Hilirisasi Bauksit Buka 14.700 Lapangan Kerja, Legislator Dorong Industrialisasi juga Dipercepat
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Kebijakan hilirisasi mineral nasional terus menunjukkan dampak nyata terhadap penciptaan lapangan kerja di dalam negeri, seiring pengembangan proyek pengolahan dan pemurnian bauksit yang meningkatkan nilai tambah sumber daya alam (SDA) sekaligus memperluas serapan tenaga kerja formal dan terampil.
Dampak tersebut mendapat apresiasi dari anggota Komisi XII DPR Eddy Soeparno yang menilai hilirisasi sumber daya alam mineral telah menjadi instrumen strategis untuk mendorong penciptaan lapangan kerja berkualitas dan berkelanjutan di Indonesia.
“Kami menyambut positif kebijakan hilirisasi karena dampaknya sangat konkret terhadap penciptaan lapangan kerja, terutama tenaga kerja formal yang terampil dan memiliki nilai tambah tinggi,” ujar Anggota Komisi XII DPR RI Eddy Soeparno dikutip Selasa (27/1/2026).
Baca Juga
Menurut Eddy, salah satu contoh proyek yang memberikan kontribusi signifikan terhadap pembukaan lapangan kerja berasal dari pengembangan ekosistem pengolahan dan pemurnian bauksit–alumina–aluminium terintegrasi yang dijalankan oleh Grup MIND ID, holding industri pertambangan milik negara.
Berdasarkan dokumen pra-feasibility study (PFS) yang disusun oleh BPI Danantara bersama Satuan Tugas Hilirisasi, proyek strategis tersebut memiliki nilai investasi sekitar Rp 60 triliun dan diproyeksikan mampu menyerap hingga 14.700 tenaga kerja baru, baik pada fase konstruksi maupun saat operasional.
Ia menilai investasi berskala besar ini berpotensi menimbulkan efek berganda terhadap perekonomian dan ketenagakerjaan nasional. Selain menyerap tenaga kerja langsung di sektor industri pengolahan, proyek tersebut juga diperkirakan mendorong pertumbuhan lapangan kerja di sektor-sektor pendukung di sekitarnya. “Investasi seperti ini akan menggerakkan ekosistem ekonomi di sekitarnya, mulai sektor logistik, jasa pendukung, hingga UMKM lokal,” katanya.
Eddy menambahkan bahwa urgensi penciptaan lapangan kerja melalui hilirisasi semakin relevan di tengah tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor aluminium. Kebutuhan aluminium nasional saat ini mencapai sekitar 1,2 juta ton per tahun, dengan sekitar 54% masih dipenuhi dari luar negeri.
Baca Juga
Dipimpin Timah (TINS) dan Antam (ANTM), Emiten MIND ID Menutup 2025 dengan Kinerja Kuat
Di sisi lain, Indonesia memiliki potensi sumber daya bauksit yang besar dengan total sumber daya sekitar 7,78 miliar ton dan cadangan sekitar 2,86 miliar ton. Potensi tersebut dinilai menjadi fondasi penting untuk membangun industri aluminium nasional yang kuat, berdaya saing, dan mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar secara berkelanjutan.
Lebih lanjut, Eddy menegaskan bahwa kebijakan hilirisasi perlu terus didorong hingga ke tahap industrialisasi produk turunan dan barang jadi. Dengan strategi tersebut, manfaat ekonomi dan sosial dari hilirisasi diharapkan dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
“Ketika pemrosesan dan industrialisasi dilakukan di dalam negeri, lapangan kerja tercipta, nilai tambah tinggal di Indonesia, dan manfaat ekonominya dapat dirasakan langsung oleh tenaga kerja dan masyarakat yang lebih luas,” pungkasnya.

