Impor Semikonduktor Tembus Rp 81,64 Triliun, Menperin: Jadi Alarm Peringatan Ketahanan Industri
Poin Penting
|
BANDUNG, investortrust.id - Ketergantungan Indonesia terhadap impor produk semikonduktor dan komponen elektronik masih sangat tinggi. Berdasarkan data yang dilansir Badan Pusat Statistik (BPS), nilai impor periode Januari–November 2025 US$ 4,87 miliar atau sekitar Rp 81,64 triliun.
Angka tersebut meningkat hampir dua kali lipat jika dibandingkan dengan data importasi semikonduktor pada 2020 lalu, yakni sebesar US$ 2,33 miliar. Impor semikonduktor Indonesia didominasi oleh Taiwan dengan nilai US$ 1,35 miliar dan China sebesar US$ 1,24 miliar, lalu diikuti Korea Selatan, Filipina, Malaysia, Singapura, dan Jepang.
"Kondisi ini menjadi sinyal peringatan bagi ketahanan industri nasional, mengingat semikonduktor merupakan komponen yang sangat krusial dalam berbagai sektor industri strategis," ucap Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita pada acara Indonesia Semiconductor Summit (ISS) 2026 di Bandung, Jawa Barat, Kamis (29/1/2026).
Padahal, menurut Menperin Agus, industri semikonduktor memiliki peran strategis sebagai enabler bagi berbagai sektor prioritas, mulai dari elektronika, otomotif, telekomunikasi, energi, hingga pertahanan dan transformasi digital. Pada sektor elektronik, Indonesia memiliki realisasi produksi ponsel tahunan di kisaran angka 30–60 juta unit.
Selain itu, kebutuhan semikonduktor juga tercermin dari permintaan perangkat elektronik lain seperti laptop, ditargetkan mencapai 1,57 juta unit pada 2026. Di sektor otomotif, penggunaan semikonduktor menjadi semakin krusial seiring meningkatnya kompleksitas teknologi kendaraan, khususnya pada fitur keselamatan, kontrol elektronik, serta sistem penggerak.
Baca Juga
Kaya Pasir Silika, Indonesia Siap Masuk Rantai Pasok Semikonduktor Global
"Produksi kendaraan bermotor Indonesia pada 2025 mencapai 803.867 unit, termasuk kendaraan hybrid dan listrik yang memiliki nilai kandungan semikonduktor hingga tiga kali lebih besar dibandingkan kendaraan konvensional. Oleh sebab itu, kebutuhan akan pengembangan industri semikonduktor terutama chip menjadi semakin mendesak," terangnya.
Lebih lanjut, dalam konteks pengembangan ekosistem industri semikonduktor nasional, Agus Gumiwang menjelaskan, Indonesia saat ini telah memiliki produsen yang telah masuk dalam Global Value Chain, yaitu fasilitas perakitan dan pengujian semikonduktor di Batam (PT Infineon Technologies Batam) serta satu perusahaan desain IC (PT Xirka Dama Persada).
Selain itu, Indonesia juga telah didukung oleh basis industri hilir, termasuk layanan manufaktur elektronik (Electronic Manufacturing Services/EMS), Original Equipment Manufacturer (OEM), serta industri otomotif yang sudah mapan.
"Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun tahapan fabrikasi wafer (foundry) belum banyak berkembang di dalam negeri, Indonesia memiliki fondasi ekosistem yang dapat diperkuat secara bertahap melalui pendalaman industri hulu, penguatan kapasitas desain, serta integrasi yang lebih erat antara industri semikonduktor dengan industri elektronik dan otomotif nasional," papar Menperin.

