cepat, dan membangun fondasi ekonomi jangka panjang secara konsisten.
“Dunia memang penuh ketidakpastian. Namun justru di tengah ketidakpastian itulah terbuka peluang bagi negara yang mampu berpikir jauh ke depan, bertindak secara tegas, dan membangun masa depannya mulai hari ini,” tegas James Riady.
Masa depan ekonomi Indonesia tidak ditentukan oleh seberapa besar ketidakpastian dunia, melainkan oleh seberapa berani bangsa ini membangun, berinovasi, dan berkolaborasi untuk menjadikannya sebuah peluang.
