IESR Klaim Harga Listrik EBT Bisa Murah Asal Dapat Dukungan Kebijakan Pemerintah
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Institute for Essential Services Reform (IESR) menyebut harga listrik yang dihasilkan pembangkit berbasis energi baru terbarukan (EBT) bisa menjadi murah dan ekonomis seandainya mendapatkan dukungan kebijakan dari pemerintah.
Manajer Program Transformasi Sistem Energi IESR Deon Arinaldo menjelaskan, selama ini PLTU batu bara dianggap reliable dan memiliki harga lebih murah ketimbang pembangkit EBT dikarenakan adanya kebijakan yang mendukung energi fosil tersebut.
“PLTU masih dianggap reliable kan karena masih ada kebijakan yang mendukung, yang seolah-olah membuat PLTU bisa terus-menerus menghasilkan listrik yang reliable murah. Tapi kan risikonya padahal dicover oleh subsidi pemerintah atau kebijakan pemerintah melalui DMO,” ungkap Deon dalam media briefing di Jakarta, Kamis (27/11/2025).
Menurutnya, perbandingan biaya antara pembangkit fosil dan EBT selama ini tidak sepenuhnya apple to apple karena keberadaan berbagai intervensi kebijakan, terutama yang menguntungkan PLTU batu bara. Tanpa kebijakan pendukung, menurutnya, PLTU tidak serta-merta lebih murah maupun lebih reliable dibandingkan teknologi energi terbarukan.
“Nah kalau kita head-to-head membandingkan, teknologi saja tanpa ada kebijakan, untung sebenarnya (pakai EBT). Tapi kalau dengan DMO, ya memang dari sudut pandang PLN malah menjadi rugi, karena kita harus bangun PLTS untuk mengganti kompensasi energi yang hilang dari PLTU,” jelas Deon.
Baca Juga
PLN EPI Pacu Pengembangan LNG 'Midstream' untuk Tekan Biaya Bahan Bakar Pembangkit
Dia juga menyoroti bahwa tantangan serupa terjadi pada pemanfaatan geothermal. Menurutnya, risiko pengembangan panas bumi sangat tinggi karena proses pengeboran yang padat modal. Pengeboran hingga kedalaman 3 kilometer memerlukan peralatan mahal, serta biaya operasi yang tidak kecil.
“Kalau kita mau pakai geothermal pun, ada risiko yang harus diatasi dulu dengan kebijakan. Kalau tidak diatasi, ya head to head mahal geothermalnya,” ujarnya.
Kendati demikian, Deon menambahkan bahwa teknologi advanced geothermal system dapat mengurangi sebagian risiko tersebut karena tidak lagi memerlukan pencarian reservoir secara konvensional.
Dia menerangkan, asal analisis permukaan menunjukkan potensi temperatur yang cukup dan tersedia kebutuhan fleksibilitas untuk penyimpanan energi, risiko dapat ditekan sehingga biaya bisa menjadi lebih rendah. Namun, kuncinya tetap pada kebijakan pemerintah yang mampu meng-address risiko tersebut.

