Kadin Gandeng US-ASEAN Business Council, Bidik Lonjakan Ekspor dan Investasi ke AS
Poin Penting
|
WASHINGTON DC, Investortrust.id - Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin Indonesia) resmi meneken kerja sama dengan US ASEAN Business Council sebagai upaya memperbesar akses pasar bagi pengusaha dan investor Indonesia ke Amerika Serikat. Penandatanganan kesepakatan ini berlangsung berbarengan dengan disetujuinya Agreement on Reciprocal Trade antara Indonesia dan Amerika Serikat di Washington DC, Kamis (19/2/2026).
Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie menjelaskan, kerja sama tersebut difokuskan pada upaya meningkatkan volume perdagangan sekaligus investasi antara kedua negara. Menurut Anindya, pasar Amerika Serikat masih memiliki ruang besar bagi produk-produk Indonesia untuk tumbuh lebih agresif.
“Tadi kita ada tanda tangan antara Kadin dan US ASEAN Business Council. Intinya bagaimana kita bisa memperbesar pasar buat para pedagang kita, para investor dari Indonesia, para pengusaha dari Indonesia untuk bisa mengakses pasar di Amerika,” ujar Anindya.
Ia mencontohkan sektor alas kaki sebagai salah satu industri yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Saat ini, nilai ekspor alas kaki Indonesia ke Amerika Serikat baru mencapai sekitar US$ 120 juta. Angka tersebut dinilai masih tertinggal jauh dibandingkan Vietnam yang telah menembus nilai ekspor sekitar US$ 600 juta ke pasar yang sama.
“Vietnam hampir empat sampai lima kali lipat dari Indonesia. Jadi sekarang Indonesia memiliki kesempatan untuk meningkatkan itu semua selama bisa tetap kompetitif,” kata Anindya.
Baca Juga
Tanggapi Agreement on Reciprocal Trade RI-AS, Ketum Kadin: Tarif 19 Persen Sangat Kompetitif
Menurutnya, secara struktur tarif Indonesia sebenarnya cukup kompetitif. Namun, tantangan ke depan adalah meningkatkan skala perdagangan agar mampu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, menciptakan lapangan kerja, serta memperkuat posisi industri dalam negeri. Karena itu, Kadin dalam kerja sama ini memprioritaskan pelaku usaha yang telah aktif melakukan ekspor.
Fokus tersebut mencakup sektor-sektor utama seperti garmen, tekstil, alas kaki, furnitur, hingga elektronik. Meski demikian, Anindya menegaskan bahwa agenda Kadin tidak berhenti pada peningkatan ekspor semata, melainkan juga mendorong masuknya investasi langsung dari Amerika Serikat ke Indonesia.
“Indonesia membutuhkan investasi yang sangat besar, sampai sekitar US$ 60 miliar foreign direct investment. Ini juga salah satu cara untuk kita mendapatkan itu semua,” ujarnya.
Anindya menilai, kerja sama perdagangan dan investasi yang tengah dirancang berpotensi menjadi tonggak bersejarah bagi hubungan ekonomi kedua negara. Ia berharap perjanjian tersebut tidak hanya meningkatkan nilai perdagangan dan investasi, tetapi juga membawa manfaat jangka panjang berupa peningkatan kapasitas dan kualitas tenaga kerja nasional melalui alih teknologi.
“Perdagangan dan investasi ini harus membawa lapangan kerja, membawa pertumbuhan, tapi yang penting juga meningkatkan kapasitas dan kemampuan tenaga kerja kita. Ada alih teknologi, sehingga Indonesia bisa menjadi negara maju yang ekonominya terus bertransformasi ke industri bernilai tambah,” kata Anindya.
Dalam kesempatan yang sama, Kadin bersama US-ASEAN Business Council serta salah satu anggotanya, Apindo, juga menandatangani kerja sama di bidang keberlanjutan atau sustainability. Penandatanganan tersebut mencerminkan pendekatan kolaboratif Kadin yang melibatkan berbagai asosiasi industri.
“Kami datang ke sini bersama empat sampai lima asosiasi. Ada asosiasi mebel, makanan dan minuman, garmen, tekstil, elektronik, hingga kawasan industri. Karena itulah Kadin menjadi umbrella atau rumah besar bagi banyak asosiasi yang bernaung di bawahnya,” pungkas Anindya.
Hadir membersamai Kadin Indonesia dan Apindo, Chief of Investment (CIO) Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara), Pandu Sjahrir.

