Tak Hanya Nikel dan Timah, Simbara Juga Direncanakan Cakup Bauksit hingga Tembaga
JAKARTA, investortrust.id - Pemerintah memperluas implementasi sistem informasi mineral dan batu bara (Simbara) dengan menambah dua komoditas, yaitu nikel dan timah.
Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan, Isa Rachmatarwata menyampaikan, perluasan ini dilakukan karena nikel dan timah memiliki peran yang semakin strategis dalam mendukung perekonomian nasional maupun global.
“Melanjutkan keberhasilan Simbara untuk komoditas batu bara, hari ini kita akan mulai memperluas Simbara untuk nikel dan timah yang perannya semakin strategis. Sebagai catatan, Indonesia adalah salah satu produsen nikel dan timah terbesar di dunia,” kata Isa di kantor Kementerian Keuangan, Senin (22/7/2024).
Tak berhenti pada tiga komoditas tersebut, Isa mengatakan bahwa di tahun-tahun yang akan datang, pemerintah akan terus mengembangkan dan memperbaiki Simbara, termasuk untuk komoditas lainnya seperti bauksit, emas, dan tembaga.
Baca Juga
Implementasi Simbara Bikin Negara Raup Penerimaan Rp 7,1 Triliun
“Hingga saat ini, Simbara telah berhasil menyelaraskan 10 sistem independen yang tadinya tersebar di 6 Kementerian/Lembaga dan memberikan beberapa dampak positif sebagai berikut. Yang pertama, kita sudah bisa mewujudkan layanan satu pintu melalui single data entry,” papar Isa.
Kemudian yang kedua, ketersediaan satu data minerba yang andal. Ketiga, pengawasan menjadi lebih terpadu. Keempat, implementasi DMO dan hilirisasi minerba menjadi lebih efektif. Kelima, pencegahan fraud melalui risk profiling terus bisa ditingkatkan.
“Dan yang keenam, pencegahan illegal mining dan penghindaran pembayaran dan penyetoran hak-hak negara dapat kita terus tingkatkan kualitasnya,” ujar dia.
Lebih lanjut Isa memaparkan, sejak tahun 2020, Kementerian Keuangan menginisiasi integrasi proses bisnis dan sistem di antara Kementerian/Lembaga dalam rangka pengawasan peningkatan pelayanan dan juga optimalisasi penerimaan negara.
Baca Juga
Rencana Prabowo Bentuk Badan Penerimaan Negara Sangat Ideal, Asal..
Pada tahun 2022, Kemenkeu melakukan launching Simbara untuk pertama kalinya. Pada waktu itu, Simbara digunakan untuk menata pengelolaan proses pengusahaan batu bara. Simbara kemudian menempuh perjalanan dan evolusi secara terus-menerus.
“Di tahap pertama, pada tahun 2021, integrasi difokuskan pada proses bisnis penjualan ekspor komoditas batu bara yang melibatkan Kementerian ESDM, Kementerian Perdagangan, dan Kementerian Keuangan yang pada waktu itu adalah LNSW, Direktorat Jenderal Bea Cukai, dan juga Direktorat Jenderal Anggaran,” terang dia.
Sedangkan di tahap kedua, pada tahun 2022, setelah diluncurkan, dilakukan penambahan integrasi proses bisnis untuk perizinan berlayar dari Kementerian Perhubungan pada 38 pelabuhan dan perluasan untuk penjualan batu bara di dalam negeri.
Kemudian di tahap ketiga, di tahun 2023, dilakukan integrasi penuh seluruh 57 pelabuhan yang melayani perkapalan dan pelayaran minerba, khususnya batu bara dengan menghubungkan sistem Inaportnet pada Kementerian Perhubungan dengan Simbara.
“Dan selanjutnya pada tahun ini, kita melakukan penambahan integrasi sistem SINAS di Kementerian Perindustrian untuk hilirisasi komoditas nikel dan timah yang mencakup proses bisnis hilirisasi e-smelter,” pungkas Isa.

