Kendaraan Listrik Tumbuh Pesat, Tantangan TKDN dan Komponen Lokal Masih Jadi PR
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Pertumbuhan kendaraan listrik (electrical vehicle/EV) di Indonesia membuka peluang besar bagi industri otomotif, tetapi di saat yang sama memunculkan tantangan serius terkait tingkat komponen dalam negeri (TKDN). Ketergantungan pada impor baterai dan komponen utama masih menjadi pekerjaan rumah (PR) besar pada 2026.
Pengamat otomotif Yannes Martinus menilai ekspansi EV saat ini belum sepenuhnya sejalan dengan penguatan industri hulu dalam negeri. Menurutnya, peningkatan volume produksi belum otomatis diikuti oleh kemandirian rantai pasok lokal.
Baca Juga
BYD dan Denza Kuasai 57% Pasar Mobil Listrik Nasional, Ini Model Paling Favorit
“Secara penjualan EV kita tumbuh, tapi secara struktur industri kita masih rapuh. Komponen kunci, seperti baterai dan sistem penggerak masih didominasi impor,” ujar Yannes kepada investortrust.id, Sabtu (3/1/2026).
Pemerintah telah menetapkan target TKDN minimum untuk kendaraan listrik agar bisa menikmati insentif. Namun, implementasi di lapangan dinilai belum merata, terutama bagi pemain baru yang masuk pasar Indonesia.
Yannes menekankan pentingnya konsistensi kebijakan untuk mendorong investasi komponen lokal. Tanpa kepastian jangka panjang, industri pendukung sulit berkembang dan berisiko hanya menjadi perakit.
Selain itu, tantangan lain datang dari kesiapan sumber daya manusia (SDM) dan teknologi manufaktur. Industri lokal masih membutuhkan transfer teknologi agar mampu bersaing dalam ekosistem EV global.
Baca Juga
Purbaya Sebut Belum Terima Proposal Soal Insentif Mobil Listrik
Di sisi lain, meningkatnya minat investor asing menunjukkan Indonesia tetap menarik sebagai basis produksi EV di kawasan. Namun, manfaat ekonomi maksimal baru akan tercapai jika rantai nilai domestik diperkuat. “EV seharusnya tidak hanya soal angka penjualan, tapi juga industrialisasi. Kalau TKDN tidak naik signifikan, dampak ke ekonomi nasional akan terbatas,” tegas Yannes.

