PASPI Tegaskan Tidak Ada Fakta Ilmiah Sawit Jadi Penyebab Banjir Sumatra
JAKARTA, investortrust.id - Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) Tungkot Sipayung memberikan penjelaskan mengenai perkebunan kelapa sawit yang dituding menjadi salah satu penyebab banjir bandang di provinsi Sumatra Utara, Barat dan Aceh belum lama ini.
Tungkot menjelaskan, tudingan tersebut mengabaikan fakta ilmiah, dan tidak didukung dengan bukti yang konsisten. Hal ini karena pada periode yang sama, banjir besar juga terjadi di berbagai daerah yang tidak memiliki perkebunan sawit.
“Banjir bandang terjadi di Semarang, Sukabumi, Surabaya, hingga Jakarta, Bekasi, Karawang. Daerah-daerah itu tidak punya sawit. Bahkan banjir serupa juga terjadi di Eropa, seperti Polandia dan Jerman, di China, hingga California,” ucap Tungkot dalam sebuah diskusi di Jakarta, Selasa (10/2/2026).
Baca Juga
Sawit Rakyat Jadi Fokus, BPDP Ungkap Kendala Struktural Peremajaan Nasional
Menurutnya, jika sawit dianggap sebagai penyebab banjir, sulit menjelaskan fenomena banjir bandang di negara dan wilayah yang sama sekali tidak memiliki perkebunan sawit. Fakta ini menunjukkan tidak ada hubungan antara sawit dan banjir.
Sejak lebih dari 20 tahun lalu, Tungkot mengaku telah mendalami isu ini. Dari kajian yang dilakukannya, Tungkot menyimpulkannya tidak ada kaitan antara sawit dengan banjir maupun kekeringan. Ia mengungkapkan, banjir yang terjadi disebabkan karena perubahan iklim dan pemanasan global.
"Karena emisi karbon dioksida dari permukaan ke atmosfer bumi itu meningkat dengan cepat. Sehingga sinar matahari yang masuk ke permukaan bumi terperangkap di situ membuat udara makin panas. Inilah yang membuat akhirnya udara bumi itu bergerak tidak beraturan yang kita sebut dengan anomali iklim," bebernya.
Baca Juga
Presiden Prabowo Sebut Sawit 'Miracle Crop', Penguatan Tata Kelola Jadi Kunci
Selain faktor perubahan iklim secara global, Tungkot juga menyoroti kondisi geologis dan topografi sebagai penentu utama banjir bandang. Ia memberikan contoh di kawasan Pegunungan Bukit Barisan. Lapisan tanah bagian atas di pegunungan itu sangat tipis dan berada di atas batuan cadas yang sulit menyerap air.
“Ketika hujan melebihi ambang normal, air langsung mengalir deras ke bawah. Sawit tidak berada di wilayah ketinggian itu. Di dataran tinggi justru hutan, bukan sawit,” terang Tungkot.

